Minggu, 20 Desember 2009

Mengemis Bapak Bos

"Uger... kamu salah hari. kenapa mesti kesini pada hari ini. Pak Obit tidak bakalan kasih kamu duit". Uger kecil hanya terdiam mendengar jawaban dari salah satu staff kantor Pak Obit. Ia sedih dan tertunduk diam. Tangan kecilnya meraih kantong kain yang ada di sisi kanan. tapi ia tidak mendapatkan 3 lembar uang kertas. Yang tersisa hanyalah 2 keping koin lima ratusan. padahal jalan yang harus ia tempuh sekitar 15 kilometer untuk bisa mencapai kantor Pak Obit. "Kapan Bapak datang ke kantor, Mbak?" " Wah, aku tidak tahu , Ger. Ia orang yang tidak bisa di tebak." "Coba Lusa" lanjutnya. " tapi aku sudah tidak punya cukup uang , Mbak. Ibu sakit." Mbak Staff itu hanya diam sambil menarik nafas panjang. Ngiris hatinya menyaksikan anak kecil yang ada di depannya. Anak Pak Obit, darah daging bosnya sendiri. Yang lahir dari pacar simpanan. Bahkan untuk meminta uang penyokong hidup, ia nampak bagai pengemis. Hari ini adalah Uger, mungkin besok omi.. anak yang lain dari pacar yang lain.

Kamis, 30 Juli 2009

Hari ini aku diam

Ha..ha...ha... Hampir semua teman-temanku berceloteh dan bergunjing ria. entah itu bergunjing atau apa. tapi yang pasti aku hanya sempat merekam pembicaraan mereka di sela-sela head set yang kupasang ditelingga. Antara lagu dan makna pembicaraan. Tapi yang pasti topik pembicaraan mereka tak jauh dari seputar having sex atau yahhh ML lah. akh, bodo amat... tapi apa ya emang bodo amat. Pikiranku tidak biar berlalu dari kata bodo amat. aku mengikuti alur bodo amat itu dengan pikiran yang terbang melayang sampai kemana-mana.....anjrittttt. Udah deh. Mending aku diam, daripada khasanah itu muncul lagi di benakku dan rasa makin merendah saat remembering mode on lagi. Ukh

Rabu, 25 Maret 2009

Miss,aku bosen...,TeriakOwen.Ia menyepakkan bubur putih yang ada dihadapannya. Mulut nya merengut sambil berkomat-kamit. Kenapa,Wen?,'.Miss Janet kembali bertanya. Nggak enak...gigiku sakit. Miss Janet mengeser lunch box itu dan duduk dekat Owen.Ia tahu anakkecilitu butuh lebih dari sekedar bubur buatan sang mama.