Kamis, 07 Agustus 2008
Beternak Madu Dalam Mulut
Beternak madu didalam mulut. Aku ingin menyebut mulut dan seluruh isinya dengan penangkaran madu lebah hutan. Mungkin itu sebutan yang paling pantas untuk mulut mas Nino.
Bagaimana tidak, mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata yang manis. Sangat manis. Aku kadang terpesona dengan gayanya berbicara. Kurasa tidak hanya gayanya berbicara, tapi isi dari tiap pesan yang ia ingin sampaikan untuk orang lain, termasuk aku tunangannya.
Kali ini kata-katanya menyengat tepat di hatiku. Rasanya sangat menghentak dan aku hampir pingsan. Ia melamarku untuk menjadi istrinya dengan rangkaian kata-kata yang sangat luarbiasa panjangnya, tapi tidaklah membosankan. Aku sampai terngangga, bahkan mulut kukatupkan setelah ia selesai dengan rangkaian seribu makna.
"ya, aku mau", Hanya itu jawaban atas sejuta kata dan pertanyaan yang ia sampaikan. Aku tak sepandai Mas Nino. Mungkin karena kepandaiannya itu, Ia sering mendapat tugas sebagai presenter di tiap-tiap presentasi kantor. Dan sepertinya proyek-proyek lapangan selalu berhasil dimenangkan oleh kantor Mas Nino. Ia memamg piawai dalam hal ini.
Urat wajah Mas Nino terasa sangat menghangatkan darah didalam hatiku. Aku merasa sangat nyaman karena setidaknya jawabanku yang terlalu pendek tepat mengenai sasaran. Kelihatannya Mas Nino puas dengan jawaban itu. Aku Lega.
Beberapa hari yang lalu, Ema , teman kantorku melihat Mas Nino sedang berdiri menghadap etalase kaca rendah di sebuah toko emas. Ia seperti melihat cincin emas. Sebuah cincin emas bermata dua. Tapi informasi Ema sedikit memberiku keyakinan kalau malam ini, di restaurant urban ini, Ia akan menyelipkan sebuah cincin emas di jariku Aku tak sabar menunggu.
Gundah gulana. Kurasa aku tak akan memiliki alasan untuk merasakan hal itu. tapi aku tetap menunggu sampai Mas Nino mengucapkan mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. Ruapanya tidak. entah kenapa tidak. sampai acara makan malam berlalu, tidak ada awal kata tentang cincin.
Jadi kapan kira kira?
senin pagi. Jullia, anak baru dikantor datang dengan muka yang berseri-seri. Ia menunjukkan jari manis yang sudah berhias cincin cantik.
"wah, selamat ya. siapa ni tunangannya?
"Mas nino, karyawan di PT. ANTA." jawab anak baru itu singkat," Dia perayu yang hebat lho, dan melamarku kemarin setelah memutuskan tunangannya di sebuah Restoran Urban"
Terang saja Ema langsung memandang mukaku yang sudah berwarna merah
"What?" jadi itu makan malam terakhir. Baiklah si peternak lebah dalam mulut. Kita berakhir sudah. Tak ada Nino dan aku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar