Senin, 08 September 2008

Watch Out Your Belonging

“Aduh…apes deh. Mana itu isinya catatan penting lagi. Huh…” Itu adalah kalimat kekecewaan yang meluncur dari mulut Bu Ratna, teman sejawat Nduk. Mulut Bu ratna terus saja menggumam kesal. Hatinya benar-benar dongkol. Ia hanya bisa duduk lunglai di halte bus Grogol di depan universitas terkemuka di Jakarta Barat. Itu adalah kisah Bu Ratna yang kehilangan tas jinjingnya di dalam salah satu bis Kopaja nomer 95. Sebenarnya kejadian ini hanya sebuah kelalaian semata. Perempuan beranak dua itu tergesa-gesa saat turun dari angkutan umum. Ia meninggalkan dokumen-dokumen penting pengajaran di salah satu jok penumpang di belakang sopir. Maklum saja kalau ia lupa karena ia memang tertidur pulas selama perjalanannya dari Kalideres ke Grogol. Tas yang berisi silabus dan kurikulum sekolah itu lenyap seketika dalam hitungan menit, padahal ia baru saja menyelesaikan dokumen-dokumen itu dalam waktu 3 hari. Kerja lemburnya berakhir sia-sia. Walaupun kemalangan itu terjadi karena kelalaiannya sendiri, ia tetap saja mencaci maki bis bercat hijau muda dengan garis putih dibagian tengahnya itu. Lain halnya dengan cerita seorang bapak asal Kota Kutoarjo. Ia naik bis dengan jurusan yang sama dengan yang ditumpangi Nduk. Bis AKAP itu melaju dengan sukses dari Kutoarjo menuju Jakarta. Namun karena terlalu siang saat tiba di Jakarta dan peraturan lalulintas memang melarang bis AKAP masuk jalan dalam kota kalau lebih dari jam tujuh, maka sopir bus memutuskan untuk mengambil jalur lain ke arah Kota Tangerang. Rupa-rupanya sang pemudik tersebut kelihatan tergesa-gesa. Dari raut mukanya, kemungkinan dia sudah hampir terlambat masuk kantor. Ia meninggalkan sebuah tas seukuran koper 20 inchi dideretan jok paling belakang. Sopir dan awak bus baru menyadari keberadaan tas itu setelah ngetem di terminal Tangerang selama setengah jam. Setelah diperiksa ternyata tas itu berisi pakaian dan beberapa kardus berisi buah tangan khas Kutoarjo. Mungkin makanan itu adalah oleh-oleh untuk kerabatnya yang tinggal di Jakarta. Karena tidak ada identitas pemilik, maka sang sopir hanya bisa menaruh tas itu di tempat agen bis. Ia berharap agar si pemilik tas memiliki inisiatif untuk mengambil barang miliknya itu di agen bis AKAP itu. Berbeda lagi dengan si pemuda tanggung yang bernama Rahmat. Ia naik bis executive dengan jurusan Solo-Jakarta. Kira-kira pukul 6 pagi bis yang ia tumpangi sudah memasuki kawasan tol Pondok Gede. Tapi tiba-tiba bis berAC itu harus menepi dan berhenti di pinggir jalan tol. Hal ini dikarenakan ada kecelakaan kecil yang menimpa bis lain yang berasal dari jasa agen bis yang seatap dengan bis yang ditumpangi Rahmat. Otomatis, karena alasan toleransi, sopir bus Rahmat harus berhenti dan membantu armada yang tengah mengalami kecelakaan itu. Pada saat itulah Rahmat ikut turun bersama crew bis lainnya. Mungkin rasa keingintahuannya cukup besar. Alhasil, Rahmat tidak menyadari kalau bis yang ia tumpangi sudah meninggalkannya sendiri. “ Pir…sopir. Laki-laki yang tadi duduk di samping saya kok nggak ada?”, teriak salah satu penumpang yang baru saja bangun dari tidur lelapnya. Ia hanya mendapati sebuah tas ransel yang duduk membatu dan tak bertuan di sampingnya. Kepanikan terjadi di dalam bis. Tetapi apa hendak dikata, bis tetap harus melaju ke depan karena tidak mungkin untuk memutar balik kendaraan di dalam tol. Entahlah bagaimana nasib si Rahmat. Mungkin ia hanya bias merenungi tasnya yang ternyata lebih dulu sampai dikota Jakarta. “Kasihan banget sih tu anak. Lagian ngapain juga mesti turun.”, Celoteh seorang gadis muda dengan bahasa gaul Jakarta, tetapi logatnya masih kedengaran medhok jawa Memang kisah-kisah kemalangan bisa terjadi pada siapa saja. Demikian juga dengan Bu Meri. Pagi-pagi sekali ia harus berangkat ke kantor. Hari itu ia kelebihan muatan. Biasanya ia hanya membawa 2 buah tas. Satu tas pundak yang berisi barang-barang pribadi dan satunya lagi tas jinjing berisi alat peraga pengajaran. Tapi kali ini ia harus membawa ekstra plastik yang berisi helm warna pink milik miss Supriyanti, kolega kantornya. Sejak pagi Bu meri sudah menggerutu dengan tiga buah tas yang menyusahkan itu. Ia selalu mengalami kesulitan masuk angkot karena badannya yang cukup tambun. Ditambah lagi dengan pintu angkot yang lumayan rendah. Tetapi atas nama tanggung jawab, ia tetap harus membawa helm itu. Saat sampai di persimpangan lampu merah, ibu tambun itu turun dengan satu tas di pundaknya dan sebuah tas jinjing di sisi lain tangannya. Lalu, dimanakah kantung plastik berisi helm tadi berada? “Bu…Bu. Ini ada yang ketinggalan…”, teriak serang pelajar sambil berlari-lari mengejarnya. Oh Bu Mery. Untung ada malaikat kecil berseragam sekolah yang menolongnya. Ia hanya tersenyum kecut seraya mengucapkan terima kasih. Seandainya bocah lelaki itu tidak dikirim Tuhan untuk mengingatkannya pasti Miss Supriyanti akan marah besar padanya. Kemarahan teman kerja Bu mery itu cukup beralasan karena helm cantik itu memang helm kesayangan pemberian sang pacar. Bukankah kejadian-kejadian seperti ini sering terjadi? Rasanya cukup layak kalau disetiap halte busway kita selalu diperingatkan oleh suara lembut operator wanita ”check your belonging and step carefully. Thank you”.

1 komentar:

Pakne tejo mengatakan...

lha nduk pernah lupa jg gak?