“Aku mau Kenjie Pie lagi”. Marvell merengek pada ibu gurunya. Ia terus saja meminta makanan yang menurutnya sangat enak itu. Kejadian lucu itu terjadi saat Ryan, teman sekelas Marvell, membawa satu kotak biskuit kering berbentuk hati. Ryan yang memang baik hati membagi-bagikan bekal makanannya pada semua teman kelasnya termasuk Marvell.
Mereka sangat menikmati biskuit itu, dan hampir semua murid dikelas mengatakan kalau biskuit Ryan adalah bekal yang sangat istimewa. Walapun begitu mereka tetap kembali pada bekalnya masing-masing dan hanya marvell yang tetap merengek meminta kue itu lagi. Tapi sayang sekali karena dalam sekejap biscuit kering itu sudah habis.
“Marvell, apakah ini pertama kali kamu makan biskuit itu?” . Tanya bu guru sambil memegang kedua lengan Marvell yang kecil. Anak kecil yang giginya sudah ompong dibagian depan itu mengangguk berulang kali. Dan ia terlihat bersunguh-sunguh dengan jawabannya.
“Dan, biskuit itu enak sekali bu. aku mau lagi.. bantulah aku ibu?, katanya sambil mendongakkan kepalanya. Tangan kanan Marvell memegang ujung baju bu guru dan sesekali menariknya. Ibu Guru menatap geli wajah marvell. baru pertama kali ini ia melihat seorang Marvell yang lebih suka melamun dan membayangkan film-film kartun kesukaannya itu sangat menginginkan biskuit pie kering.
“Mm..maukah kamu kembali ketempat dudukmu dan menghabiskan bekal makananmu?” , Pinta ibu guru pada anak kecil itu.
” Tidak mau. Ibu harus janji dulu”
”janji?”
”Ya”
“Sebentar… Sini, duduklah dibangku pink ini , ibu akan berbicara sebentar pada Ryan tentang biskuit itu. Marvell bisa menunggu sebentar?”
“Lalu dengan janjinya?
“kita bicarakan lagi nanti. Oke?”
Marvell mengangguk. Sementara ibu guru berbicara dengan Ryan, Anak kecil yang sedang tergila-gila dengan biscuit pie itu tidak henti-hentinya menjilati jari-jarinya . Ia pasti berharap sisa-sisa biskuit masih bisa ia rasakan, atau setidaknya butiran-butiran gula halus masih tersisa melekat di jari-jarinya. Walaupun Ibu guru sudah melarangnya melakukan hal itu, marvell tetap saja asyik menjilati jari-jarinya.
Sesaat kemudian bu guru kembali pada Marvell. Mata anak-laki-laki itu berbinar cerah. Ia pasti sedang berharap Ibu guru berhasil membawakan biskuit itu untuknnya lagi. Garis bibirnya segera turun, ia menjadi tidak bersemangat lagi saat mendapati tangan gurunya kosong dan tak ada sepotong Kenji Pie lagi untuknya.
” Ibu, aku mau kenjie Pie…”. Marvell, anak 5 tahun itu kembali merengek.
” Marvell, mari kita bicarakan tentang janji. Mau?”, kata bu guru sambil mengambil kursinya dan duduk dekat anak laki-laki itu,” Ryan hanya membawa satu bungkus, kurasa ia sudah cukup adil karena ia mau berbagi dengan semua teman. termasuk kamu”.
Marvell terdiam, bola matanya menatap wajah bu guru tapi bahunya turun sepertia anak yang tidak bersemangat. Gayanya menatap wali kelasnya itu seakan-akan ia meminta lebih dan lebih lagi. Ia berharap jawaban yang lebih dari itu.
“Terus tentang janji?” Tanya Marvell ingin tahu.,” uhh…Ibu, nanti ibu bilang ke sus ya biar aku besok bisa bawa biskuit seperti punya Ryan!”
“Hmm… itukah janjinya?”
”Ya bu guru.. tolonglah. Biskuit itu enak sekali. kalau besok mama mau membelikannya untukku aku pasti akan menghabiskannya dalam sekejab. Biskuit itu sangat enak sekali bu. “ Ocehan Marvell tampak jauh lebih serius dibanding obrolannya tentang tokoh-tokoh kartun yang selalu ia bicarakan setiap kali jam bermain. Ternyata Biskuit itu sudah mengalihkan perhatiannya seratus delapan puluh derajat. Hebat sekali si pie.
“Baiklah, ibu akan coba mengatakannya . tapi berjanjilah untuk mengungkapkan keinginanmu langsung pada mama. Mama pasti akan mendengarkanmu lebih lagi daripada sus.” Setidaknya nasehat itu bisa membantu Marvell agar jauh lebih bisa belajar mengatakan sesuatu langsung pada orang tuanya, karena memang selama ini anak kecil itu selalu menyuruh sus, babysitternya, untuk menyampaikan kepada mamanya.
“Aku tidak mau. Aku lupa”. Kali ini Marvell menjawab agak pelan. Suaranya hampir tidak terdengar lagipula ia bicara sambil menundukkan kepala.
“Kalau kau mau mencoba, ibu berjanji akan mengatakannya pada sus. Mau ?”
Pada akhirnya Marvell setju dengan perjanjian kecil itu. Walaupun hanya tentang biscuit pie, tapi marvell kecilpun harus belajar mengungkapkan keinginannya, terutama pada orang tuanya.
Hari berikutnya Marvell datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Ia langsung mencari bu guru dan menunjukkan kotak makanan perseginya. Bisa ditebak. Isinya penuh dengan biskuit Kenji Pie . Ia terlihat sangat girang dan berjanji akan menghabiskan bekal sekolahnya itu.
“Ibu, apakah jam makan masih lama? aku ingin makan Kenji Pie ku”. Marvell tampak tak sabar menunggu waktunya dan hampir setiap saat ia menanyakan jam makan bersama.
“Tunggulah Mister Kenji Pie!” jawab bu guru dengan sabar sambil menunjukkan jam dinding yag tergantung di pojok depan dinding kelas.,”kalau jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 10 itulah saatnya kau makan Kenji Pie mu. Mengerti?
Marvell mengangguk. Walaupun begitu ia tetap saja menanyakan jam makan bersama pada bu guru. Hampir setiap waktu.
“Enjoy your meal!”, Bu guru member aba-aba pada anak-anak agar mengambil kotak makan mereka. semua anak langsung sigap mengeluarkan makanan mereka . Mereka saling menebak makanan apa yang mereka bawa hari itu. Mama-mama mereka selalu member kejutan di dalam kotak makan mereka. Ryan yang baik hati selalu saja berbagi makanan dengan yang lain, seperti biasa. Ia selalu membawa makanan lebih.
“Jadi, apakah kamu mau berbagi dengan teman-temanmu, Marvell. Seperti Ryan kemarin.”, Tanya bu guru saat membantunya membuka kotak makanannya.
”Tapi aku sangat menyukai makanan ini. dan aku hanya membawanya untukku.”, jawab Marvell sambil memeluk kotak makananannya.
“Ups…Belajarlah berbagi Marvel. Seandainya Ryan tidak memberimu kue pie ini kemarin pasti kamu tidak akan merasakan makanan pie istimewa ini hari ini. Bagaimana?”. Setelah mendengar nasehat bu guru, Si Mister Kenji Pie itu akhirnya mau berbagi dengan teman-temannya walaupun ia harus memotong kuenya menjadi bagian-bagian kecil lebih dulu sebelum ia memberikannya pada teman sekelas. Oh dear Marvell