Senin, 14 Februari 2011

A class

sudah jam 7.35 menit. tapi hanya ada 2 anak yang hadir. mereka Felix dan Aurelia. 'Miss, we can start now", kata kepala sekolah "eventhoungh just 2 students?, tanyaku meyakinkan Miss Bin mengangguk sambil tersenyum, " it's a special day" yah, special day...hari ini hujan lebat. sangat lebat. anak-anak pasti datang terlambat. kendaraan bermotor pasti terjebak di jalan-jalan. hari ini kelasku sepi, lenggang. sebenarnya aku menunggu keceriaan Bianca, Wesly dan beberapa anak yang lain. tapi hari ini yang hadir pertama kali hanya 2 anak. tapi tetap harus semanngat. " class begins when 2 students come" inilah sekolah, seberapapun muridnya.

Kamis, 24 Juni 2010

Kenji Pie.

“Aku mau Kenjie Pie lagi”. Marvell merengek pada ibu gurunya. Ia terus saja meminta makanan yang menurutnya sangat enak itu. Kejadian lucu itu terjadi saat Ryan, teman sekelas Marvell, membawa satu kotak biskuit kering berbentuk hati. Ryan yang memang baik hati membagi-bagikan bekal makanannya pada semua teman kelasnya termasuk Marvell. 

Mereka sangat menikmati biskuit itu, dan hampir semua murid dikelas mengatakan kalau biskuit Ryan adalah bekal yang sangat istimewa. Walapun begitu mereka tetap kembali pada bekalnya masing-masing dan hanya marvell yang tetap merengek meminta kue itu lagi. Tapi sayang sekali karena dalam sekejap biscuit kering itu sudah habis.

“Marvell, apakah ini pertama kali kamu makan biskuit itu?” . Tanya bu guru sambil memegang kedua lengan Marvell yang kecil. Anak kecil yang giginya sudah ompong dibagian depan itu mengangguk berulang kali. Dan ia terlihat bersunguh-sunguh dengan jawabannya.

“Dan, biskuit itu enak sekali bu. aku mau lagi.. bantulah aku ibu?, katanya sambil mendongakkan kepalanya. Tangan kanan Marvell memegang ujung baju bu guru dan sesekali menariknya. Ibu Guru menatap geli wajah marvell. baru pertama kali ini ia melihat seorang Marvell yang lebih suka melamun dan membayangkan film-film kartun kesukaannya itu sangat menginginkan biskuit pie kering.

“Mm..maukah kamu kembali ketempat dudukmu dan menghabiskan bekal makananmu?” , Pinta ibu guru pada anak kecil  itu.

” Tidak mau. Ibu harus janji dulu”

”janji?”

”Ya”

“Sebentar… Sini, duduklah dibangku pink ini , ibu akan berbicara sebentar pada Ryan tentang biskuit itu. Marvell bisa menunggu sebentar?”

“Lalu dengan janjinya?

“kita bicarakan lagi nanti. Oke?”

Marvell mengangguk. Sementara ibu guru berbicara dengan Ryan, Anak kecil yang sedang tergila-gila dengan biscuit pie itu tidak henti-hentinya menjilati jari-jarinya . Ia pasti berharap sisa-sisa biskuit masih bisa ia rasakan, atau setidaknya butiran-butiran gula halus masih tersisa melekat di jari-jarinya. Walaupun Ibu guru sudah melarangnya melakukan hal itu, marvell tetap saja asyik menjilati jari-jarinya.

Sesaat kemudian bu guru kembali pada Marvell. Mata anak-laki-laki itu berbinar cerah. Ia pasti sedang berharap Ibu guru berhasil membawakan biskuit itu untuknnya lagi. Garis bibirnya segera turun, ia menjadi tidak bersemangat lagi saat mendapati tangan gurunya kosong dan tak ada sepotong Kenji Pie lagi untuknya.

” Ibu, aku mau kenjie Pie…”. Marvell, anak 5 tahun itu kembali merengek.

” Marvell, mari kita bicarakan tentang janji. Mau?”, kata bu guru sambil mengambil kursinya dan duduk dekat anak laki-laki itu,” Ryan hanya membawa satu bungkus, kurasa ia sudah cukup adil karena ia mau berbagi dengan semua teman. termasuk kamu”.

Marvell terdiam, bola matanya menatap wajah bu guru tapi bahunya turun sepertia anak yang tidak bersemangat. Gayanya menatap wali kelasnya itu seakan-akan ia meminta lebih dan lebih lagi. Ia berharap jawaban yang lebih dari itu.

“Terus tentang janji?” Tanya Marvell ingin tahu.,” uhh…Ibu, nanti ibu bilang ke sus ya biar aku besok bisa bawa biskuit seperti punya Ryan!”

“Hmm… itukah janjinya?”

”Ya bu guru.. tolonglah. Biskuit itu enak sekali. kalau besok mama mau membelikannya untukku aku pasti akan menghabiskannya dalam sekejab. Biskuit itu sangat enak sekali bu. “ Ocehan Marvell tampak jauh lebih serius dibanding obrolannya tentang tokoh-tokoh kartun yang selalu ia bicarakan setiap kali jam bermain. Ternyata Biskuit itu sudah mengalihkan perhatiannya seratus delapan puluh derajat. Hebat sekali si pie.

“Baiklah, ibu akan coba mengatakannya . tapi berjanjilah untuk mengungkapkan keinginanmu langsung pada mama. Mama pasti akan mendengarkanmu lebih lagi daripada sus.” Setidaknya nasehat itu bisa membantu Marvell agar jauh lebih bisa belajar mengatakan sesuatu langsung pada orang tuanya, karena memang selama ini anak kecil itu selalu menyuruh sus, babysitternya, untuk menyampaikan kepada mamanya.

“Aku tidak mau. Aku lupa”. Kali ini Marvell menjawab agak pelan. Suaranya hampir tidak terdengar lagipula ia bicara sambil menundukkan kepala.

“Kalau kau mau mencoba, ibu berjanji akan mengatakannya pada sus. Mau ?”

Pada akhirnya Marvell setju dengan perjanjian kecil itu. Walaupun hanya tentang biscuit pie, tapi marvell kecilpun harus belajar mengungkapkan keinginannya, terutama pada orang tuanya.

Hari berikutnya Marvell datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Ia langsung mencari bu guru dan menunjukkan kotak makanan perseginya. Bisa ditebak. Isinya penuh dengan biskuit Kenji Pie . Ia terlihat sangat girang dan berjanji akan menghabiskan bekal sekolahnya itu.

“Ibu, apakah jam makan masih lama? aku ingin makan Kenji Pie ku”. Marvell tampak tak sabar menunggu waktunya dan hampir setiap saat ia menanyakan jam makan bersama.

“Tunggulah Mister Kenji Pie!” jawab bu guru dengan sabar sambil menunjukkan jam dinding yag tergantung di pojok depan dinding kelas.,”kalau jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 10 itulah saatnya kau makan Kenji Pie mu. Mengerti?

Marvell mengangguk. Walaupun begitu ia tetap saja menanyakan jam makan bersama pada bu guru. Hampir setiap waktu.

“Enjoy your meal!”, Bu guru member aba-aba pada anak-anak agar mengambil kotak makan mereka. semua anak langsung sigap mengeluarkan makanan mereka . Mereka saling menebak makanan apa yang mereka bawa hari itu. Mama-mama mereka selalu member kejutan di dalam kotak makan mereka. Ryan yang baik hati selalu saja berbagi makanan dengan yang lain, seperti biasa. Ia selalu membawa makanan lebih.

“Jadi, apakah kamu mau berbagi dengan teman-temanmu, Marvell. Seperti Ryan kemarin.”, Tanya bu guru saat membantunya membuka kotak makanannya.

”Tapi aku sangat menyukai makanan ini. dan aku hanya membawanya untukku.”, jawab Marvell sambil memeluk kotak makananannya.

“Ups…Belajarlah berbagi Marvel. Seandainya Ryan tidak memberimu kue pie ini kemarin pasti kamu tidak akan merasakan makanan pie istimewa ini hari ini. Bagaimana?”. Setelah mendengar nasehat bu guru, Si Mister Kenji Pie itu akhirnya mau berbagi dengan teman-temannya walaupun ia harus memotong kuenya menjadi bagian-bagian kecil lebih dulu sebelum ia memberikannya pada  teman sekelas. Oh dear Marvell

Rabu, 23 Juni 2010

4 Crackers buat Katty

“Aku nggak tahu, Miss. Papa selalu begitu”,

Alasan itu yang selalu katty katakan pada Miss Pada setiap kali ia terlambat sekolah. Miss Pada tidak pernah menyalahkan katty atas keterlambatannya ke sekolah karena pada dasarnya anak gadis yang berusia 5 tahun itu tidak pernah tahu kenapa papa yang selalu mengantarkannya ke sekolah itu selalu bangun kesiangan. Hari ini pun juga demikian.

“Bolehkah suatu hari miss ngobrol dengan papa, Kat?”.

Katty  mengangguk. Ia mungkin lebih setuju kalau gurunya yang berbicara dengan papanya daripada ia sendiri yang selalu merengek dan marah pada orang tuanya hampir setiap hari. Sekalipun Katty sudah berpakaian rapi tepat pukul tujuh, karena jam masuk sekolah Katty adalah jam 7.30, tapi Katty selalu mendapati ayahnya masih mengunci pintu dan tertidur didalamnya.

”Jadi,.. apakah Katty tidak berusaha mengetuk pintu kamar papa?”

”Sudah, …emm tapi papa tetap nggak mau bangun Miss, dan aku harus mengetuknya lebih dari jumlah cracker beras yang selalu aku makan tiap pagi.”  Gadis kecil berambut panjang lurus itu berusaha menerangkan pada gurunya sambil tangan-tangan kecilnya tetap saja bermain dengan lego.

”so, how many crackers do you have every morning?

Ia mengangkat 4 buah jarinya dan menyelipkan ibu jari kecil diantaranya.

“Wow, kau pasti sangat sehat katty, karena tiap hari kau selalu makan biskuit beras. Miss kalah deh”

”Hemm..”, Ia menyeringai,” karena hanya biskuit itu yang selalu aku ada dimeja makan , Miss.”

”Oh..ya... Apakah mbak tidak menyiapkan sarapan pagi?

Katty menggeleng. Dengan keluguannya ia berusaha menjelaskan kalau Mbak As, tukang cuci gosok dirumahnya, selalu datang tiap jam 9 pagi dan sesudah itu baru akan ada nasi dan beberapa lauk yang lebih lezat.

”jadi sesudah 4 kali Katty mengetuk pintu, papa akan segera bangun?

”Yess…”, jawabnya agak sedikit girang karena ia berhasil menyusun meinan lego dan membentuknya menjadi sebuah menara yang tinggi dengan beberapa bangunan lain dibawahnya.

”Okay, I will tell him later sweet Katty…”

Sejenak Gadis manis yang tidak pernah mengikat rambutnya itu terdiam. Ia meletakkan semua mainan legonya dan bersandar dipangkuan Miss Pada.

”Yes?”. Miss Pada mengurungkan niatnya untuk beranjak dari kursi kecil berwarna pink. Ia membelai rambut gadis manis itu.

”Miss, kalau nanti miss ngobrol dengan papa, tolong bilang ya kalau Katty kangeeeen banget sama mama.”

Miss Pada terkejut, tapi ia berusaha menyembunyikan perasaannya pada murid kecilnya. dan alih-alih ia hanya berusaha mencari gelang karet. Berusaha agar bisa merapikan rambut dan mengikatnya agar lebih rapi.

”Well… why?”, lanjut Miss Pada.

”Habis, papa selalu marah tiap kali Katty tanya kapan mama pulang dari surga”

Oh, dear Katty. Jawaban Katty yang polos itu langsung menyentak hati Miss Pada dan sebagai seorang ibu di sekolah ia hanya selalu berusaha memberi sedikit kasihnya.

Senin, 21 Juni 2010

Mama: Penjahit Bulu Ayam

Tukang jahit bulu ayam. Itu panggilan yang sudah melekat buat mamaku. Dia memang bekerja sebagai buruh penjahit disalah satu pusat industri assesoris di depok. Pekerjaannya menyita waktu dari jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore, melebihi jam kerja kantor yang sudah ditetapkan pemerintah.

Betapa hebatnya ia. Mama tidak pernah peduli dengan peraturan ketenagakerjaan buruh, bahkan ia juga tidak peduli walaupun penghasilannya tidak sesuai dengan standar yang diterapkan pemerintah. Satu hal yang ia pedulikan hanyalah menjahit bulu sebanyak-banyaknya. Walaupun ia tak pandai membaca, atau membuat hitung-hitungan untung rugi tapi ia selalu memiliki target menjahit 50 lajur bulu setiap hari. Jika satu lajur bulu dihargai dua ribu rupiah, ia harus bisa menghasilkan seratus ribu setiap hari. Setidaknya ia akan membawa uang 7 tujuh puluh lima ribu rupiah setiap hari karena disewa ongkos angkot dan makan siang .

keberuntungan setiap haripun juga tergantung dengan mesin jahit yang ia pakai. kalau mesin hari itu rusak, maka mama hanya akan mengantongi uang sepuluh ribu rupiah satu harinya.

”itu ongkos kerjamu hari ini ya bu” kata juragan Abas kalau jam kerja sudah selesai.

Mama harus bersusah payah menjaga agar mesin jahit bulunya tidak rusak. Ia selalu rajin meminyaki pijakan pedal, sekrup dan mesin bagian dalam. Tiap minggu sekali mama akan membersihkan gigi-gigi bagian dalam dengan lap kering dan sikat gigi bekas. Setidaknya mama mengusahakan yang terbaik.

Tahukah kenapa mama harus melakukan hal itu. Bukan karena mama sudah menjanda dan papa sakit-sakitan, dan tak mampu bekerja lagi. Bukan karena anak-anaknya tidak mampu membiayai segala kebutuhan hidupnya, bukan karena Ia memiliki hutang yang terlalu banyak sampai ia harus bekerja membanting tulang. Mama hanya tidak pernah mau duduk diam dan berpangku tangan dimasa tuanya. ia terbiasa bekerja sangat keras sejak ia kecil dan ia merasa tulang-tulangnya akan remuk kalau ia tak bekerja. sampai kami anak-anaknya sudah sangat besar dan bekerja, mama tetap masih ingin bekerja.

Minggu, 02 Mei 2010

Tukang Jahit

Baju Nini terlalu kebesaran, padahal baju seragam itu harus dipakai 2 hari lagi dan memang wajib dipakai. Tak pelak lagi kalau ia memang harus pergi ke tukang jahit agar menjahit ulang alias mengecilkan pakaian wajib itu. Berapakah biaya yang harus ia keluarkan? hanya 10 ribu rupiah. biaya ini tidaklah terlalu besar untuk Nini.

Tapi, mari kita melihat dari sisi Ibu ani, si tukang reparasi baju. Ia dari tadi pagi sudah membuka lapak kecil diatas sepedanya. ia biasa dtemui di pojok belakang pasar tradisional. dan ia hanya bisa mangkal ditempat itu tiap 2 hari sekali saja, karena ada jadwal lain dipasar lain juga.

Bu ani tampak bersemangat ketika akhirnya ada seorang wanita muda dengan 1 buah kantong plastik putih dengan motif minimarket tertentu tertera pada plastik itu datang menghampirinya. yang pasti itu rejeki pertama yang ia dapat setelah hampir 5 jam ia menunggu.

Wanita muda itu bernama Nini. secara manusia biasa kita mungkin menganggap “ya memang seharusnya begitu” tapi mari kita melihat sebuah runutan jalan panjang.

ibu Ani berdoa bersungguh-sungguh untuk rejeki dan uang makan, Seragam Nini kebesaran, kemudian setelah cukup lama mencari akhirnya ia menemukan seorang “tukang benerin baju”. apakah semua itu semacam kebetulan. saya kira kog tidak. Tuhan membuat sebuah kisah hidup manusia dengan urutan yang sedemikian rupa. luar biasa kan. jadi berdoalah agar dalam hidup kita dapat bertemu dengan orang-orang yang tepat yang mampu membuat hidup kita lebih memuliakan Allah.

Sabtu, 10 April 2010

Amatilah ….

amatilah burung-burung di udara yang tidak menabur….

amatilah bunga bakung yang tidak memintal…

amatilah rumput liar yang tumbuh tanpa harus menerima pupuk….

amatilah ikan-ikan dilaut, yang besar dan yang kecil…

amatilah makanan yang kita makan…

amatilah setiap helai baju yang kita pakai….

amatilah setiap helai rambut yang jatuh…

amatilah dan kalau mampu hitunglah kedipan mata kita….

Jumat, 29 Januari 2010

MADA…. ADAM…AWAH…HAWA

Apa yang diperlukan seorang per-EMPU-an dari seorang Adam ?

Hawa memerlukan komitmen dan pengorbanan.

Hawa memerlukan kasih dan kesetiaan

Hawa memerlukan “ fighting spirit”

Hawa memerlukan tanggung jawab dalam setiap perkara.

Hawa memerlukan kepastian atas semua pertanyaan.

Hawa memerlukan ketulusan untuk mengasihi

Hawa memerlukan pendampingan dalam segala keadaan

Hawa memerlukan double proteksi dalam kelemahan maupun kekuatan

Hawa memerlukan kenyamanan bersama Adam saat keadaan tak nyaman

Hawa memerlukan kehadirannya dan bau khas darinya.

Jadi apa yang diperlukan seorang le- LAKI dari seorang hawa?