Nurani. Ia dipenuhi gairah hidup untuk terus menemui orang-orang khusus. Entah kriteria seperti apa yang ada didalam benak Nurani akan sebutan orang-orang khusus. Tapi yang jelas ia merasa menjadi gadis remaja yang istimewa ketika ia menemui orang-orang yang berkriteria spesial itu.
Ia gadis yang bermata bening, berambut sepinggang dan selalu tersisir rapi. Aroma wangi aloevera sangat bercirikhas dengan remaja yang selalu tampak ceria ini. Ia begitu cakap merawat diri. Siapa yang tidak pernah merasa nyaman duduk dan bercakap-cakap dengannya. Hampir tidak ada.Torai, kucing anggora miliknya selalu terlihat sangat menikmati harum rambutnya setiap kali Nurani meletakkannya diatas bahunya. Sebenarnya tidak hanya Torai saja. Momo, Tupai kecil peliharaannya, ternyata memiliki indera penciuman yang lumayan baik untuk senantiasa lengket di bahunya. Momo terlihat begitu nyaman di tangan Nurani setiap kali gadis itu mengajaknya keluar untuk jalan-jalan.
Hari minggu, hari yang ditunggu-tunggu. Nurani sangat bersemangat bila hari itu tiba. Tiap hari perhentian tiba, ia bisa mengunjungi orang-orang khusus itu. Dia selalu mempersiapkan segala sesuatunya. Terkadang ia membawa sekotak karton coklat kecil bersalut pewarna makanan yang semarak atau juga permen-permen yang dibungkus plastic bermotif lucu. Ia biasa menyisihkan uang sakunya demi membeli makanan-makanan manis itu. Atau mungkin juga kue-kue muffin dalam kertas bermotif. Kalau kue muffin, ia selalu membuatnya sendiri. Ia selalu yakin kalau tangan-tangan lincahnya memiliki perasa yang istimewa pada setiap kue yang dibuatnya. Kue-kue cantik yang sudah melewati pemanas oven. Mamanyalah yang selalu membantu Nurani.
Ia tidak pernah lupa dengan kartu-kartu kecil istimewa yang bertuliskan kata-kata penyemangat. Ia menyisipkan didalam plastik-plastik pembungkus coklat atau kue. Terkadang Nurani hanya membagi kartu-kartu itu begitu saja. Hal itu terjadi ketika uang sakunya benar-benar menipis. Walaupun begitu Ia tampak selalu berenergi setiap melakukan aktifitas mingguan itu. Tak heran jika orang-orang khusus yang ditemuinya selalu merasa istimewa setiap kali bertemu dengannya.
Setangkai mawar putih. Kali ini Nurani tidak membawa sekotak penuh coklat atau kue-kue istimewa. Ia akan pergi untuk menemui satu orang yang tergolong istimewa baginya. Ia tidak menemui teman-teman istimewa yang ada di dekat taman kota, disamping gedung gereja kuno. Ia hanya membawa setangkai mawar saja kali ini. Setangkai mawar untuk perempuan tua yang is temui di taman kota kamis sore . Ia sengaja membiarkan mawar itu tetap segar di tangkainya. Hanya sedikit parfum saja yang ia semprotkan, karena ia tidak ingin kehilangan makna setangkai mawar putih itu. Balutan plastik transparan dengan sentuhan akhir berupa pita warna merah muda yang cantik pasti akan membuat perempuan tua itu terkesima. Senyum Nurani begitu mantap karena ia yakin, seseorang yang akan ia temui kali ini akan membuka tangan dan hatinya untuk menyambut minggu pagi bersamanya.
Alkitab kecil berbalut kain bercorak bintang warna perak, dan sebuah kidung Jemaat sudah kukuh berada di dekapan dada gadis itu. Ia pergi menuju sebuah gedung berlantai dua yang dicat biru muda bergradasi warna ungu cerah. Pohon-pohon rindang yang tertanam dihalaman membantu menyejukkan hati Nurani pagi itu. Ia berhenti sejenak dan menghirup dalam-dalam udara segar pagi itu. Paru-parunya terisi penuh dengan hawa pagi yang masih berbau embun. Ia hanya berhenti sekitar lima menit sampai akhirnya ia memutuskan untuk memasuki ruangan lobi.
Ibu Mery. Wanita yang cantik dan bertubuh besar. Dilihat dari mimik wajah dan lengkungan garis yang menghiasi dahinya, ia terlihat berusia sekitar 35 tahun. Walaupun begitu ia terlihat begitu muda., seakan-akan baru berusia 28 tahun saja. Menurut Oma Hana,nenek yang mengajarinya membuat rajutan, Ibu Meri sudah memiliki 2 anak gadis yang cantik-cantik serta seorang anak lelaki yang berparas tampan.
“Untunglah anak-anak Bu Mery baik, Rani.”, ujar Oma Hana beberapa bulan yang lalu. Rasanya cerita Oma sahabat Nurani itu tidaklah berlebihan. Ibu Meri saja terlihat sangat baik, pasti anak-anaknya juga sebaik Ibu Meri. Ia selalu mau membantu Nurani untuk apa saja yang ia perlukan.
" Pasti ingin menemui dia...", Jawab Ibu Meri setelah ia menjawab sapaan pagi Gadis wangi itu. Sebuah anggukan tanda pembenaran
“Ibu pandai menebak pikiranku.”, jawabku sambil tertawa lepas. Ibu Mery ikut tertawa. Giginya yang tidak terlalu rata terlihat sangat bersih. Ia terlihat makin cantik dengan lesung pipit yang ada di pipi sebelah kanan. Ia pasti rajin merawatnya, pikirku
Ia memang pandai menebak isi pikiran Nurani. Mungkin hal-hal kecil yang biasa Nurani lakukan sudah mengental dan mengendap di dalam pikiran beberapa orang, termasuk Ibu resepsionis itu. Hal-hal kecil yang bernilai plus di hati orang-orang khusus.
Nurani segera memacu gerakannya. Ia bergegas keruang tengah. Disana ia sempat menyapa Oma Hana, Wajahnya tampak berseri dengan setelan baju bermotif bunga dan tambahan kain renda hijau segar. Om Hans, anak pertama Oma, biasa menjemputnya di hari minggu untuk datang beribadah di gereja. Nurani mengangguk ringan tanda hormat, Oma segera melambaikan tangan dan menghilang dibalik pintu bercat putih. Spontan Nurani menyambut lambaian tangan itu dengan ayunan yang senada. Om Hans yang mendorong kursi rodanya.
Gadis berhati lembut itu diam sejenak di ruang tengah. Ia hanya memandang sebuah kamar di pojok kiri ruangan didekat kamar laundry. Pintu itu masih tertutup rapat, tapi lampu di kamar itu masih menyala terang. maklumlah karena kamar itu ada disudut dan hanya berjendela satu. Ukuran jendelanyapun tidak terlalu besar sehingga pasti membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk menerangi ruang berukuran 2x3 meter persegi.
Perlahan-lahan Nurani mendekati kamar itu. Ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu. Nyali ciut itu segera ia musnahkan. Kemarin sore ia sudah berjanji untuk menjemput perempuan tua yang tinggal di ruang pojok itu. Dua kali ia mengetuk, Tetapi rasanya ketukan yang pertama itu tidak terlalu keras. Suster Ulia melambaikan tangan. Ia memberi kode pada Nurani agar ia mengetuk dengan lebih keras. Nurani mengangguk. Tersirat wajah kecut dimukanya. Kali ini ia mengetuk lebih keras. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka sedikit. Tidak terlalu lebar. Sebuah kepala menyembul keluar dan sepasang mata yang warna bola matanya sudah memudar memandang wajah Nurani. Wanita tua itu mencoba memfokuskan pandangannya selama beberapa menit. Mungkin ia ingin meyakinkan siapa sebenarnya tamu kecil yang sudah mengunjunginya sepagi ini.
" Sudah siap, Nek?. Sebuah pertanyaan yang keluar secara perdana dari mulut Nurani.
Nenek itu perlu sekitar duapuluh detik untuk mengangkat garis bibirnya keatas. Ia segera tersenyum lebar setelah ia yakin kalau gadis itu adalah Nurani. Ia segera membuka pintu lebar-lebar dan mengayunkan tangan tanda ia mempersilahkan Nurani masuk ke kamar barunya.
Ternyata nenek Panda terlihat sangat cantik. Lebih cantik daripada kemarin sore saat ia menemukannya sedang menangis terisak-isak di taman kecil didekat rumahnya. Ia terlihat sangat kebinggungan waktu itu. Ia duduk diatas kursi roda yang sudah sangat tua dan beberapa bungkus pakaian lama tergantung disekitar pegangan kursi roda. Keadaanya begitu payah waktu itu. Dari penampilan fisiknya, sepertinya ia tidak membasuh kulit tubuhnya dengan air selama beberapa hari. Sepanjang waktu aku tinggal di kompleks Perumahan Citra Kasih, aku tidak pernah melihat perempuan tua itu. Tidak ada penghuni kompleks yang mengenalnya..
" kenapa nenek ada di sini?". sebuah pertanyaan yang meluncur dari mulutku ketika beberapa orang memutuskan untuk meninggalkannya sendiri.
“ Cucuku sudah tidak sayang lagi padaku.”, jawabnya terbata-bata.
Nenek Panda Tidak tahu lagi kemana ia akan pergi. Ia ditinggalkan begitu saja dipinggir jalan oleh cucunya. Ia mengaku kalau selama ini ia tinggal dengan cucu angkatnya. Tidak ada saudara lain. Hatiku terasa teriris pedih saat tahu kalau nenek telah kehilangan hampir semua keluarganya. Rumahnya sudah tergusur. Ia tidak tahu jalan untuk pulang. Ia hanya mengayuh roda-roda besinya kesana-kemari sampai akhirnya angin membawanya kesebuah taman yang baru pertama kali ia kenal. Dan ternyata perjuangan tangannya yang kukuh mampu membawanya menemui malaikat kecil bernama Nurani. seorang malaikat yang ternyata sama-sama memakai kursi roda.
Nurani menatap Om Setya. Lelaki cakap yang menjadi pemimpin Komplek Citra kasih. Ia meminta dengan sangat agar Nenek Panda dibawa ke Panti Jompo Pengharapan. Om Setya menganggukkan kepala tanda setuju.
Gadis berparas ayu itu membawanya ke Rumah Jompo Pengharapan. Ia tahu bahwa Pak Frans, kepala panti, akan mengijinkannya untuk tinggal disana. Seandainyapun tidak, Nurani akan memintanya dengan sangat dan mencium kening Pak Frans yang sudah seperti ayahnya sendiri.
Sebuah kamar kosong di sudut ruang tengah. Kamar itu menjadi milik Nenek panda sekarang. Sebelumnya Opa Tedy yang menempati kamar itu, Tapi karena kanker yang ia derita, Ia harus dirawat lebih intensif di sebuah rumah sakit rekanan panti. Senyum,bahagia terpancar di muka Nenek. Bahkan dia menerima tawaran malaikat kecil berkursi roda itu untuk datang ke ibadah pagi di gereja tua di dekat taman kota. Nenek panda begitu bahagia karena menemukan seorang cucu pengganti yang begitu baik. Cucu yang memiliki nurani bersih untuk orang-orang special seperti dirinya. Nenek tua itu menyebutnya sebagai malaikat kecil berkursi roda. Nurani juga tampak bahagia saat tangan tua nenek panda yang sudah bergelambir itu memegang pipinya dengan begitu hangat.
Jumat, 29 Agustus 2008
Pertarungan Mama
Mengubah posisi duduk. Itu yang dapat aku lakukan saat ini. Rasanya aku sudah bersimpuh hampir setengah jam tanpa berganti posisi. Sakit sekali rasanya lututku. Kuharap aku bisa bersembahyang dengan lebih khusuk lagi jika posisi dudukku sudah kuubah. Ternyata rasa pegal dilutut mampu mengurangi konsentrasiku untuk bercakap-cakap dengan Tuhan. Mungkin sebaiknya kuselipkan tas kuning bertali satu yang dari tadi ada disampingku sebagai pelapis kulit lututku. Sejenak kutundukan kepalaku dan kulihat lututku memang sudah memerah. Bekas-bekas lipatan karpet bermotif bunga terlihat jelas membekas disana.
Sejenak aku diam dan menunda untuk berdoa. Mata mudaku berburu didalam ruangan ini. Hal yang tidak kulakukan beberapa waktu yang lalu saat aku memasuki ruang doa ini. Pada awalnya memang hanya berniat untuk duduk dan berdoa, jadi aku tidak begitu memperhatikan dekorasi ruang syahdu ini. tetapi suasana yang ada di dalam ruangan ini telah membuatku nyaman untuk bersimpuh lebih lama dan berbincang dengan Sang Khalik dengan lebih intim lagi.
Lima menit lebih dari pukul dua siang. Pemandangan waktu yang berhasil kulihat dari arloji anti air yang kacanya sudah agak retak. Tak apalah retak asalkan masih bisa berfungsi dengan normal. Masih ada waktu dua puluh lima menit lagi untuk tinggal di dalam ruangan beraltar ini. Sepertinya jiwaku ingin berkhusuk sendiri kala ini.
Kutuntun mata menatap setiap detil ruangan bercat putih bersih dan berornamen kaca mozaic. Gambar-gambar kerahiman dan Keilahian Allah terpampang di dua sisi tembok. Gambar-gambar itu memang tidak terlalu besar, disesuaikan dengan ukuran ruang doa yang memang cukup untuk 3 orang saja. Rasanya figur-figur keampuhan Tuhan meresap diatas ayunan-ayunan kanvas sang pelukis dan nuansa itu mampu mengidik kesalutan hatiku. Aku benar-benar tersentuh. Sebuah rasa yang sudah agak lama tidak hadir dalam hatiku karena terhalang dengan waktu-waktu sibuk duniawi. Harum sedap malam yang dikombinasi dengan lilin putih yang terbakar memenuhi ruangan ini. Aku tidak merasa terganggu, justru wewangian itu serasa menambah khidmat dihatiku saja. Kurasa pengurus tempat doa ini memang sengaja menciptakan suasana seperti ini, karena bunga-bunga itu memang kelihatan masih baru dan segar.
Sebuah altar dari kayu jati berpernis halus ada di depanku. Vas bunga sedap malam dan lilin putih ada diatasnya, selain itu sebuah alkitab yang sudah tidak baru lagi juga ada disitu. Pasti setiap pendoa yang masuk ruang ini selalu membuka kitab suci ini dan membacanya. Baguslah, karena masih ada orang yang mencari penghiburan lewat ayat-ayat Tuhan.
Mataku berhenti mengembara. Kali ini perjalanan bola hitam mataku berhenti pada sebuah kotak kayu sebesar kardus sepatu sneaker hitam milikku. Memang tampak lebih tinggi dari kotak sepatuku. Benda itu tertutup rapi dan sepertinya benar-benar terkunci. Rasa penasaran mulai muncul, hatiku dipenuhi pertanyaan kotak apakah itu? Kotak persembahankah? Bagiku pertanyaan itu tepat karena sebuah lubang memanjang berada tepat berada diatas kotak itu, lubang yang hampir mirip dengan celengan kura-kura yang kutaruh diatas televisi tabung di dalam kamarku. Tetapi lubang di kotak kayu itu memang lebih panjang, seukuran amplop yang biasa mama pakai untuk menyumbang uang.
"Ehm, kurasa ini bukan kotak persembahan.", gumamku lirih. Aku tidak mampu membuka kotak yang memang terkunci rapat itu. Hanya kudapati sebuah tulisan singkat diatas kertas putih yang dilaminating. Kertas itu tergantung bebas disamping kotak.
KOTAK DOA
"Kotak Doa”?. Suara itu tersentak ringan dari mulutku. Sebuah keheranan yang keluar dari tenggorokanku yang bergetar. Aku perlu memahami keberadaan kotak itu sampai beberapa detik. Sebuah kotak doa yang tidak pernah kujumpai selama ini karena aku memang tidak pernah menabung doa-doaku. Kehadiran kotak itu memberi isyarat bahwa aku bisa menulis daftar doaku dan memasukkan kedalam benda berlubang itu. Bagaimana aku bisa menulis, karena memang tidak kujumpai selembar kertas maupun pena."
Apakah aku harus meletakkan mulutku didekat lubang itu dan mengucapkan doa-doaku? Sebuah pikiran bodoh yang memang keluar dari benakku.
Ada dua laci. Laci-laci itu berada di bagian depan meja altar. Mungkin aku akan menemukan sesuatu disana, pikirku. Ternyata benar. Ada banyak amplop kosong dan beberapa lembar kertas kosong. Aku mulai bisa mengerti arti kehadiran kotak doa itu dan saraf-saraf otakku mulai menyambung informasi yang kudapat dari apa yang kulihat. Kuraih selembar kertas kosong dan sebuah pena hitam.
Selembar kertas kurasa tidaklah cukup untuk menulis semua doa yang kuminta dari Tuhan. Tapi kurasa aku ingin menulis doaku secara singkat saja. Lembar kertas putih yang sudah berkolaborasi dengan tinta hitam dan membentuk rangkaian kata-kata doa ini segera kulipat dan kumasukan kedalam amplop putih. Kucium sebentar sebelum akhirnya tangan kananku memasukkannya kedalam kotak itu. “Hmm..kotaknya penuh”, gumamku. Karenanya aku harus menekannya dengan lebih kuat dan memastikan bahwa seluruh badan amplop masuk ke dalam kotak.
Sebuah doa. Ya, memang hanya sebuah doa, tetapi aku terus memintanya dengan tekun pada Tuhan. Dalam doa itu aku berusaha untuk tidak goyah. Doa atas seseorang yang sangat kukasihi dan kupanggil "mama". Dan aku hanya merasa jika aku memintanya dengan teguh kepada Tuhan, Ia pasti mempertimbangkan permintaanku.
Ah, kulihat kembali arloji yang melilit ditanganku. Hampir setengah tiga. Segera kurapikan isi tasku. Aku harus cepat, pikirku. Hari ini jam tiga mama harus dibedah. Ia sudah dirawat dirumah sakit ini selama satu minggu. Perempuan yang sudah merawatku sekian tahun ini sudah melewati beberapa tes kesehatan dan keputusan final berupa operasi memang harus ditempuh.
Kanker ganas yang sudah mulai mengakar disaluran sel telur mama semakin menghebat. Sebuah penyakit mengerikan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bagiku ini adalah berita yang mengejutkan karena ketika aku pulang dua bulan yang lalu, mama tampak begitu sehat dan segar. Aku benar-benar tidak percaya ketika papa memberitahuku lewat telepon pagi-pagi buta. saat itu aku masih setengah bermimpi, antara tidur dan bangun. Berita kesedihan itu mampu menggetarkan gendang telinggaku. Remuk rasanya hatiku, ditambah lagi Om Randu, dokter keluarga kami, memberikan informasi yang tampak makin mengiris kalbu saja.
Hidupku dipenuhi dengan rasa khawatir dan ketakutan yang makin menebal dari hari ke hari. Rasa takut kehilangan mendera hatiku dengan kuatnya. Akankah aku mampu mengalahkan perasaan itu. Pekerjaan yang terlalu banyak membuat aku lupa bagaimana berdoa dan bagaimana aku bisa mendapatkan penghiburan. Hampir setiap hari rasa lelah membunuh keinginanku untuk membuka firman Tuhan dan berdoa. Sampai akhirnya Tuhan mengingatkan aku kembali untuk membuka kitab suci tebalku. Sebuah panggilan Tuhan pagi-pagi sekali saat secara tidak sengaja aku menyenggol rak buku. Alkitab mencuat keluar. Saat itu aku hanya terdiam beberapa saat. Jiwaku ada dalam percabangan antara membuka Firman Tuhan atau mengabaikannya. Lalu kuputuskan untuk membuka kitab itu. Kitab pertama yang terbuka adalah Yakobus, dan aku begitu terkesima dengan pasal pertama tentang hikmat dan iman, tentang keteguhan untuk berdoa dan iman yang tidak boleh goyah.
Sejak saat itu kuputuskan untuk selalu membasuh muka tiap jam lima pagi dan melanjutkannya dengan berdoa. Aku memerlukan sapaan dari Tuhan tiap hari. Setidaknya Tuhan menolongku untuk memahami arti sakit mama. Sebuah ujian iman.
Aku berlari kecil menuju ruang inap mama. Perlu waktu 10 menit berjalan dari ruang doa dan kamar, itu jika lift tidak antri. Sudah lima kali aku melewati selasar rumah sakit hari ini. Hilir mudik, karena aku harus mengurus kembali beberapa surat pernyataan sehubungan dengan operasi mama. Payah sekali rasanya, tetapi ternyata aku masih memiliki sisa waktu untuk mencari ruang doa tadi.
Aku berdiri terengah-engah dihadapan papa dan beberapa sanak saudara. Kuatur nafasku sejenak dan air mineral dalam botol sudah mengalir lewat kerongkongan. Dan kini ritme detak jantungku sudah mulai normal kembali. Tapi mulutku belum mampu memproduksi kata-kata.
Papa hanya diam. Satu jari telunjuk tepat berada di atas kedua bibirnya sedangkan jari telunjuk yang lain menunjuk kearah kamar mama. Spontan aku mengintip mama melalui kaca bening yang berbentuk persegi dan sebesar buku novel favoritku. Aku perlu sedikit mengangkat tumitku agar pemandangan didalam kamar bisa kulihat lebih sempurna. Om Randu ditemani 2 orang dokter spesialis dan seorang perawat sedang mempersiapkan operasi mama. Mereka sedang memeriksa detak jantung dengan stetoskop warna putih keabu-abuan. Botol infus mama juga sudah diganti dengan yang baru karena tadi pagi cairan infus masih sisa setengahnya. Rasanya iba sekali melihat mama yang hanya makan dari cairan infus saja. Ia selalu memuntahkan makanan yang masuk kedalam mulutnya.
Suster berparas ayu yang dari tadi berada di ruang inap mama kini berusaha membuka slot pintu. Ia mengungkit slot itu dengan bantuan ujung penanya, tampak kalau pintu yang satunya memang jarang dibuka karena slot itu terlihat berkarat dan agak susah untuk dibuka. Mama keluar dan tetap terbaring diatas tempat tidur berodanya. Kini pakaiannya sudah berganti dengan warna biru muda. Ia tersenyum lemah. Rasanya aku tidak tahan melihatnya. Perempuan terhormat yang sedang terbaring itu berusaha mengangkat tangannya.Tangan itu kelihatan makin mengecil saja dan aku yakin ia memerlukan energi yang cukup besar hanya untuk melambaikan tangan saja.
"Mama pasti bisa", Sebuah kalimat penguatan keluar dari mulutku seraya aku meletakkan tangannya yang lembut itu dipipiku, " Bertahanlah", lanjutku.
Aku berusaha untuk tidak menangis. Sekali saja aku meneteskan airmata, tembok pertahanan mama pasti akan runtuh dan sesudah itu mungkin tidak hanya aku saja yang menangis. Papa sudah mengingatkan kami, anak-anaknya, untuk tidak menangis di depan mama. Beberapa kali ia mengingatkan kami.
Tangan mama kupindahkan ke arah Dina dan Onel. Pelan-pelan mama menyentuh muka mereka. Dua anak yang kemarin kelihatannya masih suka bertengkar hanya karena masalah es krim atau coklat kacang, tapi kini mereka mampu memperlihatkan sedikit kedewasaan di depan mama. Satu-satu kami mencium kening mama. Papa mengakhiri perjumpaan itu dengan pelukan yang terlihat begitu mesra. Ayah terhebat itu mencium kening mama sampai dua kali.
Om Randu mengangguk ringan. Ia meminta ijin untuk segera membawa mama ke ruang operasi. Tidak ada yang menangis, hanya saja ada rasa harap-harap cemas yang bergulat di dalam hati kami. Terasa semakin kuat. Kami hanya diam seribu bahasa, berpuasa untuk berlaksa-laksa kalimat pengharapan.
"Tuhan Yesus, sembuhkan mama, bawa dia kembali kepada kami dengan senyum yang lebih lebar, raga yang lebih kuat dan helaian rambut yang lebih kuat lagi. Hanya kehendakMu saja yang terjadi. Amin"
Doa itu yang berulang kali terucap di mulutku. Dan selama waktu menunggu kurasa aku sudah berdoa hampir dua puluh lima kali. Doa yang berselang-seling dengan Doa Bapa Kami. Aku mencoba agar tidak terlalu khawatir.
Detik-detik berlalu dengan sangat lambat. Aku duduk dan berdiri bergantian. Kuperhatikan bungkus permen yang ada ditempat sampah disampingku. Hampir semuanya berjumlah 13 buah, Ah, aku tidak menyangka ternyata gigiku juga ikut bekerja keras mengunyah gula-gula liat itu disela-sela waktu menunggu. Setidaknya permen-permen itu, mampu membantu meredakan rasa gundah di dalam hatiku.
Papa hanya diam. Kurasa ia ingin menyulut batang rokoknya, tapi ia terlihat sangat berusaha keras untuk tidak melakukannya. Beberapa kali ia memainkan bungkus rokoknya, tapi ia enggan untuk menyalakan pematik api. Mungkin karena banyak papan “Dilarang Merokok” di beberapa bagian dinding rumah sakit. Walaupun demikian, sebenarnya papa bisa keluar ruangan sejenak dan mencari ruang khusus untuk memakan asap. Aku hafal betul dengan kebiasaan papa saat ia benar-benar depresi. Dalam keadaan itu ia pasti bisa menghabiskan berbatang-batang rokok dalam sehari.
Dejavu. Mungkin tidak juga. Aku pernah merasakan saat-saat seperti ini ketika Neta, sahabatku di sekolah melukis, sedang koma. Saat itu ia benar-benar berjuang keras dengan gegar otak parah yang menimpanya. Kawan baikku itu jatuh dari sepeda dan terguling ke dalam jurang yang sebenarnya tidak terlalu dalam. Sayang, pergumulannya dengan debu dan tanah itu berakhir diatas batu cadas hitam dan kepalanya harus terbentur keras di sana. Ngilu sekali rasanya mengingat akan hal itu. Aku dan beberapa teman begitu setia menunggu Neta dirumah sakit. Kami berharap agar ia segera sadar dari komanya. Perasaan saat itu sama persis dengan yang kurasakan saat ini, tatkala harap-harap cemas benar-benar bertarung dengan hebatnya.
Kubuka kembali tutup botol air mineral ditanganku dan sepertinya sudah satu liter air mengguyur dikerongkonganku. Bahkan botol itu sudah kuisi ulang dengan air yang kuambil dari dispenser rumah sakit. Seberapapun air yang kuminum, rasanya aku tetap seperti di tengah-tengah padang pasir. Benar-benar kering.
Dalam nama Yesus ada kemenangan. Sebuah lagu sederhana. lagu dari sekolah minggu yang masih lekat di dalam pikiranku. Nada dan syair itu keluar lirih dari mulut Onel. Aku tertegun karena selama ini ia selalu menolak untuk menyanyikan lagu itu kecuali kalau ia sedang mengikuti sekolah minggu di gereja. Kali ini ia menyanyikannya tanpa paksaan. Ah, setidaknya Onel bisa merasakan kegundahan hati orang-orang yang lebih dewasa darinya, karena usianya masih 9 tahun.
Dokter Joseph keluar dari ruang operasi. Ia hanya sendiri, tanpa Om Randu. Kami terkejut dan ruang kosong dihati kami terus bertanya-tanya: kenapa?, mengapa?, bagaimana?
Dokter itu berjalan dengan tegak. Badannya yang tegap benar-benar terlihat sangat proporsional dengan berat tubuhnya. Itu yang terlihat di mata fisikku. Apapun itu, ia adalah dokter baik yang selalu memberikan informasi lengkap tentang perawatan untuk mama. Dokter Joseph menyapa sahutan dokter lain sebelum akhirnya ia berhenti tepat di depan papa. Papa berdiri spontan begitu melihat juru sehat itu keluar dari ruangan. Dokter diam sejenak, ia menarik nafas dalam-dalam. Sinyal-sinyal akan berita buruk sudah spontan mengisi pikiranku dan aku merasa yakin kalau sinyal-sinyal yang sama juga sedang berkelahi di dalam pikiran papa.
"Ia baik, kondisinya stabil..", Kata dokter itu dengan suara yang terdengar berwibawa," Kita tunggu hasil operasinya. Bu Ranti perlu terus dimonitor", lanjutnya.
Seandainya saja ada tempat pembuangan sampah sebesar Bantar Gebang di dekat rumah sakit ini, pasti saat ini juga aku akan membuang beban yang ada di pundakku. Aku bernafas sedikit lega. Entah apapun akhir dari perjalanan sakit mama, tapi yang pasti aku bersyukur bahwa ia adalah pemenang atas sebuah pertandingan yang bernama "operasi kanker"
"Beri kami hati yang bijaksana untuk memahami apapun hasilnya ya Tuhan. Itu pasti yang terbaik untuk Mama". Itu doaku yang paling akhir sebelum akhirnya mama keluar dari ruang operasi dalam keadaan yang masih tidak sadar.
Kali ini aku akan berdoa dengan lebih tekun lagi dan tanpa ragu-ragu. Tuhan tentu lebih senang dengan doa yang teguh dan tidak terombang-ambing. Kali ini aku benar-benar belajar dari kitab Yakobus.
Nanti malam aku akan membuat kotak doaku sendiri dan tiap doa akan kutulis rapi diatas kertas putih. Aku berharap agar suatu saat ketika aku membuka celengan doaku itu, aku bisa bersyukur bahwa Tuhan memiliki cara-cara yang ajaib untuk menyembuhkan mama.
Kamis, 07 Agustus 2008
Beternak Madu Dalam Mulut
Beternak madu didalam mulut. Aku ingin menyebut mulut dan seluruh isinya dengan penangkaran madu lebah hutan. Mungkin itu sebutan yang paling pantas untuk mulut mas Nino.
Bagaimana tidak, mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata yang manis. Sangat manis. Aku kadang terpesona dengan gayanya berbicara. Kurasa tidak hanya gayanya berbicara, tapi isi dari tiap pesan yang ia ingin sampaikan untuk orang lain, termasuk aku tunangannya.
Kali ini kata-katanya menyengat tepat di hatiku. Rasanya sangat menghentak dan aku hampir pingsan. Ia melamarku untuk menjadi istrinya dengan rangkaian kata-kata yang sangat luarbiasa panjangnya, tapi tidaklah membosankan. Aku sampai terngangga, bahkan mulut kukatupkan setelah ia selesai dengan rangkaian seribu makna.
"ya, aku mau", Hanya itu jawaban atas sejuta kata dan pertanyaan yang ia sampaikan. Aku tak sepandai Mas Nino. Mungkin karena kepandaiannya itu, Ia sering mendapat tugas sebagai presenter di tiap-tiap presentasi kantor. Dan sepertinya proyek-proyek lapangan selalu berhasil dimenangkan oleh kantor Mas Nino. Ia memamg piawai dalam hal ini.
Urat wajah Mas Nino terasa sangat menghangatkan darah didalam hatiku. Aku merasa sangat nyaman karena setidaknya jawabanku yang terlalu pendek tepat mengenai sasaran. Kelihatannya Mas Nino puas dengan jawaban itu. Aku Lega.
Beberapa hari yang lalu, Ema , teman kantorku melihat Mas Nino sedang berdiri menghadap etalase kaca rendah di sebuah toko emas. Ia seperti melihat cincin emas. Sebuah cincin emas bermata dua. Tapi informasi Ema sedikit memberiku keyakinan kalau malam ini, di restaurant urban ini, Ia akan menyelipkan sebuah cincin emas di jariku Aku tak sabar menunggu.
Gundah gulana. Kurasa aku tak akan memiliki alasan untuk merasakan hal itu. tapi aku tetap menunggu sampai Mas Nino mengucapkan mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. Ruapanya tidak. entah kenapa tidak. sampai acara makan malam berlalu, tidak ada awal kata tentang cincin.
Jadi kapan kira kira?
senin pagi. Jullia, anak baru dikantor datang dengan muka yang berseri-seri. Ia menunjukkan jari manis yang sudah berhias cincin cantik.
"wah, selamat ya. siapa ni tunangannya?
"Mas nino, karyawan di PT. ANTA." jawab anak baru itu singkat," Dia perayu yang hebat lho, dan melamarku kemarin setelah memutuskan tunangannya di sebuah Restoran Urban"
Terang saja Ema langsung memandang mukaku yang sudah berwarna merah
"What?" jadi itu makan malam terakhir. Baiklah si peternak lebah dalam mulut. Kita berakhir sudah. Tak ada Nino dan aku.
Minggu, 03 Agustus 2008
Sebatang Pensil
hari ini aku pasti berjasa untuk Andi
Pagi-pagi sekali aku sudah menyelinap di dalam kain yang dijahit rapi. Kali ini Andi lupa memasukkan aku kedalam kotakku. padahal aku menginginkannya.
Tahukah kenapa? karena aku hanya ingin mudah untuk ditemukan.
setidaknya itu yang paling aku inginkan darinya, dari Andi.
Beberapa kali aku sangat sedih karena aku terlalu tumpul. Saat itu aku sangat sedih karena kulihat wajah Kecil Andi mengiba maaf pada ibu guru. Wajah geram perempuan berilmu itu sedang menginvestigasi Andi, sahabatku yang tidak lupa meruncingkan ujungku.
Aku ingin selalu membantunya untuk menulis setiap kata-kata dengan lebih rapi dan tebal.
Atau setidaknya membantu agar Andi bisa menulis angka-angka perkalian atau pertambahan dengan benar.
Aku akan selalu berolahraga agar aku kuat.
Ya, itulah yang bisa aku lakukan agar aku tidak mudah patah.
Atau sebelum aku terlalu aus, tua dan dibuang Andi ke kotak sampah.
Dan sebelum itu terjadi aku akan membantu Andi menjadi anak terpandai di kelasnya.
Semester depan ia akan menjadi terbaik di kelasnya. tidak lagi di urutan terakhir. Lihat saja.
Itu janjiku. sebatang pensil
Membeli Minarsih
" Berapa si cecunguk itu membeli Minarsih, Pakde?"
Aku tidak tahu seberapa merahnya mukaku saat ini. Rasa pedih terluka memang sangat terasa di balik kulit ariku. Didadaku, api kemarahan terasa meledak-ledak seperti lahar yang keluar dari dapur magma gunung berapi. Panas sekali. Aku merasakannya seakan lahar itu sedang menekan keras kalbuku. Entah kenapa aku menanyakan lagi hal itu, padahal Pakde Truno sudah memberi obat penawar kemarahan siang tadi. Obat kemarahan berupa pil penjelasan tentang Minarsih. Tapi rupanya efek dari obat itu sudah hilang dan sekarang penyakit kemarahan itu kambuh lagi.
Kali ini sumbu api sudah tersulut dengan hebatnya di dalam hatiku, sampai tanganku terasa gatal sekali jika tidak membanting sesuatu. Mataku liar berburu dan tanganku ingin meraih sesuatu. Akhirnya sebuah cangkir beling milik Pakde Truno berhasil mendarat keras didinding tembok. Pecah berkeping-keping. Hatiku sedikit lega. Setidaknya ada sedikit pelampiasan, dan itu yang aku perlukan saat ini. Kali ini mataku tertuju kearah sebuah asbak tanah liat yang tergeletak didekat tangan pakde.
Ini korban selanjutnya, pikirku, tapi rupanya tangan pakde terlalu cekatan meraih lenganku. Sebuah pelampiasan yang gagal dan aku hanya menhela nafas panjang. Ia menepuk pundakku hampir lima kali, "Mbok sing sareh yo Le, sabar..", dan kali ini tangan tuanya sudah menepuk pundakku untuk yang ketujuh kalinya. Entahlah, tapi dalam kemarahanku, aku bisa merasakan katresnan, cinta yang dalam dari pakde, orang tua yang sudah merawatku sejak kecil. Orang tua itu juga yang dipercaya bapak dan ibu untuk merawatku saat mereka membulatkan tekat untuk bertransmigrasi.
" Nanti bapak jemput kalau bapak dan ibu sudah berhasil di Singkawang..". Itu janji bapak sebelum mereka berangkat ke tanah yang baru. Tapi aku sudah semakin membengkak dewasa dan terlanjur mencintai kota ini sebelum bapak benar-benar menjemputku. Aku lebih rela hidup dengan pakde yang sudah mulai mengelendur kulitnya dan berkacamata plus lapis tiga. Hidup yang sudah mengerak hitam dengan lingkungan yang sudah membuatku semakin dewasa. Setidaknya aku bisa berbalas jasa menjaga orang tua keduaku ini. Aku pula yang membuatkan tongkat jalan untuknya sejak tiga tahun yang lalu.
Pakde rupanya mendengar geram yang keluar dari mulutku. Geraman yang agak keras kali ini, hampir sama dengan suara anjing yang melihat kucing melintas tepat di depannya.
Alisku terasa melengkung semakin tajam. Sabar dan sareh, nasehat dari pakde yang baru saja aku dengar terasa terlalu keras untuk kucerna. Pandanganku yang tajam kuarahkan ke muka lelaki tua itu. Tapi hanya sepuluh detik saja dan segera kulempar pandanganku keluar jendela. Terlihat sangat gelap dan menghitam. Warna hitam malam menyiratkan harapan yang kosong untukku.
Dalam kegarangan, aku berusaha bersandar tenang diatas kursi kayu berjalin rotan. Hampir tiga kali aku mengubah posisi dudukku. Rasanya sulit sekali mencari posisi yang nyaman untuk menyangga tubuh lelakiku yang sudah berbobot besar ini. Kurasa aku bertambah kekar dan otot-ototku berkembang tiga kali lebih besar dibanding sebelum 3 tahun yang lalu.
Malam ini terasa pekat, sama pekatnya dengan kopi pahit yang baru saja mengalir di pipa kerongkonganku. hanya seteguk saja. Cangkir kopinku kuletakkan kembali di dekat bungkus rokok bergambar sebuah jarum. kini, sebatang rokok sudah terselip kuat diantara dua bibirku yang sudah sedikit menghitam. kunyalakan pematiknya dan kuhisap batang berasap itu kuat-kuat. Entah berapa batang rokok yang kuhisap hari ini. Aku tidak menghitungnya, tapi setidaknya kopi dan rokok sudah menjadi sahabat terbaikku hari ini.
"Dikontrol ya Le rokoknya..!", tegur Pakde. Kali ini suaranya melemah. Mungkin ia sudah cukup capek menasehatiku hari ini.
"Minarsih itu ndak salah", Ia mengulangi kata-kata yang tadi siang ia ucapkan, "kamu mbok nrimo saja. Terima kenyataan itu, walaupun pahit!".
Minarsih tidak salah? Jelas-jelas dia salah. Perempuan itu menerima Panji yang akan mengikat erat dirinya besok pagi di depan penghulu. Itu berarti sebuah pengkhianatan dan kesalahan besar. Rasanya sudah tak termaafkan. Jiwa kelakianku memberontak dengan hebatnya saat aku mengetahui hal itu.
Tadi pagi. "Haah...". Udara keras keluar bebas dari mulutku waktu Pakde Truno menjelaskan berita itu secara perdana padaku. Tepat sesudah aku menaruh dua koper besar di dalam kamar. Pikiranku terlalu buruk menilai Minarsih saat itu juga. Tentu saja ia lebih memilih Panji, lelaki bertubuh besar berambut lurus kaku. Pria pujaan gadis-gadis desa yang hampir tidak pernah naik sepeda genjot kemanapun ia pergi. Setidaknya motor Honda hitam mulus selalu menemaninya. Atau Pak Sobari, sopir pribadi, yang selalu mengantarnya kemanapun pria lajang itu bepergian.
Betapa teganya wanita yang sudah menjadi dambaan hatiku lebih dari empat tahun. Perempuan yang dulu selalu menemaniku duduk bersama dibawah pohon jambu, dibale-bale depan warung mbok Siti. Wanita yang selalu berbagi gado-gado atau soto ayam buatan Mbok Siti. Tapi kini janjinya hanya dibeli 2 atau 3 juta saja. Nilai yang dianggap cukup besar untuk penduduk di desaku. Aku memang tidak semumpuni Panji. Tetapi aku pasti mampu mengusahakan uang sebanyak itu sebagai mahar. Aku mampu walaupun aku harus bekerja dengan ekstra keras. Uang itu pasti akan kuserahkan dengan rasa hormat pada bapak dan ibu Minarsih. Bukankah aku lelaki sejati. Aku menyebutnya sebagai sebuah perjuangan cinta. Perjuangan yang layak kulakukan demi mendapatkan aura-aura cantik wajah Minarsih.
Kuhisap rokokku dengan lebih kuat. Pikiran dan jiwaku tidak begitu peduli dengan abu yang jatuh sembarangan di meja. Hampir saja abu itu jatuh ke dalam cangkir kopi pahitku, tapi untunglah tangan gelambir pakde cepat-cepat memindahkan perkakas beling itu. Ia begitu cekatan. Spontan pakde menawarkan asbak padaku, tapi aku hanya melirik diam, tak merespon. Pakde mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Minarsih terpaksa menikah, Le." Kata pakde kemudian. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Sejenak pakde tua itu menggeser kursinya. Ia berusaha berdiri terhuyung-huyung. Tangan tuanya dibantu dengan mata tua yang sudah mulai memudar berusaha mencari-cari pegangan yang lebih kokoh untuk menahan raga rentanya. ia berjalan pelan menuju jendela kayu yang tidak begitu jauh dari meja perbincangan itu.
Langganan:
Postingan (Atom)