Minggu, 20 Desember 2009

Mengemis Bapak Bos

"Uger... kamu salah hari. kenapa mesti kesini pada hari ini. Pak Obit tidak bakalan kasih kamu duit". Uger kecil hanya terdiam mendengar jawaban dari salah satu staff kantor Pak Obit. Ia sedih dan tertunduk diam. Tangan kecilnya meraih kantong kain yang ada di sisi kanan. tapi ia tidak mendapatkan 3 lembar uang kertas. Yang tersisa hanyalah 2 keping koin lima ratusan. padahal jalan yang harus ia tempuh sekitar 15 kilometer untuk bisa mencapai kantor Pak Obit. "Kapan Bapak datang ke kantor, Mbak?" " Wah, aku tidak tahu , Ger. Ia orang yang tidak bisa di tebak." "Coba Lusa" lanjutnya. " tapi aku sudah tidak punya cukup uang , Mbak. Ibu sakit." Mbak Staff itu hanya diam sambil menarik nafas panjang. Ngiris hatinya menyaksikan anak kecil yang ada di depannya. Anak Pak Obit, darah daging bosnya sendiri. Yang lahir dari pacar simpanan. Bahkan untuk meminta uang penyokong hidup, ia nampak bagai pengemis. Hari ini adalah Uger, mungkin besok omi.. anak yang lain dari pacar yang lain.

Kamis, 30 Juli 2009

Hari ini aku diam

Ha..ha...ha... Hampir semua teman-temanku berceloteh dan bergunjing ria. entah itu bergunjing atau apa. tapi yang pasti aku hanya sempat merekam pembicaraan mereka di sela-sela head set yang kupasang ditelingga. Antara lagu dan makna pembicaraan. Tapi yang pasti topik pembicaraan mereka tak jauh dari seputar having sex atau yahhh ML lah. akh, bodo amat... tapi apa ya emang bodo amat. Pikiranku tidak biar berlalu dari kata bodo amat. aku mengikuti alur bodo amat itu dengan pikiran yang terbang melayang sampai kemana-mana.....anjrittttt. Udah deh. Mending aku diam, daripada khasanah itu muncul lagi di benakku dan rasa makin merendah saat remembering mode on lagi. Ukh

Rabu, 25 Maret 2009

Miss,aku bosen...,TeriakOwen.Ia menyepakkan bubur putih yang ada dihadapannya. Mulut nya merengut sambil berkomat-kamit. Kenapa,Wen?,'.Miss Janet kembali bertanya. Nggak enak...gigiku sakit. Miss Janet mengeser lunch box itu dan duduk dekat Owen.Ia tahu anakkecilitu butuh lebih dari sekedar bubur buatan sang mama.

Rabu, 17 Desember 2008

Tanpa kaki

Sartimin, it's only his simple name. Working hard through his hard time. He even doesn't know how to dig his earn, but he knows how to deal with this life. This plump man is stronger than boxers or wrestlers. He is awesome and great because he faces everything with his two powerful hands minus two weak legs

Jumat, 24 Oktober 2008

Mawur

Polemik campur bawur..uni tas ini kok ga teratur

Selasa, 21 Oktober 2008

Mesin penghembus angin

"Yan, lem biru aja...lempar beli yang baru, ha..ha..ha...", seru Mbak Oki pada Yanti yang sedang terlihat sangat sebal dengan kipas anginnya. Bagi Yanti, sore itu adalah puncak kegeramannya pada alat penghembus angin itu. Bagaimana tidak? Ia sudah mencoba memperbaikinya berkali-kali, menepuk-nepuk "pantat"nya agar berhenti mengeluarkan suara decitan dan mau berputar, tapi kali itu sang mesin tetap ngambek dan tidak mau bekerja sama dengannya. Yanti yang terlihat kelelahan dari kantor, terlihat makin payah dengan masalah kipas angin itu. Gadis jawa itu memang sudah lama bersahabat dengan sang kipas, sekitar dua tahun. Dan selama itu mereka adalah pasangan simbiosis menguntungkanisme. Karena walaupun saling membutuhkan, Yanti lebih sering mengeruk keuntungan dari mesin berbaling-baling itu. Ada sedikit hal yang cukup mengelikan. Yanti dan kipas angin itu masih mau berdamai selama tiga minggu sebelum mesin itu menunjukkan tanda-tanda pemberontakan. Ia mulai berdecit seperti tikus kejepit. Kala itu hati Yanti sudah mulai menebak ketidak beresan itu. Tapi Ia berusaha merayu sang mesin dengan membuka kap penutup "pantat" dan meniup-niup kotoran yang mungkin menyelip diantara kabel-kabel kecil. Saat decitannya mulai memekakkan telingga, Yanti berusaha menepuk-nepuk kap penutup mesin. Aneh bin ajaib, hanya dengan "action" ringan itu, sang baling-baling mau berputar kembali dengan wajar. Yanti terliat girang dan bakal memuji benda itu berkali-kali. Sebagai rasa hormat, setiap tiga hari sekali, ia akan membersihkan benda itu dengan lap basah. Saat ia mengelus benda itu, hilang akal, kadangkala ia harus bercakap-cakap dengan benda itu. "Le, mbok nyala ya, Aku ndak punya uang untuk mengirimmu ke tukang reparasi. Cah bagus manut sama aku ya”.“Lu kayak orang gila, Yan.”, Celetuk Mbak Oki. “Sst, diam kau... nanti ngambek lagi temanku ini. Aku ini baru merayu si kipas ini!. jawab Yanti dengan logat Batak yang dibuat-buat. Mbak Oki hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat sikap Yanti. “Kalau direparasi habis berapa ya, Mbak?” tanya Yanti pada Mbak Uut, teman kosnya yang lain. ”Ha..ha..ha. mending beli yang baru, Yan. Ongkos reparasi jaman sekarang hampir sama dengan harga kipas angin yang baru. Udah deh… bener tu kata Mbak Oki. lem biru aja!”, jawab temannya yang jauh lebih tua itu. Yanti hanya merasa sedikit gondok dengan jawaban-jawaban dan celotehan teman-teman ngobrolnya. Tapi dirasa-rasa, usul teman-temannya itu memang benar. Walaupun Ia sudah berusaha membuka mesin kipas angin itu dan memperbaiki dengan sebatas kemampuannya saja, tetap saja kipas angin itu ngambek. Saat ini ia sudah merasa kasihan mendengar tangisan ngeak-ngeok teman sejatinya. Ia sudah berjasa menemaninya di saat hawa Jakarta tidak bersahabat atau di kala ia kehabisan obat nyamuk. Alat ini sedikit banyak telah membantunya mengusir hewan-hewan bersayap dan bermoncong bayonet itu, Yanti hanya mampu memandangi kipas angin itu selama beberapa waktu. Ia tidak lagi mampu menolong sahabat baiknya itu. Kini tubuh besi kipas itu tidak berpakaian kap lagi. Mesinnya sudah mengangga terbuka. Untuk untuk reparasi terakhir ini Yanti tidak mampu mengembalikannya kemabali ke bentuk semula. Hanya sekrup-sekrup kecil dan sebatang obeng berujung kembang yang terserak di lantai. Kipas angin sayang, kipas angin malang. Maaf sahabat, aku harus mencari pengantimu. Selamat tinggal.

Selasa, 23 September 2008

Pencitraan Nabi

Air yang memenuhi danau itu terlihat keruh. Bertambah hari bertambah menjijikkan. Bagaimana tidak. Semenjak pusat pembuangan sampah di desa sebelah ditutup, orang-orang kampung mengalihfungsikan danau itu menjadi kloset kotoran rumah tangga. Dari sampah organik hingga sampah plastik semuanya menjadi satu. Kejijikan sudah berbaur mesra di dalam danau itu. Bau air alami sudah tidak tercium lagi. Yang ada hanyalah bau bacing air danau dan hewan-hewan pengurai tak bertulang pasti sedang mengurai sampah. Muak aku melihatnya dan beberapa kali aku meludah. Nyamuk-nyamuk bernyanyi dalam kebebasan. Rasanya dua kompi pasukan nyamuk terus menyerang kampung dengan ganasnya. Entah obat nyamuk jenis apa yang bisa membasmi habis mereka. Hewan bersayap itu memiliki bayonet yang menghiasi setiap moncong mereka. Benar-benar tajam menusuk kulit dan serangan itu pasti meninggalkan bintik-bintik merah yang membekas. Gatal sekali rasanya. Totol-totol merah itu sudah melukai etika bersolek kaum perempuan yang tinggal di desa itu. Kini, para hawa tidak lagi terlihat memukau dan mempesona. Aku tetap duduk jongkok di pinggir danau.Tidak ada bale kecil disekitar air berwarna hijau tua itu. Aku diam tegar dibawah hentakan sang raja siang. Tidak ada tabung oksigen yang bisa mengantikan udara anyir ini. Kepalaku terasa pening untuk membedakan bau sampah dan bau kandang sapi Pakde Suwito. Aku mencoba bertahan sejenak. Memikirkan kembali keinginan untuk meninggalkan kampung. Kampung ini tempat terbaikku. Hal inilah yang menghidupkan kebimbangan di dalam fuadku. Sanubariku bertarung antara kebencian meninggalkan daerah tempat aku dibesarkan dan asa untuk mencari lembar-lembar kertas berharga yang bisa kupakai untuk membayar hutang-hutang bapak. Aku benar-benar kesulitan untuk membuat keputusan. Rasa iba pada emak seakan-akan menahan kakiku untuk tidak melangkah. Sekali aku menetakkan kakiku ke tanah dan maju sepuluh langkah saja, itu berarti ucapan selamat jalan yang emak ucapkan subuh tadi benar-benar berlaku untukku. Bagaimana dengan Emak? Siapakah pembelanya nanti, terutama saat ia mengalami masa-masa sulit. Umur emak memang baru saja berkepala empat, tapi raganya yang ringkih cukup membuatku merasa khawatir. Dik Drajat dan si bungsu Endah belum cukup dewasa menjaga ibu tuaku. Pikiran mereka masih terlalu muda. Tetapi apapun yang terjadi, aku memang harus pergi. Bapak memang hebat. Ia begitu jagoan mewariskan berlipat-lipat hutang pada emak, aku, Dik Drajat, dan si bungsu Endah. Bapak meninggal lima belas hari yang lalu karena terlalu kaget melihat surat kecil yang dikirim Pak Usman, kurir desa, ke rumah kami. Sepucuk surat yang berisi peringatan kalau bapak harus segera melunasi hutang-hutangnya yang bernilai. Nilai yang bisa untuk membeli sebuah motor baru buatan Jepang. Matanya terbelalak waktu itu dan mulutnya menganga lebar seperti hendak menerkam ayam panggang yang masih utuh. Tangannya yang hitam dan kasar menahan keras didadanya. Ia bertahan antara hidup dan mati selama beberapa detik. Dadanya yang bergerak naik turun menandakan kalau ia berusaha menahan sisa-sisa nafasnya. Sebuah perjuangan terakhir bapak di jagat nyata ini. Bapak mengadaikan sawah yang hanya sepetak ke bank desa. Ia mengambil jangka waktu dua tahun untuk bisa melunasinya. Tetapi rentan waktu yang dijanjikan tetaplah tidak cukup untuk mengumpulkan uang tebusan. Entahlah kenapa bapak tega mengadaikan satu-satunya harta termahal keluarga kami. Ia memakai uang gadai itu untuk kesenangan pribadi. Kartu gaple domino selalu menjadi teman istimewanya tiap selasa dan kamis malam. Dan bapakku begitu menikmati permainan judi itu dengan teman-temannya. Bukankah seharusnya bapak bisa menikmati waktu gelap dengan emak? Tapi kenapa ia malah menikmati malam dengan permainan konyol itu. Bapak ternyata benar-benar kalah dengan bisikan makhluk bertanduk dua, berwajah merah membara. Mula-mula ia menaruh uang sebesar sepuluh ribu saja di meja judi, tetapi kemenangan-kemenangan kecilnya benar-benar mampu mengiringnya pada taruhan yang semakin membengkakkan dompet. Bapak menjadi gila harta. Entah aku harus merasa bersukacita atau berdukacita atas kematian sesepuh lanang di rumahku itu. Aku tidak bisa membedakan dua rasa yang bertarung di dalam jiwaku. Rasa kesal semakin menggunung tatkala lawan main bapak di meja domino selalu datang menagih hutang. Kasihan emak. Pancang pembatas antar desa terlihat makin jelas di depan mataku. Aku begitu awas menatap benda itu. Pemancang keras dari batu itu terlihat mengajakku berbicara dan melambaikan tangan. Ia menarikku dengan keras dan memaksaku untuk segera melewati garis pembatas desa. Aku merasa terseret keras ke arahnya. Apapun yang terjadi aku memang harus melewatinya dan berlari dengan sangat cepat. Aku tidak ingin menoleh lagi ke belakang karena magnet kampung terlalu kuat untukku. Keputusanku memang paling tepat walaupun cukup berat. Semuanya untuk emak. Pagi-pagi kereta Progo sudah sampai di stasiun Jatinegara. Sinar matahari pun belum berani melelehkan embun-embun kota. Hiruk pikuk ibukota yang biasanya kulihat di layar kaca sama sekali belum kutemui di stasiun besar ini. Bau metropolitan memang belum menusuk-nusuk saraf-saraf hidungku. Tapi gembel-gembel ibukota sudah nampak jelas bergelimpungan di sepanjang selasar stasiun. ________ …________ Aku sudah ada di Jakarta. Pikiranku mulai bekerja keras. Ketakutan mulai mencuri di dalam jiwa kelakianku. Pikiranku sedikit limbung dan tidak tahu apa yang akan kulakukan. Walaupun demikian, hari itu aku sudah bertolak dari garis start untuk bertarung mengalahkan dilema hati. Sekali bertolak, pantang untuk kembali ke garis start lagi. Aku harus memenangkan pertandingan hidup kali ini. “Aku harus tanya pada siapa?”, ujarku sedikit berbisik. Aku memang tidak memiliki siapapun di kota besar ini, kecuali Surip yang bekerja di sebuah pabrik molding di dekat Pondok Gede. Hari ini aku berniat untuk mengunjungi pondoknya. Keyakinanku kali ini sedang mengiringku ke arah sana. Secarik kertas bertuliskan alamat lengkap Surip sudah ada dalam genggamanku. Itulah modal terbesar yang aku miliki saat ini. Sebelum langit memerah lagi dan matahari menutup mata, aku harus menemukan rumah Surip, janjiku dalam hati. Aku tidak memiliki pilihan lain kecuali harus tetap mencari pekerjaan. Kalau langkah nekat ini tidak kulakukan emak akan tetap diburu penjahat-penjahat domino itu Benar. Pekerjaan baru menjadi seorang pesuruh kantor memang kudapatkan. Surip memang baik. Ia mengenalkanku pada bosnya. Sahabatku itu meyakinkan atasannya kalau aku pasti bisa diandalkan untuk menganti posisi OB yang sedang sakit. “Apa aku bisa percaya kamu?”, tanya Mr. Kenji dengan logat yang mengelitik hatiku. Aku langsung mengangguk sambil sedikit tersenyum. Kurasa aku harus belajar bahasa orang sakura ini sedikit demi sedikit. Mr. Kenji hanya mengangguk-angguk saja. Akhirnya ia memberiku kesempatan untuk menjadi jonggos kantor. “Kerja yang jujur, harus telaten. Kowe harus tekun ya, le!”, nasehat emak beberapa waktu yang lalu saat aku berpamitan merantau. Aku ingat betul wajah emak yang basah karena airmata saat aku berpamitan pada sesepuh perempuan itu. Ia berniat menahan kepergianku, tapi emak tetap tidak berdaya.Kehidupan keluarga kami memang harus ditata ulang. Dibenahi. Prihatin. Itu yang kulakukan selama dua tahun pertama di kota besar ini. Ada saja yang selalu membuatku harus mengelus dada. Dikomplain para staf kantor adalah hal biasa yang selalu diterima para jongos, termasuk aku. Pernah salah satu sekretaris direktur menuduhku mencuri handphone keluaran terbaru miliknya. Tuduhan yang tak terbukti karena aku memang tidak melakukannya. Prihatin dalam hal makanan dan sandang masih bisa kulakukan, tetapi cercaan dari orang-orang berduit benar-benar menusuk kalbuku. Berat sekali beban yang harus bertengger di punggungku. Badanku terasa makin kurus saja. Aku tidak berjalan dengan tegak ketika mendaki gunung pengharapan. Saat aku naik gunung itu, kerikil-kerikil yang rapuh akan menyeretku jatuh dan tubuhku menghantam tanah bawah lagi. Musim penghujan sudah kulewati tiga kali. Panas matahari dan langit yang menghitam mendung datang silih berganti. Rasanya aku sudah menganti kalender di kamarku tiga kali. Dan kali ini kalender keempat yang masih baru. Hutang emak sudah habis. Senyum emak sudah mulai mengembang. Bahu emak sudah bisa tegap kembali dan ia bisa menanak nasi dengan lauk yang lebih lengkap dari sebelumnya. Kini, Drajat dan Endah mulai lebih berani menatap masa depan. Lega sekali rasanya karena aku sudah tidak memerlukan tinta merah lagi untuk melingkari angka-angka kalender. Angka pengingat tentang masih berapa banyak tenggat waktu pelunasan hutang bapak. _____________000______________ “Mas, ini kopinya.”, Arum mengagetkan lamunanku. Baru saja aku memutar waktu mengingat masa silam. Masa dimana kesulitan menghujamku dengan keras. Tapi bukankah kesulitan itu sudah menempaku menjadi seorang Remboko yang kuat? Lututku sudah tidak semerah sebelumnya karena gunung kesuksesan yang kudaki kini tidaklah seterjal dulu. Mr. Kenji menaruh kepercayaan yang besar padaku, Setidaknya aku bukan jongos rendahan lagi sekarang. Menjadi pribadi yang dipercaya oleh seorang expatriate Jepang selalu membawaku pada ucapan syukur yang besar. Benar kata emak, kejujuran dan ketekunan membawaku kepada sebuah kehidupan yang lebih cemerlang. Makan di restaurant franchise level dunia atau tidur di kasur yang berbusa sudah bisa kunikmati. Ternyata kasur-kasur itu benar-benar empuk, jauh dari ambenku dulu. Kuteguk kopi panas beraroma jahe itu. Tangan Arum benar-benar lihai meramu kopi dengan jahe bakar ke dalam cangkir hijau favoritku. Cangkir yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku. Benda mati itu tidak akan pernah kutukar dengan apapun juga. Kalbuku menyeret tubuh dan kakiku ke beranda samping tempat dimana burung bermulut manusia itu selalu menyapaku dengan ucapan yang selalu sama dan berulang. Si Beo yang kubeli dua bulan yang lalu. Aku menatap tiap helai bulunya yang benar-benar hitam. Beberapa saat kemudian senyum mengembang di mulutku. Geli sekali rasanya melihat burung itu yang sudah berlatih keras merangkai kata di dalam mulutnya. Seekor burung yang selalu kuimpikan sejak dulu dan baru kali ini aku berhasil memilikinya. Pikiranku kembali terbang pada almarhum Bapak. Haruskah aku marah pada beliau? Kali ini aku harus menjawab tidak. Bukankah kisahku hampir sama dengan Yusuf, tokoh relijius masa lampau yang dibuang saudara-saudaranya menjadi budak. Haruskah Yusuf tetap marah pada saudara-saudaranya itu? Sepertinya ia menyadari bahwa pada akhirnya ia menjadi orang yang paling berguna untuk menolong keluarganya yang sedang kelaparan. Akupun juga tidak akan marah pada bapak. “Rum, minggu depan kita pulang ke Jogja.”, ujarku sambil menepuk mesra perempuan yang sedang berbadan dua itu. “Kenapa?”, tanyanya. “Kita boyong emak ke Jakarta. Dia berhak merasakan hidup di tempat yang lebih baik. Setidaknya dia juga yang akan mendampingimu merawat thole kecil kita.”. Wanita berlesung pipit itu tersenyum hangat. Aku begitu bahagia memandangnya walaupun badannya kini sudah membengkak. Aku begitu bahagia karena dari rahimnya aku akan segera mendapatkan Remboko kecil yang kuat.

Senin, 08 September 2008

Watch Out Your Belonging

“Aduh…apes deh. Mana itu isinya catatan penting lagi. Huh…” Itu adalah kalimat kekecewaan yang meluncur dari mulut Bu Ratna, teman sejawat Nduk. Mulut Bu ratna terus saja menggumam kesal. Hatinya benar-benar dongkol. Ia hanya bisa duduk lunglai di halte bus Grogol di depan universitas terkemuka di Jakarta Barat. Itu adalah kisah Bu Ratna yang kehilangan tas jinjingnya di dalam salah satu bis Kopaja nomer 95. Sebenarnya kejadian ini hanya sebuah kelalaian semata. Perempuan beranak dua itu tergesa-gesa saat turun dari angkutan umum. Ia meninggalkan dokumen-dokumen penting pengajaran di salah satu jok penumpang di belakang sopir. Maklum saja kalau ia lupa karena ia memang tertidur pulas selama perjalanannya dari Kalideres ke Grogol. Tas yang berisi silabus dan kurikulum sekolah itu lenyap seketika dalam hitungan menit, padahal ia baru saja menyelesaikan dokumen-dokumen itu dalam waktu 3 hari. Kerja lemburnya berakhir sia-sia. Walaupun kemalangan itu terjadi karena kelalaiannya sendiri, ia tetap saja mencaci maki bis bercat hijau muda dengan garis putih dibagian tengahnya itu. Lain halnya dengan cerita seorang bapak asal Kota Kutoarjo. Ia naik bis dengan jurusan yang sama dengan yang ditumpangi Nduk. Bis AKAP itu melaju dengan sukses dari Kutoarjo menuju Jakarta. Namun karena terlalu siang saat tiba di Jakarta dan peraturan lalulintas memang melarang bis AKAP masuk jalan dalam kota kalau lebih dari jam tujuh, maka sopir bus memutuskan untuk mengambil jalur lain ke arah Kota Tangerang. Rupa-rupanya sang pemudik tersebut kelihatan tergesa-gesa. Dari raut mukanya, kemungkinan dia sudah hampir terlambat masuk kantor. Ia meninggalkan sebuah tas seukuran koper 20 inchi dideretan jok paling belakang. Sopir dan awak bus baru menyadari keberadaan tas itu setelah ngetem di terminal Tangerang selama setengah jam. Setelah diperiksa ternyata tas itu berisi pakaian dan beberapa kardus berisi buah tangan khas Kutoarjo. Mungkin makanan itu adalah oleh-oleh untuk kerabatnya yang tinggal di Jakarta. Karena tidak ada identitas pemilik, maka sang sopir hanya bisa menaruh tas itu di tempat agen bis. Ia berharap agar si pemilik tas memiliki inisiatif untuk mengambil barang miliknya itu di agen bis AKAP itu. Berbeda lagi dengan si pemuda tanggung yang bernama Rahmat. Ia naik bis executive dengan jurusan Solo-Jakarta. Kira-kira pukul 6 pagi bis yang ia tumpangi sudah memasuki kawasan tol Pondok Gede. Tapi tiba-tiba bis berAC itu harus menepi dan berhenti di pinggir jalan tol. Hal ini dikarenakan ada kecelakaan kecil yang menimpa bis lain yang berasal dari jasa agen bis yang seatap dengan bis yang ditumpangi Rahmat. Otomatis, karena alasan toleransi, sopir bus Rahmat harus berhenti dan membantu armada yang tengah mengalami kecelakaan itu. Pada saat itulah Rahmat ikut turun bersama crew bis lainnya. Mungkin rasa keingintahuannya cukup besar. Alhasil, Rahmat tidak menyadari kalau bis yang ia tumpangi sudah meninggalkannya sendiri. “ Pir…sopir. Laki-laki yang tadi duduk di samping saya kok nggak ada?”, teriak salah satu penumpang yang baru saja bangun dari tidur lelapnya. Ia hanya mendapati sebuah tas ransel yang duduk membatu dan tak bertuan di sampingnya. Kepanikan terjadi di dalam bis. Tetapi apa hendak dikata, bis tetap harus melaju ke depan karena tidak mungkin untuk memutar balik kendaraan di dalam tol. Entahlah bagaimana nasib si Rahmat. Mungkin ia hanya bias merenungi tasnya yang ternyata lebih dulu sampai dikota Jakarta. “Kasihan banget sih tu anak. Lagian ngapain juga mesti turun.”, Celoteh seorang gadis muda dengan bahasa gaul Jakarta, tetapi logatnya masih kedengaran medhok jawa Memang kisah-kisah kemalangan bisa terjadi pada siapa saja. Demikian juga dengan Bu Meri. Pagi-pagi sekali ia harus berangkat ke kantor. Hari itu ia kelebihan muatan. Biasanya ia hanya membawa 2 buah tas. Satu tas pundak yang berisi barang-barang pribadi dan satunya lagi tas jinjing berisi alat peraga pengajaran. Tapi kali ini ia harus membawa ekstra plastik yang berisi helm warna pink milik miss Supriyanti, kolega kantornya. Sejak pagi Bu meri sudah menggerutu dengan tiga buah tas yang menyusahkan itu. Ia selalu mengalami kesulitan masuk angkot karena badannya yang cukup tambun. Ditambah lagi dengan pintu angkot yang lumayan rendah. Tetapi atas nama tanggung jawab, ia tetap harus membawa helm itu. Saat sampai di persimpangan lampu merah, ibu tambun itu turun dengan satu tas di pundaknya dan sebuah tas jinjing di sisi lain tangannya. Lalu, dimanakah kantung plastik berisi helm tadi berada? “Bu…Bu. Ini ada yang ketinggalan…”, teriak serang pelajar sambil berlari-lari mengejarnya. Oh Bu Mery. Untung ada malaikat kecil berseragam sekolah yang menolongnya. Ia hanya tersenyum kecut seraya mengucapkan terima kasih. Seandainya bocah lelaki itu tidak dikirim Tuhan untuk mengingatkannya pasti Miss Supriyanti akan marah besar padanya. Kemarahan teman kerja Bu mery itu cukup beralasan karena helm cantik itu memang helm kesayangan pemberian sang pacar. Bukankah kejadian-kejadian seperti ini sering terjadi? Rasanya cukup layak kalau disetiap halte busway kita selalu diperingatkan oleh suara lembut operator wanita ”check your belonging and step carefully. Thank you”.

Jumat, 29 Agustus 2008

malaikat berkursi roda

Nurani. Ia dipenuhi gairah hidup untuk terus menemui orang-orang khusus. Entah kriteria seperti apa yang ada didalam benak Nurani akan sebutan orang-orang khusus. Tapi yang jelas ia merasa menjadi gadis remaja yang istimewa ketika ia menemui orang-orang yang berkriteria spesial itu. Ia gadis yang bermata bening, berambut sepinggang dan selalu tersisir rapi. Aroma wangi aloevera sangat bercirikhas dengan remaja yang selalu tampak ceria ini. Ia begitu cakap merawat diri. Siapa yang tidak pernah merasa nyaman duduk dan bercakap-cakap dengannya. Hampir tidak ada.Torai, kucing anggora miliknya selalu terlihat sangat menikmati harum rambutnya setiap kali Nurani meletakkannya diatas bahunya. Sebenarnya tidak hanya Torai saja. Momo, Tupai kecil peliharaannya, ternyata memiliki indera penciuman yang lumayan baik untuk senantiasa lengket di bahunya. Momo terlihat begitu nyaman di tangan Nurani setiap kali gadis itu mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. Hari minggu, hari yang ditunggu-tunggu. Nurani sangat bersemangat bila hari itu tiba. Tiap hari perhentian tiba, ia bisa mengunjungi orang-orang khusus itu. Dia selalu mempersiapkan segala sesuatunya. Terkadang ia membawa sekotak karton coklat kecil bersalut pewarna makanan yang semarak atau juga permen-permen yang dibungkus plastic bermotif lucu. Ia biasa menyisihkan uang sakunya demi membeli makanan-makanan manis itu. Atau mungkin juga kue-kue muffin dalam kertas bermotif. Kalau kue muffin, ia selalu membuatnya sendiri. Ia selalu yakin kalau tangan-tangan lincahnya memiliki perasa yang istimewa pada setiap kue yang dibuatnya. Kue-kue cantik yang sudah melewati pemanas oven. Mamanyalah yang selalu membantu Nurani. Ia tidak pernah lupa dengan kartu-kartu kecil istimewa yang bertuliskan kata-kata penyemangat. Ia menyisipkan didalam plastik-plastik pembungkus coklat atau kue. Terkadang Nurani hanya membagi kartu-kartu itu begitu saja. Hal itu terjadi ketika uang sakunya benar-benar menipis. Walaupun begitu Ia tampak selalu berenergi setiap melakukan aktifitas mingguan itu. Tak heran jika orang-orang khusus yang ditemuinya selalu merasa istimewa setiap kali bertemu dengannya. Setangkai mawar putih. Kali ini Nurani tidak membawa sekotak penuh coklat atau kue-kue istimewa. Ia akan pergi untuk menemui satu orang yang tergolong istimewa baginya. Ia tidak menemui teman-teman istimewa yang ada di dekat taman kota, disamping gedung gereja kuno. Ia hanya membawa setangkai mawar saja kali ini. Setangkai mawar untuk perempuan tua yang is temui di taman kota kamis sore . Ia sengaja membiarkan mawar itu tetap segar di tangkainya. Hanya sedikit parfum saja yang ia semprotkan, karena ia tidak ingin kehilangan makna setangkai mawar putih itu. Balutan plastik transparan dengan sentuhan akhir berupa pita warna merah muda yang cantik pasti akan membuat perempuan tua itu terkesima. Senyum Nurani begitu mantap karena ia yakin, seseorang yang akan ia temui kali ini akan membuka tangan dan hatinya untuk menyambut minggu pagi bersamanya. Alkitab kecil berbalut kain bercorak bintang warna perak, dan sebuah kidung Jemaat sudah kukuh berada di dekapan dada gadis itu. Ia pergi menuju sebuah gedung berlantai dua yang dicat biru muda bergradasi warna ungu cerah. Pohon-pohon rindang yang tertanam dihalaman membantu menyejukkan hati Nurani pagi itu. Ia berhenti sejenak dan menghirup dalam-dalam udara segar pagi itu. Paru-parunya terisi penuh dengan hawa pagi yang masih berbau embun. Ia hanya berhenti sekitar lima menit sampai akhirnya ia memutuskan untuk memasuki ruangan lobi. Ibu Mery. Wanita yang cantik dan bertubuh besar. Dilihat dari mimik wajah dan lengkungan garis yang menghiasi dahinya, ia terlihat berusia sekitar 35 tahun. Walaupun begitu ia terlihat begitu muda., seakan-akan baru berusia 28 tahun saja. Menurut Oma Hana,nenek yang mengajarinya membuat rajutan, Ibu Meri sudah memiliki 2 anak gadis yang cantik-cantik serta seorang anak lelaki yang berparas tampan. “Untunglah anak-anak Bu Mery baik, Rani.”, ujar Oma Hana beberapa bulan yang lalu. Rasanya cerita Oma sahabat Nurani itu tidaklah berlebihan. Ibu Meri saja terlihat sangat baik, pasti anak-anaknya juga sebaik Ibu Meri. Ia selalu mau membantu Nurani untuk apa saja yang ia perlukan. " Pasti ingin menemui dia...", Jawab Ibu Meri setelah ia menjawab sapaan pagi Gadis wangi itu. Sebuah anggukan tanda pembenaran “Ibu pandai menebak pikiranku.”, jawabku sambil tertawa lepas. Ibu Mery ikut tertawa. Giginya yang tidak terlalu rata terlihat sangat bersih. Ia terlihat makin cantik dengan lesung pipit yang ada di pipi sebelah kanan. Ia pasti rajin merawatnya, pikirku Ia memang pandai menebak isi pikiran Nurani. Mungkin hal-hal kecil yang biasa Nurani lakukan sudah mengental dan mengendap di dalam pikiran beberapa orang, termasuk Ibu resepsionis itu. Hal-hal kecil yang bernilai plus di hati orang-orang khusus. Nurani segera memacu gerakannya. Ia bergegas keruang tengah. Disana ia sempat menyapa Oma Hana, Wajahnya tampak berseri dengan setelan baju bermotif bunga dan tambahan kain renda hijau segar. Om Hans, anak pertama Oma, biasa menjemputnya di hari minggu untuk datang beribadah di gereja. Nurani mengangguk ringan tanda hormat, Oma segera melambaikan tangan dan menghilang dibalik pintu bercat putih. Spontan Nurani menyambut lambaian tangan itu dengan ayunan yang senada. Om Hans yang mendorong kursi rodanya. Gadis berhati lembut itu diam sejenak di ruang tengah. Ia hanya memandang sebuah kamar di pojok kiri ruangan didekat kamar laundry. Pintu itu masih tertutup rapat, tapi lampu di kamar itu masih menyala terang. maklumlah karena kamar itu ada disudut dan hanya berjendela satu. Ukuran jendelanyapun tidak terlalu besar sehingga pasti membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk menerangi ruang berukuran 2x3 meter persegi. Perlahan-lahan Nurani mendekati kamar itu. Ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu. Nyali ciut itu segera ia musnahkan. Kemarin sore ia sudah berjanji untuk menjemput perempuan tua yang tinggal di ruang pojok itu. Dua kali ia mengetuk, Tetapi rasanya ketukan yang pertama itu tidak terlalu keras. Suster Ulia melambaikan tangan. Ia memberi kode pada Nurani agar ia mengetuk dengan lebih keras. Nurani mengangguk. Tersirat wajah kecut dimukanya. Kali ini ia mengetuk lebih keras. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka sedikit. Tidak terlalu lebar. Sebuah kepala menyembul keluar dan sepasang mata yang warna bola matanya sudah memudar memandang wajah Nurani. Wanita tua itu mencoba memfokuskan pandangannya selama beberapa menit. Mungkin ia ingin meyakinkan siapa sebenarnya tamu kecil yang sudah mengunjunginya sepagi ini. " Sudah siap, Nek?. Sebuah pertanyaan yang keluar secara perdana dari mulut Nurani. Nenek itu perlu sekitar duapuluh detik untuk mengangkat garis bibirnya keatas. Ia segera tersenyum lebar setelah ia yakin kalau gadis itu adalah Nurani. Ia segera membuka pintu lebar-lebar dan mengayunkan tangan tanda ia mempersilahkan Nurani masuk ke kamar barunya. Ternyata nenek Panda terlihat sangat cantik. Lebih cantik daripada kemarin sore saat ia menemukannya sedang menangis terisak-isak di taman kecil didekat rumahnya. Ia terlihat sangat kebinggungan waktu itu. Ia duduk diatas kursi roda yang sudah sangat tua dan beberapa bungkus pakaian lama tergantung disekitar pegangan kursi roda. Keadaanya begitu payah waktu itu. Dari penampilan fisiknya, sepertinya ia tidak membasuh kulit tubuhnya dengan air selama beberapa hari. Sepanjang waktu aku tinggal di kompleks Perumahan Citra Kasih, aku tidak pernah melihat perempuan tua itu. Tidak ada penghuni kompleks yang mengenalnya.. " kenapa nenek ada di sini?". sebuah pertanyaan yang meluncur dari mulutku ketika beberapa orang memutuskan untuk meninggalkannya sendiri. “ Cucuku sudah tidak sayang lagi padaku.”, jawabnya terbata-bata. Nenek Panda Tidak tahu lagi kemana ia akan pergi. Ia ditinggalkan begitu saja dipinggir jalan oleh cucunya. Ia mengaku kalau selama ini ia tinggal dengan cucu angkatnya. Tidak ada saudara lain. Hatiku terasa teriris pedih saat tahu kalau nenek telah kehilangan hampir semua keluarganya. Rumahnya sudah tergusur. Ia tidak tahu jalan untuk pulang. Ia hanya mengayuh roda-roda besinya kesana-kemari sampai akhirnya angin membawanya kesebuah taman yang baru pertama kali ia kenal. Dan ternyata perjuangan tangannya yang kukuh mampu membawanya menemui malaikat kecil bernama Nurani. seorang malaikat yang ternyata sama-sama memakai kursi roda. Nurani menatap Om Setya. Lelaki cakap yang menjadi pemimpin Komplek Citra kasih. Ia meminta dengan sangat agar Nenek Panda dibawa ke Panti Jompo Pengharapan. Om Setya menganggukkan kepala tanda setuju. Gadis berparas ayu itu membawanya ke Rumah Jompo Pengharapan. Ia tahu bahwa Pak Frans, kepala panti, akan mengijinkannya untuk tinggal disana. Seandainyapun tidak, Nurani akan memintanya dengan sangat dan mencium kening Pak Frans yang sudah seperti ayahnya sendiri. Sebuah kamar kosong di sudut ruang tengah. Kamar itu menjadi milik Nenek panda sekarang. Sebelumnya Opa Tedy yang menempati kamar itu, Tapi karena kanker yang ia derita, Ia harus dirawat lebih intensif di sebuah rumah sakit rekanan panti. Senyum,bahagia terpancar di muka Nenek. Bahkan dia menerima tawaran malaikat kecil berkursi roda itu untuk datang ke ibadah pagi di gereja tua di dekat taman kota. Nenek panda begitu bahagia karena menemukan seorang cucu pengganti yang begitu baik. Cucu yang memiliki nurani bersih untuk orang-orang special seperti dirinya. Nenek tua itu menyebutnya sebagai malaikat kecil berkursi roda. Nurani juga tampak bahagia saat tangan tua nenek panda yang sudah bergelambir itu memegang pipinya dengan begitu hangat.

Pertarungan Mama

Mengubah posisi duduk. Itu yang dapat aku lakukan saat ini. Rasanya aku sudah bersimpuh hampir setengah jam tanpa berganti posisi. Sakit sekali rasanya lututku. Kuharap aku bisa bersembahyang dengan lebih khusuk lagi jika posisi dudukku sudah kuubah. Ternyata rasa pegal dilutut mampu mengurangi konsentrasiku untuk bercakap-cakap dengan Tuhan. Mungkin sebaiknya kuselipkan tas kuning bertali satu yang dari tadi ada disampingku sebagai pelapis kulit lututku. Sejenak kutundukan kepalaku dan kulihat lututku memang sudah memerah. Bekas-bekas lipatan karpet bermotif bunga terlihat jelas membekas disana. Sejenak aku diam dan menunda untuk berdoa. Mata mudaku berburu didalam ruangan ini. Hal yang tidak kulakukan beberapa waktu yang lalu saat aku memasuki ruang doa ini. Pada awalnya memang hanya berniat untuk duduk dan berdoa, jadi aku tidak begitu memperhatikan dekorasi ruang syahdu ini. tetapi suasana yang ada di dalam ruangan ini telah membuatku nyaman untuk bersimpuh lebih lama dan berbincang dengan Sang Khalik dengan lebih intim lagi. Lima menit lebih dari pukul dua siang. Pemandangan waktu yang berhasil kulihat dari arloji anti air yang kacanya sudah agak retak. Tak apalah retak asalkan masih bisa berfungsi dengan normal. Masih ada waktu dua puluh lima menit lagi untuk tinggal di dalam ruangan beraltar ini. Sepertinya jiwaku ingin berkhusuk sendiri kala ini. Kutuntun mata menatap setiap detil ruangan bercat putih bersih dan berornamen kaca mozaic. Gambar-gambar kerahiman dan Keilahian Allah terpampang di dua sisi tembok. Gambar-gambar itu memang tidak terlalu besar, disesuaikan dengan ukuran ruang doa yang memang cukup untuk 3 orang saja. Rasanya figur-figur keampuhan Tuhan meresap diatas ayunan-ayunan kanvas sang pelukis dan nuansa itu mampu mengidik kesalutan hatiku. Aku benar-benar tersentuh. Sebuah rasa yang sudah agak lama tidak hadir dalam hatiku karena terhalang dengan waktu-waktu sibuk duniawi. Harum sedap malam yang dikombinasi dengan lilin putih yang terbakar memenuhi ruangan ini. Aku tidak merasa terganggu, justru wewangian itu serasa menambah khidmat dihatiku saja. Kurasa pengurus tempat doa ini memang sengaja menciptakan suasana seperti ini, karena bunga-bunga itu memang kelihatan masih baru dan segar. Sebuah altar dari kayu jati berpernis halus ada di depanku. Vas bunga sedap malam dan lilin putih ada diatasnya, selain itu sebuah alkitab yang sudah tidak baru lagi juga ada disitu. Pasti setiap pendoa yang masuk ruang ini selalu membuka kitab suci ini dan membacanya. Baguslah, karena masih ada orang yang mencari penghiburan lewat ayat-ayat Tuhan. Mataku berhenti mengembara. Kali ini perjalanan bola hitam mataku berhenti pada sebuah kotak kayu sebesar kardus sepatu sneaker hitam milikku. Memang tampak lebih tinggi dari kotak sepatuku. Benda itu tertutup rapi dan sepertinya benar-benar terkunci. Rasa penasaran mulai muncul, hatiku dipenuhi pertanyaan kotak apakah itu? Kotak persembahankah? Bagiku pertanyaan itu tepat karena sebuah lubang memanjang berada tepat berada diatas kotak itu, lubang yang hampir mirip dengan celengan kura-kura yang kutaruh diatas televisi tabung di dalam kamarku. Tetapi lubang di kotak kayu itu memang lebih panjang, seukuran amplop yang biasa mama pakai untuk menyumbang uang. "Ehm, kurasa ini bukan kotak persembahan.", gumamku lirih. Aku tidak mampu membuka kotak yang memang terkunci rapat itu. Hanya kudapati sebuah tulisan singkat diatas kertas putih yang dilaminating. Kertas itu tergantung bebas disamping kotak. KOTAK DOA "Kotak Doa”?. Suara itu tersentak ringan dari mulutku. Sebuah keheranan yang keluar dari tenggorokanku yang bergetar. Aku perlu memahami keberadaan kotak itu sampai beberapa detik. Sebuah kotak doa yang tidak pernah kujumpai selama ini karena aku memang tidak pernah menabung doa-doaku. Kehadiran kotak itu memberi isyarat bahwa aku bisa menulis daftar doaku dan memasukkan kedalam benda berlubang itu. Bagaimana aku bisa menulis, karena memang tidak kujumpai selembar kertas maupun pena." Apakah aku harus meletakkan mulutku didekat lubang itu dan mengucapkan doa-doaku? Sebuah pikiran bodoh yang memang keluar dari benakku. Ada dua laci. Laci-laci itu berada di bagian depan meja altar. Mungkin aku akan menemukan sesuatu disana, pikirku. Ternyata benar. Ada banyak amplop kosong dan beberapa lembar kertas kosong. Aku mulai bisa mengerti arti kehadiran kotak doa itu dan saraf-saraf otakku mulai menyambung informasi yang kudapat dari apa yang kulihat. Kuraih selembar kertas kosong dan sebuah pena hitam. Selembar kertas kurasa tidaklah cukup untuk menulis semua doa yang kuminta dari Tuhan. Tapi kurasa aku ingin menulis doaku secara singkat saja. Lembar kertas putih yang sudah berkolaborasi dengan tinta hitam dan membentuk rangkaian kata-kata doa ini segera kulipat dan kumasukan kedalam amplop putih. Kucium sebentar sebelum akhirnya tangan kananku memasukkannya kedalam kotak itu. “Hmm..kotaknya penuh”, gumamku. Karenanya aku harus menekannya dengan lebih kuat dan memastikan bahwa seluruh badan amplop masuk ke dalam kotak. Sebuah doa. Ya, memang hanya sebuah doa, tetapi aku terus memintanya dengan tekun pada Tuhan. Dalam doa itu aku berusaha untuk tidak goyah. Doa atas seseorang yang sangat kukasihi dan kupanggil "mama". Dan aku hanya merasa jika aku memintanya dengan teguh kepada Tuhan, Ia pasti mempertimbangkan permintaanku. Ah, kulihat kembali arloji yang melilit ditanganku. Hampir setengah tiga. Segera kurapikan isi tasku. Aku harus cepat, pikirku. Hari ini jam tiga mama harus dibedah. Ia sudah dirawat dirumah sakit ini selama satu minggu. Perempuan yang sudah merawatku sekian tahun ini sudah melewati beberapa tes kesehatan dan keputusan final berupa operasi memang harus ditempuh. Kanker ganas yang sudah mulai mengakar disaluran sel telur mama semakin menghebat. Sebuah penyakit mengerikan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bagiku ini adalah berita yang mengejutkan karena ketika aku pulang dua bulan yang lalu, mama tampak begitu sehat dan segar. Aku benar-benar tidak percaya ketika papa memberitahuku lewat telepon pagi-pagi buta. saat itu aku masih setengah bermimpi, antara tidur dan bangun. Berita kesedihan itu mampu menggetarkan gendang telinggaku. Remuk rasanya hatiku, ditambah lagi Om Randu, dokter keluarga kami, memberikan informasi yang tampak makin mengiris kalbu saja. Hidupku dipenuhi dengan rasa khawatir dan ketakutan yang makin menebal dari hari ke hari. Rasa takut kehilangan mendera hatiku dengan kuatnya. Akankah aku mampu mengalahkan perasaan itu. Pekerjaan yang terlalu banyak membuat aku lupa bagaimana berdoa dan bagaimana aku bisa mendapatkan penghiburan. Hampir setiap hari rasa lelah membunuh keinginanku untuk membuka firman Tuhan dan berdoa. Sampai akhirnya Tuhan mengingatkan aku kembali untuk membuka kitab suci tebalku. Sebuah panggilan Tuhan pagi-pagi sekali saat secara tidak sengaja aku menyenggol rak buku. Alkitab mencuat keluar. Saat itu aku hanya terdiam beberapa saat. Jiwaku ada dalam percabangan antara membuka Firman Tuhan atau mengabaikannya. Lalu kuputuskan untuk membuka kitab itu. Kitab pertama yang terbuka adalah Yakobus, dan aku begitu terkesima dengan pasal pertama tentang hikmat dan iman, tentang keteguhan untuk berdoa dan iman yang tidak boleh goyah. Sejak saat itu kuputuskan untuk selalu membasuh muka tiap jam lima pagi dan melanjutkannya dengan berdoa. Aku memerlukan sapaan dari Tuhan tiap hari. Setidaknya Tuhan menolongku untuk memahami arti sakit mama. Sebuah ujian iman. Aku berlari kecil menuju ruang inap mama. Perlu waktu 10 menit berjalan dari ruang doa dan kamar, itu jika lift tidak antri. Sudah lima kali aku melewati selasar rumah sakit hari ini. Hilir mudik, karena aku harus mengurus kembali beberapa surat pernyataan sehubungan dengan operasi mama. Payah sekali rasanya, tetapi ternyata aku masih memiliki sisa waktu untuk mencari ruang doa tadi. Aku berdiri terengah-engah dihadapan papa dan beberapa sanak saudara. Kuatur nafasku sejenak dan air mineral dalam botol sudah mengalir lewat kerongkongan. Dan kini ritme detak jantungku sudah mulai normal kembali. Tapi mulutku belum mampu memproduksi kata-kata. Papa hanya diam. Satu jari telunjuk tepat berada di atas kedua bibirnya sedangkan jari telunjuk yang lain menunjuk kearah kamar mama. Spontan aku mengintip mama melalui kaca bening yang berbentuk persegi dan sebesar buku novel favoritku. Aku perlu sedikit mengangkat tumitku agar pemandangan didalam kamar bisa kulihat lebih sempurna. Om Randu ditemani 2 orang dokter spesialis dan seorang perawat sedang mempersiapkan operasi mama. Mereka sedang memeriksa detak jantung dengan stetoskop warna putih keabu-abuan. Botol infus mama juga sudah diganti dengan yang baru karena tadi pagi cairan infus masih sisa setengahnya. Rasanya iba sekali melihat mama yang hanya makan dari cairan infus saja. Ia selalu memuntahkan makanan yang masuk kedalam mulutnya. Suster berparas ayu yang dari tadi berada di ruang inap mama kini berusaha membuka slot pintu. Ia mengungkit slot itu dengan bantuan ujung penanya, tampak kalau pintu yang satunya memang jarang dibuka karena slot itu terlihat berkarat dan agak susah untuk dibuka. Mama keluar dan tetap terbaring diatas tempat tidur berodanya. Kini pakaiannya sudah berganti dengan warna biru muda. Ia tersenyum lemah. Rasanya aku tidak tahan melihatnya. Perempuan terhormat yang sedang terbaring itu berusaha mengangkat tangannya.Tangan itu kelihatan makin mengecil saja dan aku yakin ia memerlukan energi yang cukup besar hanya untuk melambaikan tangan saja. "Mama pasti bisa", Sebuah kalimat penguatan keluar dari mulutku seraya aku meletakkan tangannya yang lembut itu dipipiku, " Bertahanlah", lanjutku. Aku berusaha untuk tidak menangis. Sekali saja aku meneteskan airmata, tembok pertahanan mama pasti akan runtuh dan sesudah itu mungkin tidak hanya aku saja yang menangis. Papa sudah mengingatkan kami, anak-anaknya, untuk tidak menangis di depan mama. Beberapa kali ia mengingatkan kami. Tangan mama kupindahkan ke arah Dina dan Onel. Pelan-pelan mama menyentuh muka mereka. Dua anak yang kemarin kelihatannya masih suka bertengkar hanya karena masalah es krim atau coklat kacang, tapi kini mereka mampu memperlihatkan sedikit kedewasaan di depan mama. Satu-satu kami mencium kening mama. Papa mengakhiri perjumpaan itu dengan pelukan yang terlihat begitu mesra. Ayah terhebat itu mencium kening mama sampai dua kali. Om Randu mengangguk ringan. Ia meminta ijin untuk segera membawa mama ke ruang operasi. Tidak ada yang menangis, hanya saja ada rasa harap-harap cemas yang bergulat di dalam hati kami. Terasa semakin kuat. Kami hanya diam seribu bahasa, berpuasa untuk berlaksa-laksa kalimat pengharapan. "Tuhan Yesus, sembuhkan mama, bawa dia kembali kepada kami dengan senyum yang lebih lebar, raga yang lebih kuat dan helaian rambut yang lebih kuat lagi. Hanya kehendakMu saja yang terjadi. Amin" Doa itu yang berulang kali terucap di mulutku. Dan selama waktu menunggu kurasa aku sudah berdoa hampir dua puluh lima kali. Doa yang berselang-seling dengan Doa Bapa Kami. Aku mencoba agar tidak terlalu khawatir. Detik-detik berlalu dengan sangat lambat. Aku duduk dan berdiri bergantian. Kuperhatikan bungkus permen yang ada ditempat sampah disampingku. Hampir semuanya berjumlah 13 buah, Ah, aku tidak menyangka ternyata gigiku juga ikut bekerja keras mengunyah gula-gula liat itu disela-sela waktu menunggu. Setidaknya permen-permen itu, mampu membantu meredakan rasa gundah di dalam hatiku. Papa hanya diam. Kurasa ia ingin menyulut batang rokoknya, tapi ia terlihat sangat berusaha keras untuk tidak melakukannya. Beberapa kali ia memainkan bungkus rokoknya, tapi ia enggan untuk menyalakan pematik api. Mungkin karena banyak papan “Dilarang Merokok” di beberapa bagian dinding rumah sakit. Walaupun demikian, sebenarnya papa bisa keluar ruangan sejenak dan mencari ruang khusus untuk memakan asap. Aku hafal betul dengan kebiasaan papa saat ia benar-benar depresi. Dalam keadaan itu ia pasti bisa menghabiskan berbatang-batang rokok dalam sehari. Dejavu. Mungkin tidak juga. Aku pernah merasakan saat-saat seperti ini ketika Neta, sahabatku di sekolah melukis, sedang koma. Saat itu ia benar-benar berjuang keras dengan gegar otak parah yang menimpanya. Kawan baikku itu jatuh dari sepeda dan terguling ke dalam jurang yang sebenarnya tidak terlalu dalam. Sayang, pergumulannya dengan debu dan tanah itu berakhir diatas batu cadas hitam dan kepalanya harus terbentur keras di sana. Ngilu sekali rasanya mengingat akan hal itu. Aku dan beberapa teman begitu setia menunggu Neta dirumah sakit. Kami berharap agar ia segera sadar dari komanya. Perasaan saat itu sama persis dengan yang kurasakan saat ini, tatkala harap-harap cemas benar-benar bertarung dengan hebatnya. Kubuka kembali tutup botol air mineral ditanganku dan sepertinya sudah satu liter air mengguyur dikerongkonganku. Bahkan botol itu sudah kuisi ulang dengan air yang kuambil dari dispenser rumah sakit. Seberapapun air yang kuminum, rasanya aku tetap seperti di tengah-tengah padang pasir. Benar-benar kering. Dalam nama Yesus ada kemenangan. Sebuah lagu sederhana. lagu dari sekolah minggu yang masih lekat di dalam pikiranku. Nada dan syair itu keluar lirih dari mulut Onel. Aku tertegun karena selama ini ia selalu menolak untuk menyanyikan lagu itu kecuali kalau ia sedang mengikuti sekolah minggu di gereja. Kali ini ia menyanyikannya tanpa paksaan. Ah, setidaknya Onel bisa merasakan kegundahan hati orang-orang yang lebih dewasa darinya, karena usianya masih 9 tahun. Dokter Joseph keluar dari ruang operasi. Ia hanya sendiri, tanpa Om Randu. Kami terkejut dan ruang kosong dihati kami terus bertanya-tanya: kenapa?, mengapa?, bagaimana? Dokter itu berjalan dengan tegak. Badannya yang tegap benar-benar terlihat sangat proporsional dengan berat tubuhnya. Itu yang terlihat di mata fisikku. Apapun itu, ia adalah dokter baik yang selalu memberikan informasi lengkap tentang perawatan untuk mama. Dokter Joseph menyapa sahutan dokter lain sebelum akhirnya ia berhenti tepat di depan papa. Papa berdiri spontan begitu melihat juru sehat itu keluar dari ruangan. Dokter diam sejenak, ia menarik nafas dalam-dalam. Sinyal-sinyal akan berita buruk sudah spontan mengisi pikiranku dan aku merasa yakin kalau sinyal-sinyal yang sama juga sedang berkelahi di dalam pikiran papa. "Ia baik, kondisinya stabil..", Kata dokter itu dengan suara yang terdengar berwibawa," Kita tunggu hasil operasinya. Bu Ranti perlu terus dimonitor", lanjutnya. Seandainya saja ada tempat pembuangan sampah sebesar Bantar Gebang di dekat rumah sakit ini, pasti saat ini juga aku akan membuang beban yang ada di pundakku. Aku bernafas sedikit lega. Entah apapun akhir dari perjalanan sakit mama, tapi yang pasti aku bersyukur bahwa ia adalah pemenang atas sebuah pertandingan yang bernama "operasi kanker" "Beri kami hati yang bijaksana untuk memahami apapun hasilnya ya Tuhan. Itu pasti yang terbaik untuk Mama". Itu doaku yang paling akhir sebelum akhirnya mama keluar dari ruang operasi dalam keadaan yang masih tidak sadar. Kali ini aku akan berdoa dengan lebih tekun lagi dan tanpa ragu-ragu. Tuhan tentu lebih senang dengan doa yang teguh dan tidak terombang-ambing. Kali ini aku benar-benar belajar dari kitab Yakobus. Nanti malam aku akan membuat kotak doaku sendiri dan tiap doa akan kutulis rapi diatas kertas putih. Aku berharap agar suatu saat ketika aku membuka celengan doaku itu, aku bisa bersyukur bahwa Tuhan memiliki cara-cara yang ajaib untuk menyembuhkan mama.

Kamis, 07 Agustus 2008

Beternak Madu Dalam Mulut

Beternak madu didalam mulut. Aku ingin menyebut mulut dan seluruh isinya dengan penangkaran madu lebah hutan. Mungkin itu sebutan yang paling pantas untuk mulut mas Nino. Bagaimana tidak, mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata yang manis. Sangat manis. Aku kadang terpesona dengan gayanya berbicara. Kurasa tidak hanya gayanya berbicara, tapi isi dari tiap pesan yang ia ingin sampaikan untuk orang lain, termasuk aku tunangannya. Kali ini kata-katanya menyengat tepat di hatiku. Rasanya sangat menghentak dan aku hampir pingsan. Ia melamarku untuk menjadi istrinya dengan rangkaian kata-kata yang sangat luarbiasa panjangnya, tapi tidaklah membosankan. Aku sampai terngangga, bahkan mulut kukatupkan setelah ia selesai dengan rangkaian seribu makna. "ya, aku mau", Hanya itu jawaban atas sejuta kata dan pertanyaan yang ia sampaikan. Aku tak sepandai Mas Nino. Mungkin karena kepandaiannya itu, Ia sering mendapat tugas sebagai presenter di tiap-tiap presentasi kantor. Dan sepertinya proyek-proyek lapangan selalu berhasil dimenangkan oleh kantor Mas Nino. Ia memamg piawai dalam hal ini. Urat wajah Mas Nino terasa sangat menghangatkan darah didalam hatiku. Aku merasa sangat nyaman karena setidaknya jawabanku yang terlalu pendek tepat mengenai sasaran. Kelihatannya Mas Nino puas dengan jawaban itu. Aku Lega. Beberapa hari yang lalu, Ema , teman kantorku melihat Mas Nino sedang berdiri menghadap etalase kaca rendah di sebuah toko emas. Ia seperti melihat cincin emas. Sebuah cincin emas bermata dua. Tapi informasi Ema sedikit memberiku keyakinan kalau malam ini, di restaurant urban ini, Ia akan menyelipkan sebuah cincin emas di jariku Aku tak sabar menunggu. Gundah gulana. Kurasa aku tak akan memiliki alasan untuk merasakan hal itu. tapi aku tetap menunggu sampai Mas Nino mengucapkan mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. Ruapanya tidak. entah kenapa tidak. sampai acara makan malam berlalu, tidak ada awal kata tentang cincin. Jadi kapan kira kira? senin pagi. Jullia, anak baru dikantor datang dengan muka yang berseri-seri. Ia menunjukkan jari manis yang sudah berhias cincin cantik. "wah, selamat ya. siapa ni tunangannya? "Mas nino, karyawan di PT. ANTA." jawab anak baru itu singkat," Dia perayu yang hebat lho, dan melamarku kemarin setelah memutuskan tunangannya di sebuah Restoran Urban" Terang saja Ema langsung memandang mukaku yang sudah berwarna merah "What?" jadi itu makan malam terakhir. Baiklah si peternak lebah dalam mulut. Kita berakhir sudah. Tak ada Nino dan aku.

Minggu, 03 Agustus 2008

Sebatang Pensil

hari ini aku pasti berjasa untuk Andi Pagi-pagi sekali aku sudah menyelinap di dalam kain yang dijahit rapi. Kali ini Andi lupa memasukkan aku kedalam kotakku. padahal aku menginginkannya. Tahukah kenapa? karena aku hanya ingin mudah untuk ditemukan. setidaknya itu yang paling aku inginkan darinya, dari Andi. Beberapa kali aku sangat sedih karena aku terlalu tumpul. Saat itu aku sangat sedih karena kulihat wajah Kecil Andi mengiba maaf pada ibu guru. Wajah geram perempuan berilmu itu sedang menginvestigasi Andi, sahabatku yang tidak lupa meruncingkan ujungku. Aku ingin selalu membantunya untuk menulis setiap kata-kata dengan lebih rapi dan tebal. Atau setidaknya membantu agar Andi bisa menulis angka-angka perkalian atau pertambahan dengan benar. Aku akan selalu berolahraga agar aku kuat. Ya, itulah yang bisa aku lakukan agar aku tidak mudah patah. Atau sebelum aku terlalu aus, tua dan dibuang Andi ke kotak sampah. Dan sebelum itu terjadi aku akan membantu Andi menjadi anak terpandai di kelasnya. Semester depan ia akan menjadi terbaik di kelasnya. tidak lagi di urutan terakhir. Lihat saja. Itu janjiku. sebatang pensil

Membeli Minarsih

" Berapa si cecunguk itu membeli Minarsih, Pakde?" Aku tidak tahu seberapa merahnya mukaku saat ini. Rasa pedih terluka memang sangat terasa di balik kulit ariku. Didadaku, api kemarahan terasa meledak-ledak seperti lahar yang keluar dari dapur magma gunung berapi. Panas sekali. Aku merasakannya seakan lahar itu sedang menekan keras kalbuku. Entah kenapa aku menanyakan lagi hal itu, padahal Pakde Truno sudah memberi obat penawar kemarahan siang tadi. Obat kemarahan berupa pil penjelasan tentang Minarsih. Tapi rupanya efek dari obat itu sudah hilang dan sekarang penyakit kemarahan itu kambuh lagi. Kali ini sumbu api sudah tersulut dengan hebatnya di dalam hatiku, sampai tanganku terasa gatal sekali jika tidak membanting sesuatu. Mataku liar berburu dan tanganku ingin meraih sesuatu. Akhirnya sebuah cangkir beling milik Pakde Truno berhasil mendarat keras didinding tembok. Pecah berkeping-keping. Hatiku sedikit lega. Setidaknya ada sedikit pelampiasan, dan itu yang aku perlukan saat ini. Kali ini mataku tertuju kearah sebuah asbak tanah liat yang tergeletak didekat tangan pakde. Ini korban selanjutnya, pikirku, tapi rupanya tangan pakde terlalu cekatan meraih lenganku. Sebuah pelampiasan yang gagal dan aku hanya menhela nafas panjang. Ia menepuk pundakku hampir lima kali, "Mbok sing sareh yo Le, sabar..", dan kali ini tangan tuanya sudah menepuk pundakku untuk yang ketujuh kalinya. Entahlah, tapi dalam kemarahanku, aku bisa merasakan katresnan, cinta yang dalam dari pakde, orang tua yang sudah merawatku sejak kecil. Orang tua itu juga yang dipercaya bapak dan ibu untuk merawatku saat mereka membulatkan tekat untuk bertransmigrasi. " Nanti bapak jemput kalau bapak dan ibu sudah berhasil di Singkawang..". Itu janji bapak sebelum mereka berangkat ke tanah yang baru. Tapi aku sudah semakin membengkak dewasa dan terlanjur mencintai kota ini sebelum bapak benar-benar menjemputku. Aku lebih rela hidup dengan pakde yang sudah mulai mengelendur kulitnya dan berkacamata plus lapis tiga. Hidup yang sudah mengerak hitam dengan lingkungan yang sudah membuatku semakin dewasa. Setidaknya aku bisa berbalas jasa menjaga orang tua keduaku ini. Aku pula yang membuatkan tongkat jalan untuknya sejak tiga tahun yang lalu. Pakde rupanya mendengar geram yang keluar dari mulutku. Geraman yang agak keras kali ini, hampir sama dengan suara anjing yang melihat kucing melintas tepat di depannya. Alisku terasa melengkung semakin tajam. Sabar dan sareh, nasehat dari pakde yang baru saja aku dengar terasa terlalu keras untuk kucerna. Pandanganku yang tajam kuarahkan ke muka lelaki tua itu. Tapi hanya sepuluh detik saja dan segera kulempar pandanganku keluar jendela. Terlihat sangat gelap dan menghitam. Warna hitam malam menyiratkan harapan yang kosong untukku. Dalam kegarangan, aku berusaha bersandar tenang diatas kursi kayu berjalin rotan. Hampir tiga kali aku mengubah posisi dudukku. Rasanya sulit sekali mencari posisi yang nyaman untuk menyangga tubuh lelakiku yang sudah berbobot besar ini. Kurasa aku bertambah kekar dan otot-ototku berkembang tiga kali lebih besar dibanding sebelum 3 tahun yang lalu. Malam ini terasa pekat, sama pekatnya dengan kopi pahit yang baru saja mengalir di pipa kerongkonganku. hanya seteguk saja. Cangkir kopinku kuletakkan kembali di dekat bungkus rokok bergambar sebuah jarum. kini, sebatang rokok sudah terselip kuat diantara dua bibirku yang sudah sedikit menghitam. kunyalakan pematiknya dan kuhisap batang berasap itu kuat-kuat. Entah berapa batang rokok yang kuhisap hari ini. Aku tidak menghitungnya, tapi setidaknya kopi dan rokok sudah menjadi sahabat terbaikku hari ini. "Dikontrol ya Le rokoknya..!", tegur Pakde. Kali ini suaranya melemah. Mungkin ia sudah cukup capek menasehatiku hari ini. "Minarsih itu ndak salah", Ia mengulangi kata-kata yang tadi siang ia ucapkan, "kamu mbok nrimo saja. Terima kenyataan itu, walaupun pahit!". Minarsih tidak salah? Jelas-jelas dia salah. Perempuan itu menerima Panji yang akan mengikat erat dirinya besok pagi di depan penghulu. Itu berarti sebuah pengkhianatan dan kesalahan besar. Rasanya sudah tak termaafkan. Jiwa kelakianku memberontak dengan hebatnya saat aku mengetahui hal itu. Tadi pagi. "Haah...". Udara keras keluar bebas dari mulutku waktu Pakde Truno menjelaskan berita itu secara perdana padaku. Tepat sesudah aku menaruh dua koper besar di dalam kamar. Pikiranku terlalu buruk menilai Minarsih saat itu juga. Tentu saja ia lebih memilih Panji, lelaki bertubuh besar berambut lurus kaku. Pria pujaan gadis-gadis desa yang hampir tidak pernah naik sepeda genjot kemanapun ia pergi. Setidaknya motor Honda hitam mulus selalu menemaninya. Atau Pak Sobari, sopir pribadi, yang selalu mengantarnya kemanapun pria lajang itu bepergian. Betapa teganya wanita yang sudah menjadi dambaan hatiku lebih dari empat tahun. Perempuan yang dulu selalu menemaniku duduk bersama dibawah pohon jambu, dibale-bale depan warung mbok Siti. Wanita yang selalu berbagi gado-gado atau soto ayam buatan Mbok Siti. Tapi kini janjinya hanya dibeli 2 atau 3 juta saja. Nilai yang dianggap cukup besar untuk penduduk di desaku. Aku memang tidak semumpuni Panji. Tetapi aku pasti mampu mengusahakan uang sebanyak itu sebagai mahar. Aku mampu walaupun aku harus bekerja dengan ekstra keras. Uang itu pasti akan kuserahkan dengan rasa hormat pada bapak dan ibu Minarsih. Bukankah aku lelaki sejati. Aku menyebutnya sebagai sebuah perjuangan cinta. Perjuangan yang layak kulakukan demi mendapatkan aura-aura cantik wajah Minarsih. Kuhisap rokokku dengan lebih kuat. Pikiran dan jiwaku tidak begitu peduli dengan abu yang jatuh sembarangan di meja. Hampir saja abu itu jatuh ke dalam cangkir kopi pahitku, tapi untunglah tangan gelambir pakde cepat-cepat memindahkan perkakas beling itu. Ia begitu cekatan. Spontan pakde menawarkan asbak padaku, tapi aku hanya melirik diam, tak merespon. Pakde mengeleng-gelengkan kepalanya. "Minarsih terpaksa menikah, Le." Kata pakde kemudian. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Sejenak pakde tua itu menggeser kursinya. Ia berusaha berdiri terhuyung-huyung. Tangan tuanya dibantu dengan mata tua yang sudah mulai memudar berusaha mencari-cari pegangan yang lebih kokoh untuk menahan raga rentanya. ia berjalan pelan menuju jendela kayu yang tidak begitu jauh dari meja perbincangan itu.

Senin, 28 Juli 2008

Muffin

"Pokoknya aku pengen jualan muffin!" Kalimat itu keluar dari mulut Eni dengan nada yang agak keras. Sebuah kalimat yang berhasil mengakhiri pembicaraan sengit antara Herman dan Eni pada minggu-minggu terakhir ini. Herman hanya terperangah dan menatap lesu punggung istrinya melenggang keluar menuju halaman samping, tempat ia menjemur pakaian. Rupanya sederetan kalimat yang panjang dari mulut Herman tidak mampu melunakkan hati Eni, istri yang baru dinikahinya 2 bulan yang lalu. Herman hanya mampu duduk terpekur sambil melihat induk ayam dan lima ekor anaknya yang sedang sibuk mengkorek-korek makanan ditanah. "Ahh, pusing." Herman beranjak dari tempat duduk sembari menggaruk-garuk kepalanya. Rambutnya yang lebat dan tampak tidak teratur terasa mampu menggambarkan kekusutan hatinya saat ini. Menurutnya, permintaan Eni sungguh tidak masuk akal dan tidak perlu dipertimbangkan berkali-kali untuk menggabulkannya. Sebuah toko kue?...ya ampun. Kalimat itu selalu melayang-layang di dalam benak Lelaki tegap berdada lebar itu selama dua minggu terakhir ini. -------------- Tangan Eni begitu piawai mencampur bubuk coklat dan tepung terigu ke dalam baskom berulir hijau tua itu. Dia tahu dengan pasti perbandingan takaran yang diperlukan untuk membuat kue muffin. Kali ini ia ingin membuat muffin coklat dengan whipped cream diatasnya. Eni, sang pengantin baru, begitu hafal setiap step yang harus dilakukannya. Narita, kawan sekerja Eni sewaktu di Jakarta lah yang menjadi guru terbaiknya. Eni terbiasa membantu Narita mengolah tepung-tepung dan bahan baku kue lainnya. Mereka menyulapnya menjadi kue-kue cup cake yang enak dan cantik. Selama satu tahun tiga bulan ia bekerja di toko kue Nyonya Oni di wilayah peta selatan, Jakarta Barat, Selama itulah Ia diam-diam belajar secara otodidak dari sang guru, maka tidaklah mengherankan kalau pada akhirnya Eni begitu mumpuni. Eni begitu jatuh cinta dengan aneka bentuk dan rasa dari kue-kue kecil dalam wadah kertas itu. Dan kecintaan Eni membawanya pada sebuah impian kecil akan sebuah toko kue kecil berlabel "Muffin Eni". Mimpi disuatu kelak dan di suatu tempat. Dan ternyata hasrat itu bekerja secara luarbiasa dalam kalbunya. Cup cake coklat, cup cake vanila, cup cake orange ataupun berbagai macam cup cake yang lainnya masih saja menari-nari dengan indahnya di dalam kalbu seorang perempuan berdarah sunda ini. Hal itupun masih tetap berlaku walaupun Herman telah memboyongnya ke sebuah pinggiran kota kecil disebelah selatan Pati. Di kota yang berpenduduk jarang inilah Herman harus membangun keluarga barunya. Maklumlah, Ia harus dipindahtugaskan di sana,. Walaupun begitu, Ia senang karena ternyata ia lebih dekat dengan kota asalnya. Pada awalnya Eni begitu keberatan diboyong ke kota kecil itu, tetapi atas nama cinta lah yang telah membuat ia harus mengepaki harta benda yang dikumpulkan sewaktu ia bekerja di kota metropolitan. Sebuah kotak kecil pemberian Narita tidak luput dibawanya dan menempati pojok kecil mobil pengangkut barang yang disewa Herman. "Kotak ini ajaib...bukanya nanti ya, kalau kamu udah sampai di Pati!". Sebuah kalimat perintah yang sangat dipatuhi oleh Eni. Eni tersenyum girang sewaktu ia menerima hadiah kecil dari sahabatnya itu. Ditambah lagi saat ia membuka kotak itu. Cup-cup kertas yang lucu dan berbagai warna, beberapa bahan roti dilengkapi dengan alat-alat cetak kue tersusun rapi didalamnya. Ia terlihat begitu sumringah dan bertambah semangat untuk mewujudkan impiannya. Hanya saja ia harus meminjam mixer dan oven dari Ibu Tarsih, tetangganya. Kemampuan Eni untuk membayangkan sebuah toko kue kecil di pingir kota semakin menguat, apalagi ia akan merasa sangat bangga ketika melihat jejeran kue-kue berumah kertas warna-warni itu di dalam etalase kaca. Tangan Eni sendiri yang akan yang akan mengatur tiap tiap detil isi toko itu, bahkan ia berjanji untuk selalu ramah melayani pelanggan. "Ini kota kecil, En...Pinggiran lagi. Roti muffinmu (baca:mufin) itu kok kayaknya nggak cocok dijual disini. Bahannya saja mahal dan susah nyarinya. Nanti kalau kamu jual harganya juga pasti mahal. Mbok diganti dengan jajanan pasar saja. Aku malah setuju'", Kata Herman agak sedikit keras. " Muffin (baca:mafin), bukan mufin, Mas. ...., ledek Eni,"Tapi, Kue ini langka di sini , Mas. Coba... mas cari di warung roti pojok sana. Nggak akan ada!", tambah Eni dengan sengitnya. " En, awalnya akan laku karena orang-orang pasti penasaran. Tapi setelah itu..... ya sudah, mereka nggak akan beli lagi. Lha wong udah tahu rasanya'", tambah Herman.Eni begitu berang setiap kali menginggat pertengkaran itu dengan suaminya. Kenapa lelaki yang menikah dengannya itu tidak mendukung ide cemerlangnya. Sore itu Eni begitu sebal melihat air muka Herman. Ia hanya menyeriangai saja. Entah menyeringai atau mentertawakan Eni. Herman hanya melintasi dapur saat Eni hendak memasukkan kue cup cake nya ke dalam oven. Perempuan itu tetap saja cuek. Ia mengambil tabloid wanita yang baru ia beli siang tadi. Mungkin lebih baik membaca resep-resep makanan daripada melihat sikap Herrman yang tidak dapat dicernanya itu. "Eniii.... bau apa ini?", Herman berteriak. Eni melompat gesit dari tempat duduknya. Spontan ia menyambar serbet kumal yang ada di meja. "Ya ampun, mas...muffinnya gosong. Oven bu Tarsih bocor, ya? Herman hanya mampu mengulum senyumnya. Ia tidak berani tertawa terbahak-bahak di depan istrinya. Entah perlu berapa lama untuk meyakinkan kekasih jiwanya itu. Sebenarnya perasaan bangga akan kelincahan Eni sedang beradu keras dengan perasaan geli di dalam dadanya. Yah, semoga Eni mengerti.

Selasa, 24 Juni 2008

Sup bihun ayam hangat untuk Tio

Fandu harus mengayuh sepeda secepat-cepatnya. Sebelum jam tiga. tapi entah kenapa rantai sepeda itu tidak mau bekerja sama dengannya. uhh, hampir lima kali ia harus berhenti hanya sekedar membetulkan rantai yang sudah agak karatan dan longgar itu. Dengan bantuan 2 buah ranting pohon kenari sebagai alat bantu, Fandu berusaha untuk membetulkan sepeda mini warisan ayahnya itu. Jantung Fandu berdegup kencang.Ia hanya terus merasa tak akan sanggup sampai dirumah Tio tepat jam 3. Rumah Tio tepat diseberang bukit dan yang pasti jalan menuju kerumahnya sangatlah terjal dan naik turun. Debu-debu tanah beterbangan tiap kali ban sepeda melindasi mereka dengan kasarnya itu dia. Atap rumah Tio sudah terlihat lebih jelas saat fandu berada tepat diatas bukit. Sesaat Ia melihat rantang yang terbungkus kain kotak-kotak milik mama. Mama meletakkannya dengan rapi didalam keranjang sepeda. Mama Fandu baru saja selesai membuat bihun kuah ayam kesukaan Tio. Ahh, hampir saja terlambat. Tio sudah mulai memasukkan koper kecil miliknya kedalam bagasi mobil hijau yang disewa om Ko. "Tio....". Fandu berteriak sambil menambatkan sepedanya di bawah pohon mahoni. Dengan tergesa-gesa ia mengambil rantang makanan dari keranjang sepeda, dan uppss...hampir saja jatuh. " Ini dari mama, ia bilang mumpung masih hangat supnya dimakan dulu. kan kota sentosa lumayan jauh". Tio mengangkat tangannya dan tersenyum lebar. Ia tahu mama Fandu sorang yang sangat baik. Bahkan makanan kesukaannya pun ia tahu. Hari ini hari terakhit Tio tinggal di bukit Hurai. Ia akan pindah ke kota Sentosa. Ayah Fandu, om Ko, mendapat tugas untuk mengawasi para pekerja bangunan di sana. Mandor Ko. itu sebutan baginya nanti. Karena proyek pembangunan kota itu membutuhkan waktu lama, maka keluarga Om Ko harus pindah ke sana. Tio dan Fandu. Dua sahabat ini akan berpisah cukup lama. Wajah Fandu terlihat kemerahan menahan kesedihan. tidak ada teman yang akan bergantian mendorong sepedanya lagi ketika pergi ke sekolah.

Jumat, 09 Mei 2008

kerdil, aku tak mau

Saya mencoba menghentikan taksi, tapi tak satupun mau berhenti. Saya memilih-milih baju, tapi hanya ada baju bergambar kartun anak-anak yang pas di badan saya. Saya memilih celana jeans yang tepat dan pas di pantat saya, tapi hanya ada yang bergambar bunga-bunga mawar dengan sedikit glossy diatasnya. Saya mencoba mengantungkan hiasan tingkap-tingkap langit dikamar, tapi walaupun saya berdiri diatas meja tetap saja tangan kokoh saya tidak mampu menjangkaunya... semua karena saya kerdil dan saya berumur seperempat abad ditambah 8 tahun. Haruskah saya tetap memakai kaos bergambar kartun anak-anak dan bercelana jeans bunga mawar... ?

Botol minum Narnia

Ini adalah botol terbaik yang dimiliki Narnia. Gadis cilik yang masih halus mukanya itu sangat menyanjung tinggi botol plastik bermotif bunga-bunga lili miliknya itu. Dia tidak pernah lupa untuk membawanya setiap kali dia pergi kesekolah dan tidak pernah mau memasukkan kedalam tas sekolahnya. Yang paling penting adalah, dia harus menjinjing dan mengayunkan botol air itu sepanjang perjalannya ke sekolah. Entah karena alasan apa, tapi yang pasti dia selalu merasa puas setiap kali botol itu menyentuh bagian samping tasnya dan ada sentuhan sayang yang bisa dirasakannya. Dan setiap kali hal itu terjadi dia akan tersenyum ringan. Botol itu diperoleh dari seseorang yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Di hari ulang tahunnya pagi-pagi sekali ada sebuah bungkusan kecil bertali pita warna pink tua di daun jendela kamarnya. Narnia terkejut sekali karena saat ia membuka mata, benda itu yang pertama kali menyapanya. Sepucuk kartu kecil bergambar boneka teddy bear menghiasi di bagian pojok kiri kartu itu. " Selamat ulang tahun sayang. Kalau botol ini ada di dekatmu, maka nenek akan selalu ada didekatmu" Kalimat itu mengejutkan hati si kecil Narnia. Kalimat singkat itu dibacanya berulang-ulang. Mungkin hampir Sepuluh kali. Dari nenek. Hatinya terus bertanya-tanya. Dia melompat kegirangan dan menunjukkan hadiah kecil itu pada mama. Sebuah hadiah dari sang nenek yang sudah sangat dirindukannya 4 tahun terakhir ini. Kedatangan botol kecil itu memberinya semangat untuk terus menunggu sang nenek memencet bell rumahnya suatu saat. Mama tersenyum hangat. Dia tahu betapa putri kecilnya itu merindukan nenek Emma untuk segera memeluk dan menidurkannya di pangkuan. Tapi rasanya harapan besar Narnia tidak sebesar harapan sang mama. Botol itu bukan dari nenek, tapi dari sang mama yang tahu betul bahwa kupu-kupu kecil yang bernama Narnia itu sangat merindukan nenek yang sudah tidur di pangkuan Sang Bapa tepat ketika Narnia 8 bulan dikandungan sang mama..