Air yang memenuhi danau itu terlihat keruh. Bertambah hari bertambah menjijikkan. Bagaimana tidak. Semenjak pusat pembuangan sampah di desa sebelah ditutup, orang-orang kampung mengalihfungsikan danau itu menjadi kloset kotoran rumah tangga. Dari sampah organik hingga sampah plastik semuanya menjadi satu. Kejijikan sudah berbaur mesra di dalam danau itu. Bau air alami sudah tidak tercium lagi. Yang ada hanyalah bau bacing air danau dan hewan-hewan pengurai tak bertulang pasti sedang mengurai sampah. Muak aku melihatnya dan beberapa kali aku meludah.
Nyamuk-nyamuk bernyanyi dalam kebebasan. Rasanya dua kompi pasukan nyamuk terus menyerang kampung dengan ganasnya. Entah obat nyamuk jenis apa yang bisa membasmi habis mereka. Hewan bersayap itu memiliki bayonet yang menghiasi setiap moncong mereka. Benar-benar tajam menusuk kulit dan serangan itu pasti meninggalkan bintik-bintik merah yang membekas. Gatal sekali rasanya. Totol-totol merah itu sudah melukai etika bersolek kaum perempuan yang tinggal di desa itu. Kini, para hawa tidak lagi terlihat memukau dan mempesona.
Aku tetap duduk jongkok di pinggir danau.Tidak ada bale kecil disekitar air berwarna hijau tua itu. Aku diam tegar dibawah hentakan sang raja siang. Tidak ada tabung oksigen yang bisa mengantikan udara anyir ini. Kepalaku terasa pening untuk membedakan bau sampah dan bau kandang sapi Pakde Suwito.
Aku mencoba bertahan sejenak. Memikirkan kembali keinginan untuk meninggalkan kampung. Kampung ini tempat terbaikku. Hal inilah yang menghidupkan kebimbangan di dalam fuadku. Sanubariku bertarung antara kebencian meninggalkan daerah tempat aku dibesarkan dan asa untuk mencari lembar-lembar kertas berharga yang bisa kupakai untuk membayar hutang-hutang bapak. Aku benar-benar kesulitan untuk membuat keputusan. Rasa iba pada emak seakan-akan menahan kakiku untuk tidak melangkah. Sekali aku menetakkan kakiku ke tanah dan maju sepuluh langkah saja, itu berarti ucapan selamat jalan yang emak ucapkan subuh tadi benar-benar berlaku untukku.
Bagaimana dengan Emak? Siapakah pembelanya nanti, terutama saat ia mengalami masa-masa sulit. Umur emak memang baru saja berkepala empat, tapi raganya yang ringkih cukup membuatku merasa khawatir. Dik Drajat dan si bungsu Endah belum cukup dewasa menjaga ibu tuaku. Pikiran mereka masih terlalu muda. Tetapi apapun yang terjadi, aku memang harus pergi.
Bapak memang hebat. Ia begitu jagoan mewariskan berlipat-lipat hutang pada emak, aku, Dik Drajat, dan si bungsu Endah. Bapak meninggal lima belas hari yang lalu karena terlalu kaget melihat surat kecil yang dikirim Pak Usman, kurir desa, ke rumah kami. Sepucuk surat yang berisi peringatan kalau bapak harus segera melunasi hutang-hutangnya yang bernilai. Nilai yang bisa untuk membeli sebuah motor baru buatan Jepang. Matanya terbelalak waktu itu dan mulutnya menganga lebar seperti hendak menerkam ayam panggang yang masih utuh. Tangannya yang hitam dan kasar menahan keras didadanya. Ia bertahan antara hidup dan mati selama beberapa detik. Dadanya yang bergerak naik turun menandakan kalau ia berusaha menahan sisa-sisa nafasnya. Sebuah perjuangan terakhir bapak di jagat nyata ini.
Bapak mengadaikan sawah yang hanya sepetak ke bank desa. Ia mengambil jangka waktu dua tahun untuk bisa melunasinya. Tetapi rentan waktu yang dijanjikan tetaplah tidak cukup untuk mengumpulkan uang tebusan. Entahlah kenapa bapak tega mengadaikan satu-satunya harta termahal keluarga kami. Ia memakai uang gadai itu untuk kesenangan pribadi. Kartu gaple domino selalu menjadi teman istimewanya tiap selasa dan kamis malam. Dan bapakku begitu menikmati permainan judi itu dengan teman-temannya. Bukankah seharusnya bapak bisa menikmati waktu gelap dengan emak? Tapi kenapa ia malah menikmati malam dengan permainan konyol itu.
Bapak ternyata benar-benar kalah dengan bisikan makhluk bertanduk dua, berwajah merah membara. Mula-mula ia menaruh uang sebesar sepuluh ribu saja di meja judi, tetapi kemenangan-kemenangan kecilnya benar-benar mampu mengiringnya pada taruhan yang semakin membengkakkan dompet. Bapak menjadi gila harta.
Entah aku harus merasa bersukacita atau berdukacita atas kematian sesepuh lanang di rumahku itu. Aku tidak bisa membedakan dua rasa yang bertarung di dalam jiwaku. Rasa kesal semakin menggunung tatkala lawan main bapak di meja domino selalu datang menagih hutang. Kasihan emak.
Pancang pembatas antar desa terlihat makin jelas di depan mataku. Aku begitu awas menatap benda itu. Pemancang keras dari batu itu terlihat mengajakku berbicara dan melambaikan tangan. Ia menarikku dengan keras dan memaksaku untuk segera melewati garis pembatas desa. Aku merasa terseret keras ke arahnya. Apapun yang terjadi aku memang harus melewatinya dan berlari dengan sangat cepat. Aku tidak ingin menoleh lagi ke belakang karena magnet kampung terlalu kuat untukku. Keputusanku memang paling tepat walaupun cukup berat. Semuanya untuk emak.
Pagi-pagi kereta Progo sudah sampai di stasiun Jatinegara. Sinar matahari pun belum berani melelehkan embun-embun kota. Hiruk pikuk ibukota yang biasanya kulihat di layar kaca sama sekali belum kutemui di stasiun besar ini. Bau metropolitan memang belum menusuk-nusuk saraf-saraf hidungku. Tapi gembel-gembel ibukota sudah nampak jelas bergelimpungan di sepanjang selasar stasiun.
________ …________
Aku sudah ada di Jakarta. Pikiranku mulai bekerja keras. Ketakutan mulai mencuri di dalam jiwa kelakianku. Pikiranku sedikit limbung dan tidak tahu apa yang akan kulakukan. Walaupun demikian, hari itu aku sudah bertolak dari garis start untuk bertarung mengalahkan dilema hati. Sekali bertolak, pantang untuk kembali ke garis start lagi. Aku harus memenangkan pertandingan hidup kali ini.
“Aku harus tanya pada siapa?”, ujarku sedikit berbisik. Aku memang tidak memiliki siapapun di kota besar ini, kecuali Surip yang bekerja di sebuah pabrik molding di dekat Pondok Gede. Hari ini aku berniat untuk mengunjungi pondoknya. Keyakinanku kali ini sedang mengiringku ke arah sana. Secarik kertas bertuliskan alamat lengkap Surip sudah ada dalam genggamanku. Itulah modal terbesar yang aku miliki saat ini.
Sebelum langit memerah lagi dan matahari menutup mata, aku harus menemukan rumah Surip, janjiku dalam hati. Aku tidak memiliki pilihan lain kecuali harus tetap mencari pekerjaan. Kalau langkah nekat ini tidak kulakukan emak akan tetap diburu penjahat-penjahat domino itu
Benar. Pekerjaan baru menjadi seorang pesuruh kantor memang kudapatkan. Surip memang baik. Ia mengenalkanku pada bosnya. Sahabatku itu meyakinkan atasannya kalau aku pasti bisa diandalkan untuk menganti posisi OB yang sedang sakit.
“Apa aku bisa percaya kamu?”, tanya Mr. Kenji dengan logat yang mengelitik hatiku.
Aku langsung mengangguk sambil sedikit tersenyum. Kurasa aku harus belajar bahasa orang sakura ini sedikit demi sedikit.
Mr. Kenji hanya mengangguk-angguk saja. Akhirnya ia memberiku kesempatan untuk menjadi jonggos kantor.
“Kerja yang jujur, harus telaten. Kowe harus tekun ya, le!”, nasehat emak beberapa waktu yang lalu saat aku berpamitan merantau. Aku ingat betul wajah emak yang basah karena airmata saat aku berpamitan pada sesepuh perempuan itu. Ia berniat menahan kepergianku, tapi emak tetap tidak berdaya.Kehidupan keluarga kami memang harus ditata ulang. Dibenahi.
Prihatin. Itu yang kulakukan selama dua tahun pertama di kota besar ini. Ada saja yang selalu membuatku harus mengelus dada. Dikomplain para staf kantor adalah hal biasa yang selalu diterima para jongos, termasuk aku. Pernah salah satu sekretaris direktur menuduhku mencuri handphone keluaran terbaru miliknya. Tuduhan yang tak terbukti karena aku memang tidak melakukannya.
Prihatin dalam hal makanan dan sandang masih bisa kulakukan, tetapi cercaan dari orang-orang berduit benar-benar menusuk kalbuku. Berat sekali beban yang harus bertengger di punggungku. Badanku terasa makin kurus saja. Aku tidak berjalan dengan tegak ketika mendaki gunung pengharapan. Saat aku naik gunung itu, kerikil-kerikil yang rapuh akan menyeretku jatuh dan tubuhku menghantam tanah bawah lagi.
Musim penghujan sudah kulewati tiga kali. Panas matahari dan langit yang menghitam mendung datang silih berganti. Rasanya aku sudah menganti kalender di kamarku tiga kali. Dan kali ini kalender keempat yang masih baru.
Hutang emak sudah habis. Senyum emak sudah mulai mengembang. Bahu emak sudah bisa tegap kembali dan ia bisa menanak nasi dengan lauk yang lebih lengkap dari sebelumnya. Kini, Drajat dan Endah mulai lebih berani menatap masa depan. Lega sekali rasanya karena aku sudah tidak memerlukan tinta merah lagi untuk melingkari angka-angka kalender. Angka pengingat tentang masih berapa banyak tenggat waktu pelunasan hutang bapak.
_____________000______________
“Mas, ini kopinya.”,
Arum mengagetkan lamunanku. Baru saja aku memutar waktu mengingat masa silam. Masa dimana kesulitan menghujamku dengan keras. Tapi bukankah kesulitan itu sudah menempaku menjadi seorang Remboko yang kuat?
Lututku sudah tidak semerah sebelumnya karena gunung kesuksesan yang kudaki kini tidaklah seterjal dulu. Mr. Kenji menaruh kepercayaan yang besar padaku, Setidaknya aku bukan jongos rendahan lagi sekarang. Menjadi pribadi yang dipercaya oleh seorang expatriate Jepang selalu membawaku pada ucapan syukur yang besar. Benar kata emak, kejujuran dan ketekunan membawaku kepada sebuah kehidupan yang lebih cemerlang. Makan di restaurant franchise level dunia atau tidur di kasur yang berbusa sudah bisa kunikmati. Ternyata kasur-kasur itu benar-benar empuk, jauh dari ambenku dulu.
Kuteguk kopi panas beraroma jahe itu. Tangan Arum benar-benar lihai meramu kopi dengan jahe bakar ke dalam cangkir hijau favoritku. Cangkir yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku. Benda mati itu tidak akan pernah kutukar dengan apapun juga.
Kalbuku menyeret tubuh dan kakiku ke beranda samping tempat dimana burung bermulut manusia itu selalu menyapaku dengan ucapan yang selalu sama dan berulang. Si Beo yang kubeli dua bulan yang lalu. Aku menatap tiap helai bulunya yang benar-benar hitam. Beberapa saat kemudian senyum mengembang di mulutku. Geli sekali rasanya melihat burung itu yang sudah berlatih keras merangkai kata di dalam mulutnya. Seekor burung yang selalu kuimpikan sejak dulu dan baru kali ini aku berhasil memilikinya.
Pikiranku kembali terbang pada almarhum Bapak. Haruskah aku marah pada beliau? Kali ini aku harus menjawab tidak. Bukankah kisahku hampir sama dengan Yusuf, tokoh relijius masa lampau yang dibuang saudara-saudaranya menjadi budak. Haruskah Yusuf tetap marah pada saudara-saudaranya itu? Sepertinya ia menyadari bahwa pada akhirnya ia menjadi orang yang paling berguna untuk menolong keluarganya yang sedang kelaparan. Akupun juga tidak akan marah pada bapak.
“Rum, minggu depan kita pulang ke Jogja.”, ujarku sambil menepuk mesra perempuan yang sedang berbadan dua itu.
“Kenapa?”, tanyanya.
“Kita boyong emak ke Jakarta. Dia berhak merasakan hidup di tempat yang lebih baik. Setidaknya dia juga yang akan mendampingimu merawat thole kecil kita.”. Wanita berlesung pipit itu tersenyum hangat. Aku begitu bahagia memandangnya walaupun badannya kini sudah membengkak. Aku begitu bahagia karena dari rahimnya aku akan segera mendapatkan Remboko kecil yang kuat.