"Pokoknya aku pengen jualan muffin!" Kalimat itu keluar dari mulut Eni dengan nada yang agak keras. Sebuah kalimat yang berhasil mengakhiri pembicaraan sengit antara Herman dan Eni pada minggu-minggu terakhir ini. Herman hanya terperangah dan menatap lesu punggung istrinya melenggang keluar menuju halaman samping, tempat ia menjemur pakaian. Rupanya sederetan kalimat yang panjang dari mulut Herman tidak mampu melunakkan hati Eni, istri yang baru dinikahinya 2 bulan yang lalu. Herman hanya mampu duduk terpekur sambil melihat induk ayam dan lima ekor anaknya yang sedang sibuk mengkorek-korek makanan ditanah. "Ahh, pusing." Herman beranjak dari tempat duduk sembari menggaruk-garuk kepalanya. Rambutnya yang lebat dan tampak tidak teratur terasa mampu menggambarkan kekusutan hatinya saat ini. Menurutnya, permintaan Eni sungguh tidak masuk akal dan tidak perlu dipertimbangkan berkali-kali untuk menggabulkannya. Sebuah toko kue?...ya ampun. Kalimat itu selalu melayang-layang di dalam benak Lelaki tegap berdada lebar itu selama dua minggu terakhir ini.
--------------
Tangan Eni begitu piawai mencampur bubuk coklat dan tepung terigu ke dalam baskom berulir hijau tua itu. Dia tahu dengan pasti perbandingan takaran yang diperlukan untuk membuat kue muffin. Kali ini ia ingin membuat muffin coklat dengan whipped cream diatasnya. Eni, sang pengantin baru, begitu hafal setiap step yang harus dilakukannya. Narita, kawan sekerja Eni sewaktu di Jakarta lah yang menjadi guru terbaiknya. Eni terbiasa membantu Narita mengolah tepung-tepung dan bahan baku kue lainnya. Mereka menyulapnya menjadi kue-kue cup cake yang enak dan cantik. Selama satu tahun tiga bulan ia bekerja di toko kue Nyonya Oni di wilayah peta selatan, Jakarta Barat, Selama itulah Ia diam-diam belajar secara otodidak dari sang guru, maka tidaklah mengherankan kalau pada akhirnya Eni begitu mumpuni. Eni begitu jatuh cinta dengan aneka bentuk dan rasa dari kue-kue kecil dalam wadah kertas itu. Dan kecintaan Eni membawanya pada sebuah impian kecil akan sebuah toko kue kecil berlabel "Muffin Eni". Mimpi disuatu kelak dan di suatu tempat. Dan ternyata hasrat itu bekerja secara luarbiasa dalam kalbunya. Cup cake coklat, cup cake vanila, cup cake orange ataupun berbagai macam cup cake yang lainnya masih saja menari-nari dengan indahnya di dalam kalbu seorang perempuan berdarah sunda ini. Hal itupun masih tetap berlaku walaupun Herman telah memboyongnya ke sebuah pinggiran kota kecil disebelah selatan Pati. Di kota yang berpenduduk jarang inilah Herman harus membangun keluarga barunya. Maklumlah, Ia harus dipindahtugaskan di sana,. Walaupun begitu, Ia senang karena ternyata ia lebih dekat dengan kota asalnya. Pada awalnya Eni begitu keberatan diboyong ke kota kecil itu, tetapi atas nama cinta lah yang telah membuat ia harus mengepaki harta benda yang dikumpulkan sewaktu ia bekerja di kota metropolitan. Sebuah kotak kecil pemberian Narita tidak luput dibawanya dan menempati pojok kecil mobil pengangkut barang yang disewa Herman. "Kotak ini ajaib...bukanya nanti ya, kalau kamu udah sampai di Pati!". Sebuah kalimat perintah yang sangat dipatuhi oleh Eni. Eni tersenyum girang sewaktu ia menerima hadiah kecil dari sahabatnya itu. Ditambah lagi saat ia membuka kotak itu. Cup-cup kertas yang lucu dan berbagai warna, beberapa bahan roti dilengkapi dengan alat-alat cetak kue tersusun rapi didalamnya. Ia terlihat begitu sumringah dan bertambah semangat untuk mewujudkan impiannya. Hanya saja ia harus meminjam mixer dan oven dari Ibu Tarsih, tetangganya. Kemampuan Eni untuk membayangkan sebuah toko kue kecil di pingir kota semakin menguat, apalagi ia akan merasa sangat bangga ketika melihat jejeran kue-kue berumah kertas warna-warni itu di dalam etalase kaca. Tangan Eni sendiri yang akan yang akan mengatur tiap tiap detil isi toko itu, bahkan ia berjanji untuk selalu ramah melayani pelanggan. "Ini kota kecil, En...Pinggiran lagi. Roti muffinmu (baca:mufin) itu kok kayaknya nggak cocok dijual disini. Bahannya saja mahal dan susah nyarinya. Nanti kalau kamu jual harganya juga pasti mahal. Mbok diganti dengan jajanan pasar saja. Aku malah setuju'", Kata Herman agak sedikit keras. " Muffin (baca:mafin), bukan mufin, Mas. ...., ledek Eni,"Tapi, Kue ini langka di sini , Mas. Coba... mas cari di warung roti pojok sana. Nggak akan ada!", tambah Eni dengan sengitnya. " En, awalnya akan laku karena orang-orang pasti penasaran. Tapi setelah itu..... ya sudah, mereka nggak akan beli lagi. Lha wong udah tahu rasanya'", tambah Herman.Eni begitu berang setiap kali menginggat pertengkaran itu dengan suaminya. Kenapa lelaki yang menikah dengannya itu tidak mendukung ide cemerlangnya. Sore itu Eni begitu sebal melihat air muka Herman. Ia hanya menyeriangai saja. Entah menyeringai atau mentertawakan Eni. Herman hanya melintasi dapur saat Eni hendak memasukkan kue cup cake nya ke dalam oven. Perempuan itu tetap saja cuek. Ia mengambil tabloid wanita yang baru ia beli siang tadi. Mungkin lebih baik membaca resep-resep makanan daripada melihat sikap Herrman yang tidak dapat dicernanya itu. "Eniii.... bau apa ini?", Herman berteriak. Eni melompat gesit dari tempat duduknya. Spontan ia menyambar serbet kumal yang ada di meja. "Ya ampun, mas...muffinnya gosong. Oven bu Tarsih bocor, ya? Herman hanya mampu mengulum senyumnya. Ia tidak berani tertawa terbahak-bahak di depan istrinya. Entah perlu berapa lama untuk meyakinkan kekasih jiwanya itu. Sebenarnya perasaan bangga akan kelincahan Eni sedang beradu keras dengan perasaan geli di dalam dadanya. Yah, semoga Eni mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar