Minggu, 03 Agustus 2008
Membeli Minarsih
" Berapa si cecunguk itu membeli Minarsih, Pakde?"
Aku tidak tahu seberapa merahnya mukaku saat ini. Rasa pedih terluka memang sangat terasa di balik kulit ariku. Didadaku, api kemarahan terasa meledak-ledak seperti lahar yang keluar dari dapur magma gunung berapi. Panas sekali. Aku merasakannya seakan lahar itu sedang menekan keras kalbuku. Entah kenapa aku menanyakan lagi hal itu, padahal Pakde Truno sudah memberi obat penawar kemarahan siang tadi. Obat kemarahan berupa pil penjelasan tentang Minarsih. Tapi rupanya efek dari obat itu sudah hilang dan sekarang penyakit kemarahan itu kambuh lagi.
Kali ini sumbu api sudah tersulut dengan hebatnya di dalam hatiku, sampai tanganku terasa gatal sekali jika tidak membanting sesuatu. Mataku liar berburu dan tanganku ingin meraih sesuatu. Akhirnya sebuah cangkir beling milik Pakde Truno berhasil mendarat keras didinding tembok. Pecah berkeping-keping. Hatiku sedikit lega. Setidaknya ada sedikit pelampiasan, dan itu yang aku perlukan saat ini. Kali ini mataku tertuju kearah sebuah asbak tanah liat yang tergeletak didekat tangan pakde.
Ini korban selanjutnya, pikirku, tapi rupanya tangan pakde terlalu cekatan meraih lenganku. Sebuah pelampiasan yang gagal dan aku hanya menhela nafas panjang. Ia menepuk pundakku hampir lima kali, "Mbok sing sareh yo Le, sabar..", dan kali ini tangan tuanya sudah menepuk pundakku untuk yang ketujuh kalinya. Entahlah, tapi dalam kemarahanku, aku bisa merasakan katresnan, cinta yang dalam dari pakde, orang tua yang sudah merawatku sejak kecil. Orang tua itu juga yang dipercaya bapak dan ibu untuk merawatku saat mereka membulatkan tekat untuk bertransmigrasi.
" Nanti bapak jemput kalau bapak dan ibu sudah berhasil di Singkawang..". Itu janji bapak sebelum mereka berangkat ke tanah yang baru. Tapi aku sudah semakin membengkak dewasa dan terlanjur mencintai kota ini sebelum bapak benar-benar menjemputku. Aku lebih rela hidup dengan pakde yang sudah mulai mengelendur kulitnya dan berkacamata plus lapis tiga. Hidup yang sudah mengerak hitam dengan lingkungan yang sudah membuatku semakin dewasa. Setidaknya aku bisa berbalas jasa menjaga orang tua keduaku ini. Aku pula yang membuatkan tongkat jalan untuknya sejak tiga tahun yang lalu.
Pakde rupanya mendengar geram yang keluar dari mulutku. Geraman yang agak keras kali ini, hampir sama dengan suara anjing yang melihat kucing melintas tepat di depannya.
Alisku terasa melengkung semakin tajam. Sabar dan sareh, nasehat dari pakde yang baru saja aku dengar terasa terlalu keras untuk kucerna. Pandanganku yang tajam kuarahkan ke muka lelaki tua itu. Tapi hanya sepuluh detik saja dan segera kulempar pandanganku keluar jendela. Terlihat sangat gelap dan menghitam. Warna hitam malam menyiratkan harapan yang kosong untukku.
Dalam kegarangan, aku berusaha bersandar tenang diatas kursi kayu berjalin rotan. Hampir tiga kali aku mengubah posisi dudukku. Rasanya sulit sekali mencari posisi yang nyaman untuk menyangga tubuh lelakiku yang sudah berbobot besar ini. Kurasa aku bertambah kekar dan otot-ototku berkembang tiga kali lebih besar dibanding sebelum 3 tahun yang lalu.
Malam ini terasa pekat, sama pekatnya dengan kopi pahit yang baru saja mengalir di pipa kerongkonganku. hanya seteguk saja. Cangkir kopinku kuletakkan kembali di dekat bungkus rokok bergambar sebuah jarum. kini, sebatang rokok sudah terselip kuat diantara dua bibirku yang sudah sedikit menghitam. kunyalakan pematiknya dan kuhisap batang berasap itu kuat-kuat. Entah berapa batang rokok yang kuhisap hari ini. Aku tidak menghitungnya, tapi setidaknya kopi dan rokok sudah menjadi sahabat terbaikku hari ini.
"Dikontrol ya Le rokoknya..!", tegur Pakde. Kali ini suaranya melemah. Mungkin ia sudah cukup capek menasehatiku hari ini.
"Minarsih itu ndak salah", Ia mengulangi kata-kata yang tadi siang ia ucapkan, "kamu mbok nrimo saja. Terima kenyataan itu, walaupun pahit!".
Minarsih tidak salah? Jelas-jelas dia salah. Perempuan itu menerima Panji yang akan mengikat erat dirinya besok pagi di depan penghulu. Itu berarti sebuah pengkhianatan dan kesalahan besar. Rasanya sudah tak termaafkan. Jiwa kelakianku memberontak dengan hebatnya saat aku mengetahui hal itu.
Tadi pagi. "Haah...". Udara keras keluar bebas dari mulutku waktu Pakde Truno menjelaskan berita itu secara perdana padaku. Tepat sesudah aku menaruh dua koper besar di dalam kamar. Pikiranku terlalu buruk menilai Minarsih saat itu juga. Tentu saja ia lebih memilih Panji, lelaki bertubuh besar berambut lurus kaku. Pria pujaan gadis-gadis desa yang hampir tidak pernah naik sepeda genjot kemanapun ia pergi. Setidaknya motor Honda hitam mulus selalu menemaninya. Atau Pak Sobari, sopir pribadi, yang selalu mengantarnya kemanapun pria lajang itu bepergian.
Betapa teganya wanita yang sudah menjadi dambaan hatiku lebih dari empat tahun. Perempuan yang dulu selalu menemaniku duduk bersama dibawah pohon jambu, dibale-bale depan warung mbok Siti. Wanita yang selalu berbagi gado-gado atau soto ayam buatan Mbok Siti. Tapi kini janjinya hanya dibeli 2 atau 3 juta saja. Nilai yang dianggap cukup besar untuk penduduk di desaku. Aku memang tidak semumpuni Panji. Tetapi aku pasti mampu mengusahakan uang sebanyak itu sebagai mahar. Aku mampu walaupun aku harus bekerja dengan ekstra keras. Uang itu pasti akan kuserahkan dengan rasa hormat pada bapak dan ibu Minarsih. Bukankah aku lelaki sejati. Aku menyebutnya sebagai sebuah perjuangan cinta. Perjuangan yang layak kulakukan demi mendapatkan aura-aura cantik wajah Minarsih.
Kuhisap rokokku dengan lebih kuat. Pikiran dan jiwaku tidak begitu peduli dengan abu yang jatuh sembarangan di meja. Hampir saja abu itu jatuh ke dalam cangkir kopi pahitku, tapi untunglah tangan gelambir pakde cepat-cepat memindahkan perkakas beling itu. Ia begitu cekatan. Spontan pakde menawarkan asbak padaku, tapi aku hanya melirik diam, tak merespon. Pakde mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Minarsih terpaksa menikah, Le." Kata pakde kemudian. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Sejenak pakde tua itu menggeser kursinya. Ia berusaha berdiri terhuyung-huyung. Tangan tuanya dibantu dengan mata tua yang sudah mulai memudar berusaha mencari-cari pegangan yang lebih kokoh untuk menahan raga rentanya. ia berjalan pelan menuju jendela kayu yang tidak begitu jauh dari meja perbincangan itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar