Tampilkan postingan dengan label antara ruang doa dan kecemasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antara ruang doa dan kecemasan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2008

Pertarungan Mama

Mengubah posisi duduk. Itu yang dapat aku lakukan saat ini. Rasanya aku sudah bersimpuh hampir setengah jam tanpa berganti posisi. Sakit sekali rasanya lututku. Kuharap aku bisa bersembahyang dengan lebih khusuk lagi jika posisi dudukku sudah kuubah. Ternyata rasa pegal dilutut mampu mengurangi konsentrasiku untuk bercakap-cakap dengan Tuhan. Mungkin sebaiknya kuselipkan tas kuning bertali satu yang dari tadi ada disampingku sebagai pelapis kulit lututku. Sejenak kutundukan kepalaku dan kulihat lututku memang sudah memerah. Bekas-bekas lipatan karpet bermotif bunga terlihat jelas membekas disana. Sejenak aku diam dan menunda untuk berdoa. Mata mudaku berburu didalam ruangan ini. Hal yang tidak kulakukan beberapa waktu yang lalu saat aku memasuki ruang doa ini. Pada awalnya memang hanya berniat untuk duduk dan berdoa, jadi aku tidak begitu memperhatikan dekorasi ruang syahdu ini. tetapi suasana yang ada di dalam ruangan ini telah membuatku nyaman untuk bersimpuh lebih lama dan berbincang dengan Sang Khalik dengan lebih intim lagi. Lima menit lebih dari pukul dua siang. Pemandangan waktu yang berhasil kulihat dari arloji anti air yang kacanya sudah agak retak. Tak apalah retak asalkan masih bisa berfungsi dengan normal. Masih ada waktu dua puluh lima menit lagi untuk tinggal di dalam ruangan beraltar ini. Sepertinya jiwaku ingin berkhusuk sendiri kala ini. Kutuntun mata menatap setiap detil ruangan bercat putih bersih dan berornamen kaca mozaic. Gambar-gambar kerahiman dan Keilahian Allah terpampang di dua sisi tembok. Gambar-gambar itu memang tidak terlalu besar, disesuaikan dengan ukuran ruang doa yang memang cukup untuk 3 orang saja. Rasanya figur-figur keampuhan Tuhan meresap diatas ayunan-ayunan kanvas sang pelukis dan nuansa itu mampu mengidik kesalutan hatiku. Aku benar-benar tersentuh. Sebuah rasa yang sudah agak lama tidak hadir dalam hatiku karena terhalang dengan waktu-waktu sibuk duniawi. Harum sedap malam yang dikombinasi dengan lilin putih yang terbakar memenuhi ruangan ini. Aku tidak merasa terganggu, justru wewangian itu serasa menambah khidmat dihatiku saja. Kurasa pengurus tempat doa ini memang sengaja menciptakan suasana seperti ini, karena bunga-bunga itu memang kelihatan masih baru dan segar. Sebuah altar dari kayu jati berpernis halus ada di depanku. Vas bunga sedap malam dan lilin putih ada diatasnya, selain itu sebuah alkitab yang sudah tidak baru lagi juga ada disitu. Pasti setiap pendoa yang masuk ruang ini selalu membuka kitab suci ini dan membacanya. Baguslah, karena masih ada orang yang mencari penghiburan lewat ayat-ayat Tuhan. Mataku berhenti mengembara. Kali ini perjalanan bola hitam mataku berhenti pada sebuah kotak kayu sebesar kardus sepatu sneaker hitam milikku. Memang tampak lebih tinggi dari kotak sepatuku. Benda itu tertutup rapi dan sepertinya benar-benar terkunci. Rasa penasaran mulai muncul, hatiku dipenuhi pertanyaan kotak apakah itu? Kotak persembahankah? Bagiku pertanyaan itu tepat karena sebuah lubang memanjang berada tepat berada diatas kotak itu, lubang yang hampir mirip dengan celengan kura-kura yang kutaruh diatas televisi tabung di dalam kamarku. Tetapi lubang di kotak kayu itu memang lebih panjang, seukuran amplop yang biasa mama pakai untuk menyumbang uang. "Ehm, kurasa ini bukan kotak persembahan.", gumamku lirih. Aku tidak mampu membuka kotak yang memang terkunci rapat itu. Hanya kudapati sebuah tulisan singkat diatas kertas putih yang dilaminating. Kertas itu tergantung bebas disamping kotak. KOTAK DOA "Kotak Doa”?. Suara itu tersentak ringan dari mulutku. Sebuah keheranan yang keluar dari tenggorokanku yang bergetar. Aku perlu memahami keberadaan kotak itu sampai beberapa detik. Sebuah kotak doa yang tidak pernah kujumpai selama ini karena aku memang tidak pernah menabung doa-doaku. Kehadiran kotak itu memberi isyarat bahwa aku bisa menulis daftar doaku dan memasukkan kedalam benda berlubang itu. Bagaimana aku bisa menulis, karena memang tidak kujumpai selembar kertas maupun pena." Apakah aku harus meletakkan mulutku didekat lubang itu dan mengucapkan doa-doaku? Sebuah pikiran bodoh yang memang keluar dari benakku. Ada dua laci. Laci-laci itu berada di bagian depan meja altar. Mungkin aku akan menemukan sesuatu disana, pikirku. Ternyata benar. Ada banyak amplop kosong dan beberapa lembar kertas kosong. Aku mulai bisa mengerti arti kehadiran kotak doa itu dan saraf-saraf otakku mulai menyambung informasi yang kudapat dari apa yang kulihat. Kuraih selembar kertas kosong dan sebuah pena hitam. Selembar kertas kurasa tidaklah cukup untuk menulis semua doa yang kuminta dari Tuhan. Tapi kurasa aku ingin menulis doaku secara singkat saja. Lembar kertas putih yang sudah berkolaborasi dengan tinta hitam dan membentuk rangkaian kata-kata doa ini segera kulipat dan kumasukan kedalam amplop putih. Kucium sebentar sebelum akhirnya tangan kananku memasukkannya kedalam kotak itu. “Hmm..kotaknya penuh”, gumamku. Karenanya aku harus menekannya dengan lebih kuat dan memastikan bahwa seluruh badan amplop masuk ke dalam kotak. Sebuah doa. Ya, memang hanya sebuah doa, tetapi aku terus memintanya dengan tekun pada Tuhan. Dalam doa itu aku berusaha untuk tidak goyah. Doa atas seseorang yang sangat kukasihi dan kupanggil "mama". Dan aku hanya merasa jika aku memintanya dengan teguh kepada Tuhan, Ia pasti mempertimbangkan permintaanku. Ah, kulihat kembali arloji yang melilit ditanganku. Hampir setengah tiga. Segera kurapikan isi tasku. Aku harus cepat, pikirku. Hari ini jam tiga mama harus dibedah. Ia sudah dirawat dirumah sakit ini selama satu minggu. Perempuan yang sudah merawatku sekian tahun ini sudah melewati beberapa tes kesehatan dan keputusan final berupa operasi memang harus ditempuh. Kanker ganas yang sudah mulai mengakar disaluran sel telur mama semakin menghebat. Sebuah penyakit mengerikan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bagiku ini adalah berita yang mengejutkan karena ketika aku pulang dua bulan yang lalu, mama tampak begitu sehat dan segar. Aku benar-benar tidak percaya ketika papa memberitahuku lewat telepon pagi-pagi buta. saat itu aku masih setengah bermimpi, antara tidur dan bangun. Berita kesedihan itu mampu menggetarkan gendang telinggaku. Remuk rasanya hatiku, ditambah lagi Om Randu, dokter keluarga kami, memberikan informasi yang tampak makin mengiris kalbu saja. Hidupku dipenuhi dengan rasa khawatir dan ketakutan yang makin menebal dari hari ke hari. Rasa takut kehilangan mendera hatiku dengan kuatnya. Akankah aku mampu mengalahkan perasaan itu. Pekerjaan yang terlalu banyak membuat aku lupa bagaimana berdoa dan bagaimana aku bisa mendapatkan penghiburan. Hampir setiap hari rasa lelah membunuh keinginanku untuk membuka firman Tuhan dan berdoa. Sampai akhirnya Tuhan mengingatkan aku kembali untuk membuka kitab suci tebalku. Sebuah panggilan Tuhan pagi-pagi sekali saat secara tidak sengaja aku menyenggol rak buku. Alkitab mencuat keluar. Saat itu aku hanya terdiam beberapa saat. Jiwaku ada dalam percabangan antara membuka Firman Tuhan atau mengabaikannya. Lalu kuputuskan untuk membuka kitab itu. Kitab pertama yang terbuka adalah Yakobus, dan aku begitu terkesima dengan pasal pertama tentang hikmat dan iman, tentang keteguhan untuk berdoa dan iman yang tidak boleh goyah. Sejak saat itu kuputuskan untuk selalu membasuh muka tiap jam lima pagi dan melanjutkannya dengan berdoa. Aku memerlukan sapaan dari Tuhan tiap hari. Setidaknya Tuhan menolongku untuk memahami arti sakit mama. Sebuah ujian iman. Aku berlari kecil menuju ruang inap mama. Perlu waktu 10 menit berjalan dari ruang doa dan kamar, itu jika lift tidak antri. Sudah lima kali aku melewati selasar rumah sakit hari ini. Hilir mudik, karena aku harus mengurus kembali beberapa surat pernyataan sehubungan dengan operasi mama. Payah sekali rasanya, tetapi ternyata aku masih memiliki sisa waktu untuk mencari ruang doa tadi. Aku berdiri terengah-engah dihadapan papa dan beberapa sanak saudara. Kuatur nafasku sejenak dan air mineral dalam botol sudah mengalir lewat kerongkongan. Dan kini ritme detak jantungku sudah mulai normal kembali. Tapi mulutku belum mampu memproduksi kata-kata. Papa hanya diam. Satu jari telunjuk tepat berada di atas kedua bibirnya sedangkan jari telunjuk yang lain menunjuk kearah kamar mama. Spontan aku mengintip mama melalui kaca bening yang berbentuk persegi dan sebesar buku novel favoritku. Aku perlu sedikit mengangkat tumitku agar pemandangan didalam kamar bisa kulihat lebih sempurna. Om Randu ditemani 2 orang dokter spesialis dan seorang perawat sedang mempersiapkan operasi mama. Mereka sedang memeriksa detak jantung dengan stetoskop warna putih keabu-abuan. Botol infus mama juga sudah diganti dengan yang baru karena tadi pagi cairan infus masih sisa setengahnya. Rasanya iba sekali melihat mama yang hanya makan dari cairan infus saja. Ia selalu memuntahkan makanan yang masuk kedalam mulutnya. Suster berparas ayu yang dari tadi berada di ruang inap mama kini berusaha membuka slot pintu. Ia mengungkit slot itu dengan bantuan ujung penanya, tampak kalau pintu yang satunya memang jarang dibuka karena slot itu terlihat berkarat dan agak susah untuk dibuka. Mama keluar dan tetap terbaring diatas tempat tidur berodanya. Kini pakaiannya sudah berganti dengan warna biru muda. Ia tersenyum lemah. Rasanya aku tidak tahan melihatnya. Perempuan terhormat yang sedang terbaring itu berusaha mengangkat tangannya.Tangan itu kelihatan makin mengecil saja dan aku yakin ia memerlukan energi yang cukup besar hanya untuk melambaikan tangan saja. "Mama pasti bisa", Sebuah kalimat penguatan keluar dari mulutku seraya aku meletakkan tangannya yang lembut itu dipipiku, " Bertahanlah", lanjutku. Aku berusaha untuk tidak menangis. Sekali saja aku meneteskan airmata, tembok pertahanan mama pasti akan runtuh dan sesudah itu mungkin tidak hanya aku saja yang menangis. Papa sudah mengingatkan kami, anak-anaknya, untuk tidak menangis di depan mama. Beberapa kali ia mengingatkan kami. Tangan mama kupindahkan ke arah Dina dan Onel. Pelan-pelan mama menyentuh muka mereka. Dua anak yang kemarin kelihatannya masih suka bertengkar hanya karena masalah es krim atau coklat kacang, tapi kini mereka mampu memperlihatkan sedikit kedewasaan di depan mama. Satu-satu kami mencium kening mama. Papa mengakhiri perjumpaan itu dengan pelukan yang terlihat begitu mesra. Ayah terhebat itu mencium kening mama sampai dua kali. Om Randu mengangguk ringan. Ia meminta ijin untuk segera membawa mama ke ruang operasi. Tidak ada yang menangis, hanya saja ada rasa harap-harap cemas yang bergulat di dalam hati kami. Terasa semakin kuat. Kami hanya diam seribu bahasa, berpuasa untuk berlaksa-laksa kalimat pengharapan. "Tuhan Yesus, sembuhkan mama, bawa dia kembali kepada kami dengan senyum yang lebih lebar, raga yang lebih kuat dan helaian rambut yang lebih kuat lagi. Hanya kehendakMu saja yang terjadi. Amin" Doa itu yang berulang kali terucap di mulutku. Dan selama waktu menunggu kurasa aku sudah berdoa hampir dua puluh lima kali. Doa yang berselang-seling dengan Doa Bapa Kami. Aku mencoba agar tidak terlalu khawatir. Detik-detik berlalu dengan sangat lambat. Aku duduk dan berdiri bergantian. Kuperhatikan bungkus permen yang ada ditempat sampah disampingku. Hampir semuanya berjumlah 13 buah, Ah, aku tidak menyangka ternyata gigiku juga ikut bekerja keras mengunyah gula-gula liat itu disela-sela waktu menunggu. Setidaknya permen-permen itu, mampu membantu meredakan rasa gundah di dalam hatiku. Papa hanya diam. Kurasa ia ingin menyulut batang rokoknya, tapi ia terlihat sangat berusaha keras untuk tidak melakukannya. Beberapa kali ia memainkan bungkus rokoknya, tapi ia enggan untuk menyalakan pematik api. Mungkin karena banyak papan “Dilarang Merokok” di beberapa bagian dinding rumah sakit. Walaupun demikian, sebenarnya papa bisa keluar ruangan sejenak dan mencari ruang khusus untuk memakan asap. Aku hafal betul dengan kebiasaan papa saat ia benar-benar depresi. Dalam keadaan itu ia pasti bisa menghabiskan berbatang-batang rokok dalam sehari. Dejavu. Mungkin tidak juga. Aku pernah merasakan saat-saat seperti ini ketika Neta, sahabatku di sekolah melukis, sedang koma. Saat itu ia benar-benar berjuang keras dengan gegar otak parah yang menimpanya. Kawan baikku itu jatuh dari sepeda dan terguling ke dalam jurang yang sebenarnya tidak terlalu dalam. Sayang, pergumulannya dengan debu dan tanah itu berakhir diatas batu cadas hitam dan kepalanya harus terbentur keras di sana. Ngilu sekali rasanya mengingat akan hal itu. Aku dan beberapa teman begitu setia menunggu Neta dirumah sakit. Kami berharap agar ia segera sadar dari komanya. Perasaan saat itu sama persis dengan yang kurasakan saat ini, tatkala harap-harap cemas benar-benar bertarung dengan hebatnya. Kubuka kembali tutup botol air mineral ditanganku dan sepertinya sudah satu liter air mengguyur dikerongkonganku. Bahkan botol itu sudah kuisi ulang dengan air yang kuambil dari dispenser rumah sakit. Seberapapun air yang kuminum, rasanya aku tetap seperti di tengah-tengah padang pasir. Benar-benar kering. Dalam nama Yesus ada kemenangan. Sebuah lagu sederhana. lagu dari sekolah minggu yang masih lekat di dalam pikiranku. Nada dan syair itu keluar lirih dari mulut Onel. Aku tertegun karena selama ini ia selalu menolak untuk menyanyikan lagu itu kecuali kalau ia sedang mengikuti sekolah minggu di gereja. Kali ini ia menyanyikannya tanpa paksaan. Ah, setidaknya Onel bisa merasakan kegundahan hati orang-orang yang lebih dewasa darinya, karena usianya masih 9 tahun. Dokter Joseph keluar dari ruang operasi. Ia hanya sendiri, tanpa Om Randu. Kami terkejut dan ruang kosong dihati kami terus bertanya-tanya: kenapa?, mengapa?, bagaimana? Dokter itu berjalan dengan tegak. Badannya yang tegap benar-benar terlihat sangat proporsional dengan berat tubuhnya. Itu yang terlihat di mata fisikku. Apapun itu, ia adalah dokter baik yang selalu memberikan informasi lengkap tentang perawatan untuk mama. Dokter Joseph menyapa sahutan dokter lain sebelum akhirnya ia berhenti tepat di depan papa. Papa berdiri spontan begitu melihat juru sehat itu keluar dari ruangan. Dokter diam sejenak, ia menarik nafas dalam-dalam. Sinyal-sinyal akan berita buruk sudah spontan mengisi pikiranku dan aku merasa yakin kalau sinyal-sinyal yang sama juga sedang berkelahi di dalam pikiran papa. "Ia baik, kondisinya stabil..", Kata dokter itu dengan suara yang terdengar berwibawa," Kita tunggu hasil operasinya. Bu Ranti perlu terus dimonitor", lanjutnya. Seandainya saja ada tempat pembuangan sampah sebesar Bantar Gebang di dekat rumah sakit ini, pasti saat ini juga aku akan membuang beban yang ada di pundakku. Aku bernafas sedikit lega. Entah apapun akhir dari perjalanan sakit mama, tapi yang pasti aku bersyukur bahwa ia adalah pemenang atas sebuah pertandingan yang bernama "operasi kanker" "Beri kami hati yang bijaksana untuk memahami apapun hasilnya ya Tuhan. Itu pasti yang terbaik untuk Mama". Itu doaku yang paling akhir sebelum akhirnya mama keluar dari ruang operasi dalam keadaan yang masih tidak sadar. Kali ini aku akan berdoa dengan lebih tekun lagi dan tanpa ragu-ragu. Tuhan tentu lebih senang dengan doa yang teguh dan tidak terombang-ambing. Kali ini aku benar-benar belajar dari kitab Yakobus. Nanti malam aku akan membuat kotak doaku sendiri dan tiap doa akan kutulis rapi diatas kertas putih. Aku berharap agar suatu saat ketika aku membuka celengan doaku itu, aku bisa bersyukur bahwa Tuhan memiliki cara-cara yang ajaib untuk menyembuhkan mama.