Selasa, 21 Oktober 2008
Mesin penghembus angin
"Yan, lem biru aja...lempar beli yang baru, ha..ha..ha...", seru Mbak Oki pada Yanti yang sedang terlihat sangat sebal dengan kipas anginnya.
Bagi Yanti, sore itu adalah puncak kegeramannya pada alat penghembus angin itu. Bagaimana tidak? Ia sudah mencoba memperbaikinya berkali-kali, menepuk-nepuk "pantat"nya agar berhenti mengeluarkan suara decitan dan mau berputar, tapi kali itu sang mesin tetap ngambek dan tidak mau bekerja sama dengannya. Yanti yang terlihat kelelahan dari kantor, terlihat makin payah dengan masalah kipas angin itu.
Gadis jawa itu memang sudah lama bersahabat dengan sang kipas, sekitar dua tahun. Dan selama itu mereka adalah pasangan simbiosis menguntungkanisme. Karena walaupun saling membutuhkan, Yanti lebih sering mengeruk keuntungan dari mesin berbaling-baling itu.
Ada sedikit hal yang cukup mengelikan. Yanti dan kipas angin itu masih mau berdamai selama tiga minggu sebelum mesin itu menunjukkan tanda-tanda pemberontakan. Ia mulai berdecit seperti tikus kejepit. Kala itu hati Yanti sudah mulai menebak ketidak beresan itu. Tapi Ia berusaha merayu sang mesin dengan membuka kap penutup "pantat" dan meniup-niup kotoran yang mungkin menyelip diantara kabel-kabel kecil. Saat decitannya mulai memekakkan telingga, Yanti berusaha menepuk-nepuk kap penutup mesin. Aneh bin ajaib, hanya dengan "action" ringan itu, sang baling-baling mau berputar kembali dengan wajar. Yanti terliat girang dan bakal memuji benda itu berkali-kali. Sebagai rasa hormat, setiap tiga hari sekali, ia akan membersihkan benda itu dengan lap basah. Saat ia mengelus benda itu, hilang akal, kadangkala ia harus bercakap-cakap dengan benda itu.
"Le, mbok nyala ya, Aku ndak punya uang untuk mengirimmu ke tukang reparasi. Cah bagus manut sama aku ya”.“Lu kayak orang gila, Yan.”, Celetuk Mbak Oki.
“Sst, diam kau... nanti ngambek lagi temanku ini. Aku ini baru merayu si kipas ini!.
jawab Yanti dengan logat Batak yang dibuat-buat. Mbak Oki hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat sikap Yanti.
“Kalau direparasi habis berapa ya, Mbak?” tanya Yanti pada Mbak Uut, teman kosnya yang lain.
”Ha..ha..ha. mending beli yang baru, Yan. Ongkos reparasi jaman sekarang hampir sama dengan harga kipas angin yang baru. Udah deh… bener tu kata Mbak Oki. lem biru aja!”, jawab temannya yang jauh lebih tua itu.
Yanti hanya merasa sedikit gondok dengan jawaban-jawaban dan celotehan teman-teman ngobrolnya. Tapi dirasa-rasa, usul teman-temannya itu memang benar. Walaupun Ia sudah berusaha membuka mesin kipas angin itu dan memperbaiki dengan sebatas kemampuannya saja, tetap saja kipas angin itu ngambek. Saat ini ia sudah merasa kasihan mendengar tangisan ngeak-ngeok teman sejatinya. Ia sudah berjasa menemaninya di saat hawa Jakarta tidak bersahabat atau di kala ia kehabisan obat nyamuk. Alat ini sedikit banyak telah membantunya mengusir hewan-hewan bersayap dan bermoncong bayonet itu,
Yanti hanya mampu memandangi kipas angin itu selama beberapa waktu. Ia tidak lagi mampu menolong sahabat baiknya itu. Kini tubuh besi kipas itu tidak berpakaian kap lagi. Mesinnya sudah mengangga terbuka. Untuk untuk reparasi terakhir ini Yanti tidak mampu mengembalikannya kemabali ke bentuk semula. Hanya sekrup-sekrup kecil dan sebatang obeng berujung kembang yang terserak di lantai. Kipas angin sayang, kipas angin malang. Maaf sahabat, aku harus mencari pengantimu. Selamat tinggal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar