Tampilkan postingan dengan label sahabat sehangat sup ayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat sehangat sup ayam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2008

Sup bihun ayam hangat untuk Tio

Fandu harus mengayuh sepeda secepat-cepatnya. Sebelum jam tiga. tapi entah kenapa rantai sepeda itu tidak mau bekerja sama dengannya. uhh, hampir lima kali ia harus berhenti hanya sekedar membetulkan rantai yang sudah agak karatan dan longgar itu. Dengan bantuan 2 buah ranting pohon kenari sebagai alat bantu, Fandu berusaha untuk membetulkan sepeda mini warisan ayahnya itu. Jantung Fandu berdegup kencang.Ia hanya terus merasa tak akan sanggup sampai dirumah Tio tepat jam 3. Rumah Tio tepat diseberang bukit dan yang pasti jalan menuju kerumahnya sangatlah terjal dan naik turun. Debu-debu tanah beterbangan tiap kali ban sepeda melindasi mereka dengan kasarnya itu dia. Atap rumah Tio sudah terlihat lebih jelas saat fandu berada tepat diatas bukit. Sesaat Ia melihat rantang yang terbungkus kain kotak-kotak milik mama. Mama meletakkannya dengan rapi didalam keranjang sepeda. Mama Fandu baru saja selesai membuat bihun kuah ayam kesukaan Tio. Ahh, hampir saja terlambat. Tio sudah mulai memasukkan koper kecil miliknya kedalam bagasi mobil hijau yang disewa om Ko. "Tio....". Fandu berteriak sambil menambatkan sepedanya di bawah pohon mahoni. Dengan tergesa-gesa ia mengambil rantang makanan dari keranjang sepeda, dan uppss...hampir saja jatuh. " Ini dari mama, ia bilang mumpung masih hangat supnya dimakan dulu. kan kota sentosa lumayan jauh". Tio mengangkat tangannya dan tersenyum lebar. Ia tahu mama Fandu sorang yang sangat baik. Bahkan makanan kesukaannya pun ia tahu. Hari ini hari terakhit Tio tinggal di bukit Hurai. Ia akan pindah ke kota Sentosa. Ayah Fandu, om Ko, mendapat tugas untuk mengawasi para pekerja bangunan di sana. Mandor Ko. itu sebutan baginya nanti. Karena proyek pembangunan kota itu membutuhkan waktu lama, maka keluarga Om Ko harus pindah ke sana. Tio dan Fandu. Dua sahabat ini akan berpisah cukup lama. Wajah Fandu terlihat kemerahan menahan kesedihan. tidak ada teman yang akan bergantian mendorong sepedanya lagi ketika pergi ke sekolah.