Jumat, 29 Agustus 2008

malaikat berkursi roda

Nurani. Ia dipenuhi gairah hidup untuk terus menemui orang-orang khusus. Entah kriteria seperti apa yang ada didalam benak Nurani akan sebutan orang-orang khusus. Tapi yang jelas ia merasa menjadi gadis remaja yang istimewa ketika ia menemui orang-orang yang berkriteria spesial itu. Ia gadis yang bermata bening, berambut sepinggang dan selalu tersisir rapi. Aroma wangi aloevera sangat bercirikhas dengan remaja yang selalu tampak ceria ini. Ia begitu cakap merawat diri. Siapa yang tidak pernah merasa nyaman duduk dan bercakap-cakap dengannya. Hampir tidak ada.Torai, kucing anggora miliknya selalu terlihat sangat menikmati harum rambutnya setiap kali Nurani meletakkannya diatas bahunya. Sebenarnya tidak hanya Torai saja. Momo, Tupai kecil peliharaannya, ternyata memiliki indera penciuman yang lumayan baik untuk senantiasa lengket di bahunya. Momo terlihat begitu nyaman di tangan Nurani setiap kali gadis itu mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. Hari minggu, hari yang ditunggu-tunggu. Nurani sangat bersemangat bila hari itu tiba. Tiap hari perhentian tiba, ia bisa mengunjungi orang-orang khusus itu. Dia selalu mempersiapkan segala sesuatunya. Terkadang ia membawa sekotak karton coklat kecil bersalut pewarna makanan yang semarak atau juga permen-permen yang dibungkus plastic bermotif lucu. Ia biasa menyisihkan uang sakunya demi membeli makanan-makanan manis itu. Atau mungkin juga kue-kue muffin dalam kertas bermotif. Kalau kue muffin, ia selalu membuatnya sendiri. Ia selalu yakin kalau tangan-tangan lincahnya memiliki perasa yang istimewa pada setiap kue yang dibuatnya. Kue-kue cantik yang sudah melewati pemanas oven. Mamanyalah yang selalu membantu Nurani. Ia tidak pernah lupa dengan kartu-kartu kecil istimewa yang bertuliskan kata-kata penyemangat. Ia menyisipkan didalam plastik-plastik pembungkus coklat atau kue. Terkadang Nurani hanya membagi kartu-kartu itu begitu saja. Hal itu terjadi ketika uang sakunya benar-benar menipis. Walaupun begitu Ia tampak selalu berenergi setiap melakukan aktifitas mingguan itu. Tak heran jika orang-orang khusus yang ditemuinya selalu merasa istimewa setiap kali bertemu dengannya. Setangkai mawar putih. Kali ini Nurani tidak membawa sekotak penuh coklat atau kue-kue istimewa. Ia akan pergi untuk menemui satu orang yang tergolong istimewa baginya. Ia tidak menemui teman-teman istimewa yang ada di dekat taman kota, disamping gedung gereja kuno. Ia hanya membawa setangkai mawar saja kali ini. Setangkai mawar untuk perempuan tua yang is temui di taman kota kamis sore . Ia sengaja membiarkan mawar itu tetap segar di tangkainya. Hanya sedikit parfum saja yang ia semprotkan, karena ia tidak ingin kehilangan makna setangkai mawar putih itu. Balutan plastik transparan dengan sentuhan akhir berupa pita warna merah muda yang cantik pasti akan membuat perempuan tua itu terkesima. Senyum Nurani begitu mantap karena ia yakin, seseorang yang akan ia temui kali ini akan membuka tangan dan hatinya untuk menyambut minggu pagi bersamanya. Alkitab kecil berbalut kain bercorak bintang warna perak, dan sebuah kidung Jemaat sudah kukuh berada di dekapan dada gadis itu. Ia pergi menuju sebuah gedung berlantai dua yang dicat biru muda bergradasi warna ungu cerah. Pohon-pohon rindang yang tertanam dihalaman membantu menyejukkan hati Nurani pagi itu. Ia berhenti sejenak dan menghirup dalam-dalam udara segar pagi itu. Paru-parunya terisi penuh dengan hawa pagi yang masih berbau embun. Ia hanya berhenti sekitar lima menit sampai akhirnya ia memutuskan untuk memasuki ruangan lobi. Ibu Mery. Wanita yang cantik dan bertubuh besar. Dilihat dari mimik wajah dan lengkungan garis yang menghiasi dahinya, ia terlihat berusia sekitar 35 tahun. Walaupun begitu ia terlihat begitu muda., seakan-akan baru berusia 28 tahun saja. Menurut Oma Hana,nenek yang mengajarinya membuat rajutan, Ibu Meri sudah memiliki 2 anak gadis yang cantik-cantik serta seorang anak lelaki yang berparas tampan. “Untunglah anak-anak Bu Mery baik, Rani.”, ujar Oma Hana beberapa bulan yang lalu. Rasanya cerita Oma sahabat Nurani itu tidaklah berlebihan. Ibu Meri saja terlihat sangat baik, pasti anak-anaknya juga sebaik Ibu Meri. Ia selalu mau membantu Nurani untuk apa saja yang ia perlukan. " Pasti ingin menemui dia...", Jawab Ibu Meri setelah ia menjawab sapaan pagi Gadis wangi itu. Sebuah anggukan tanda pembenaran “Ibu pandai menebak pikiranku.”, jawabku sambil tertawa lepas. Ibu Mery ikut tertawa. Giginya yang tidak terlalu rata terlihat sangat bersih. Ia terlihat makin cantik dengan lesung pipit yang ada di pipi sebelah kanan. Ia pasti rajin merawatnya, pikirku Ia memang pandai menebak isi pikiran Nurani. Mungkin hal-hal kecil yang biasa Nurani lakukan sudah mengental dan mengendap di dalam pikiran beberapa orang, termasuk Ibu resepsionis itu. Hal-hal kecil yang bernilai plus di hati orang-orang khusus. Nurani segera memacu gerakannya. Ia bergegas keruang tengah. Disana ia sempat menyapa Oma Hana, Wajahnya tampak berseri dengan setelan baju bermotif bunga dan tambahan kain renda hijau segar. Om Hans, anak pertama Oma, biasa menjemputnya di hari minggu untuk datang beribadah di gereja. Nurani mengangguk ringan tanda hormat, Oma segera melambaikan tangan dan menghilang dibalik pintu bercat putih. Spontan Nurani menyambut lambaian tangan itu dengan ayunan yang senada. Om Hans yang mendorong kursi rodanya. Gadis berhati lembut itu diam sejenak di ruang tengah. Ia hanya memandang sebuah kamar di pojok kiri ruangan didekat kamar laundry. Pintu itu masih tertutup rapat, tapi lampu di kamar itu masih menyala terang. maklumlah karena kamar itu ada disudut dan hanya berjendela satu. Ukuran jendelanyapun tidak terlalu besar sehingga pasti membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk menerangi ruang berukuran 2x3 meter persegi. Perlahan-lahan Nurani mendekati kamar itu. Ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu. Nyali ciut itu segera ia musnahkan. Kemarin sore ia sudah berjanji untuk menjemput perempuan tua yang tinggal di ruang pojok itu. Dua kali ia mengetuk, Tetapi rasanya ketukan yang pertama itu tidak terlalu keras. Suster Ulia melambaikan tangan. Ia memberi kode pada Nurani agar ia mengetuk dengan lebih keras. Nurani mengangguk. Tersirat wajah kecut dimukanya. Kali ini ia mengetuk lebih keras. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka sedikit. Tidak terlalu lebar. Sebuah kepala menyembul keluar dan sepasang mata yang warna bola matanya sudah memudar memandang wajah Nurani. Wanita tua itu mencoba memfokuskan pandangannya selama beberapa menit. Mungkin ia ingin meyakinkan siapa sebenarnya tamu kecil yang sudah mengunjunginya sepagi ini. " Sudah siap, Nek?. Sebuah pertanyaan yang keluar secara perdana dari mulut Nurani. Nenek itu perlu sekitar duapuluh detik untuk mengangkat garis bibirnya keatas. Ia segera tersenyum lebar setelah ia yakin kalau gadis itu adalah Nurani. Ia segera membuka pintu lebar-lebar dan mengayunkan tangan tanda ia mempersilahkan Nurani masuk ke kamar barunya. Ternyata nenek Panda terlihat sangat cantik. Lebih cantik daripada kemarin sore saat ia menemukannya sedang menangis terisak-isak di taman kecil didekat rumahnya. Ia terlihat sangat kebinggungan waktu itu. Ia duduk diatas kursi roda yang sudah sangat tua dan beberapa bungkus pakaian lama tergantung disekitar pegangan kursi roda. Keadaanya begitu payah waktu itu. Dari penampilan fisiknya, sepertinya ia tidak membasuh kulit tubuhnya dengan air selama beberapa hari. Sepanjang waktu aku tinggal di kompleks Perumahan Citra Kasih, aku tidak pernah melihat perempuan tua itu. Tidak ada penghuni kompleks yang mengenalnya.. " kenapa nenek ada di sini?". sebuah pertanyaan yang meluncur dari mulutku ketika beberapa orang memutuskan untuk meninggalkannya sendiri. “ Cucuku sudah tidak sayang lagi padaku.”, jawabnya terbata-bata. Nenek Panda Tidak tahu lagi kemana ia akan pergi. Ia ditinggalkan begitu saja dipinggir jalan oleh cucunya. Ia mengaku kalau selama ini ia tinggal dengan cucu angkatnya. Tidak ada saudara lain. Hatiku terasa teriris pedih saat tahu kalau nenek telah kehilangan hampir semua keluarganya. Rumahnya sudah tergusur. Ia tidak tahu jalan untuk pulang. Ia hanya mengayuh roda-roda besinya kesana-kemari sampai akhirnya angin membawanya kesebuah taman yang baru pertama kali ia kenal. Dan ternyata perjuangan tangannya yang kukuh mampu membawanya menemui malaikat kecil bernama Nurani. seorang malaikat yang ternyata sama-sama memakai kursi roda. Nurani menatap Om Setya. Lelaki cakap yang menjadi pemimpin Komplek Citra kasih. Ia meminta dengan sangat agar Nenek Panda dibawa ke Panti Jompo Pengharapan. Om Setya menganggukkan kepala tanda setuju. Gadis berparas ayu itu membawanya ke Rumah Jompo Pengharapan. Ia tahu bahwa Pak Frans, kepala panti, akan mengijinkannya untuk tinggal disana. Seandainyapun tidak, Nurani akan memintanya dengan sangat dan mencium kening Pak Frans yang sudah seperti ayahnya sendiri. Sebuah kamar kosong di sudut ruang tengah. Kamar itu menjadi milik Nenek panda sekarang. Sebelumnya Opa Tedy yang menempati kamar itu, Tapi karena kanker yang ia derita, Ia harus dirawat lebih intensif di sebuah rumah sakit rekanan panti. Senyum,bahagia terpancar di muka Nenek. Bahkan dia menerima tawaran malaikat kecil berkursi roda itu untuk datang ke ibadah pagi di gereja tua di dekat taman kota. Nenek panda begitu bahagia karena menemukan seorang cucu pengganti yang begitu baik. Cucu yang memiliki nurani bersih untuk orang-orang special seperti dirinya. Nenek tua itu menyebutnya sebagai malaikat kecil berkursi roda. Nurani juga tampak bahagia saat tangan tua nenek panda yang sudah bergelambir itu memegang pipinya dengan begitu hangat.

2 komentar:

Pakne tejo mengatakan...

Nurani=penulis.Benar bukan?Karena 6 jam bersama penulis(tgl 9 agustus '08)aku merasa seperti nenek tua yg berkursi roda.Makasih,hadirmu telah menumbuhkan semangat dlm hidupku.

Sumadi mengatakan...

Pakne Tejjo,kembang bakung ki wangi ora to?